Tari Serimpi Kesenian Budaya

4 min read

Tari Serimpi merupakan tari tradisional yang cukup klasik dari Jawa Tengah. Dianggap sebagai tari klasik tarian ini telah mencapai kristalisasi keindahan yang tinggi dan sudah ada sejak zaman sosial politik masyarakat serta terus tumbuh di kalangan istana. Sejak zaman keratonan,

Tarian Serimpi sudah memiliki kedudukan yang sangat istimewa di keraton-keraton Jawa. Bahkan, begitu istimewanya tarian serimpi tidak dapat disamakan dengan tari pentas yang lain karena dianggap sifatnya yang begitu sakral. 

Pada masa keratonan Jawa, tarian serimpi hanya boleh dipentaskan oleh para penari yang dipilih oleh keraton secara langsung.

Tarian serimpi memiliki tingkat kesakralan yang sama dengan pusaka atau benda-benda yang melambang kekuasaan raja yang sejak era Jawa Hindu.

Ketika tari ini dipetnaskan, bisa dibilang tidak selalu memerlukan sesajen seperti pada pagelaran Tari budaya. Namun, tari ini lebih mengedepankan iringan musik dengan mengutamakan paduan suara gabungan dari menyanyikan lagu tembang-tembang Jawa dan alat musik tradisional.

Berikut ini, akan dibahas mengenai Sejarah tarian serimpi lengkap dengan perkembangan, makna, fungsi, dan gerak tarinya.

Sejarah Tari Serimpi

sejarah tari serimpi

Awal mula Tari Serimpi adalah pada masa kejayaan Kerajaan Mataram, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Agung.

Tarian serimpi dianggap sakral karena hanya boleh dipentaskan dalam lingkungan keraton saja untuk ritual kenegaraan atau peringatan kenaikan tahta sultan muda.

Pada tahun 1775, Kerajaan Mataram pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Perpecahan kerajaan mataram berimbas pada Tarian Serimpi,

sehingga terjadi perbedaan gerakan, meskipun inti dari tariannya masih sama. Pada tahun 1788, tarian serimpi muncul di lingkungan keraton Surakarta. 

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1920, latihan tari klasik dimasukkan ke dalam mata pelajaran taman-taman siswa di Yogyakarta, dalam perkumpulan tari, karawitan Krida Beksa Wirama.

Setelah Indonesia merdeka, tarian serimpi masih terus diajarkan pada beberapa akademi seni tari dan karawitan pemerintah, khususnya yang berada berada di Solo Dan Yogyakarta.

Makna Tari Serimpi

makna tari serimpi

Pada awalnya tari ini bernama tarian Serimpi Sangopati yang berarti calon pengganti raja. Tapi, Serimpi sendiri juga mempunyai arti perempuan.

Pendapat yang lain seperti menurut Dr. Priyono mengartikan serimpi sebagai akar dari kata “impi” atau mimpi yang ketika menyaksikan tarian lemah gemulai sepanjang 45 menit sampai dengan 60 menit, maka para penonton seperti dibawa ke alam mimpi.

Perkembangan Tari Serimpi

perkembangan tari serimpi

Pertunjukan tarian serimpi biasanya berada di awal acara karena berfungsi sebagai tari pembuka. Selain itu, tarian serimpi juga ditampilkan ketika ada pementasan wayang orang.

Hingga saat ini, Tarian Serimpi masih dianggap sebagai seni yang adhiluhung sebagai salah satu pusaka keraton.

Seiring perkembangan zaman dan perpindahan kekuasaan, Tarian Serimpi ikut banyak mengalami perkembangan. Salah satu bentuk perkembangannya adalah durasi waktu pementasan.

Ada beberapa varian baru dari tarian serimpi dengan durasi pertunjukan yang semakin singkat.

Contohnya, pada tarian Serimpi Anglirmendhung yang durasinya hanya 11 menit atau tarian Serimpi Padhelori yang durasinya hanya 15 menit. Padahal, setiap jenis tarian serimpi pada mulanya memiliki durasi sampai dengan 1 jam. 

Selain waktu pagelaran, tarian serimpi juga mengalami perkembangan dari segi pakaian. Pakaian penari pada awalnya adalah seperti pakaian yang dikenakan oleh pengantin putri keraton.

Pakaian tersebut dilengkapi dengan dodotan dan gelung bokor sebagai hiasan kepala. Untuk saat ini, kostum atau busana penari sudah berubah menjadi pakaian tanpa lengan gelung rambut yang berhiaskan bunga ceplok. Pada bagian kepala juga disertai dengan hiasan bulu burung kasuari. Baca Juga Tari Kecak

Perkembangan tari serimpi juga terlihat dari pembagian tarian ini ke dalam beberapa jenis. Setiap jenis tarian diciptakan di dalam lingkungan keraton.

Jenis Tari Serimpi

Beberapa jenis tarian serimpi antara lain tarian serimpi china, tarian serimpi padhelori, tarian serimpi merak kasampir, tarian serimpi gendangwathi, tarian serimpi sangupati, tarian serimpi anglir mendung dan tarian serimpi ludira madu.

  • Tari Serimpi China merupakan tarian keraton yang berasal dari keraton Ngayogyakarta. Tarian serimpi ini tergolong tari putri yang mendapat pengaruh dari budaya China, khususnya pada kostum yang dikenakan oleh para penari. 
  • Tari Serimpi Padhelori merupakan jenis tarian serimpi yang diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwana VI. Jenis tarian ini dilengkapi dengan peralatan berupa pistol dan keris kecil (cundrik). Tarian serimpi padhelori diciptakan untuk mengangkat kisah Menak yang sangat terkenal dengan kisah perang antara Dewi Sirtupelaeli dan Dewi Sudarawerti.
  • Tari Serimpi Merak Kasimpir merupakan jenis taran serimpi yang diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwono VII yang terkenal dengan perlengkapan pistol dan panah (jemparing). Daya tarik tarian serimpi merak ini adalah penggunaan instruman musik berupa gendhing merak kasampir.
  • Tari Serimpi Gendangwati merupakan jenis tarian serimpi karya Sultan Hamengkubuwono V dengan ciri khas dipentaskan oleh lima orang penari. Tari ini menceritakan hubungan kekuatan ghaib dari kisah Angling Darmo. Pembeda tarian serimpi gendangwati dengan jenis tarian serimpi lainnya terletak pada properti tambahan berupa sebatang pohon dan seekor burung mliwis putih.
  • Tari Serimpi Sangupati merupakan jenis serimpi yang diciptakan oleh Sultan Pakubuwono IV dan dipatenkan sebagai tari keraton oleh Pakubuwana IX. Tarian serimpi ini mengisahkan sang pati yang artinya adalah calon pengganti raja. Tari serimpi Sangupati dipentaskan oleh dua penari wanita dalam ketika pemberian pemberian takhta kepada sultan muda. Namun, tarian serimpi sangupati pernah menjadi konflik karena melambangkan kematian bagi tentara Belanda, sehingga pernah dicekal dalam waktu yang sangat lama.
  • Tari Serimpi Anglirmendhug merupakan tarian yang diciptakan oleh Mangkunegara I. Jenis tarian serimpi ini cukup populer hingga saat ini. Namun, terjadi perubahan pada jumlah penari, yang semula dimainkan oleh 7 orang saat ini hanya 4 orang penari.
  • Tari Serimpi Ludira Madu merupakan tarian serimpi yang diciptakan oleh Sultan Pakubuwana V. Tari ini diciptakan ketika Beliau menjadi putra mahkota Keraton Surakarta. Tujuan dari penciptaan tarian serimpi Ludira adalah untuk mengenang Adipati Cakraningrat dari Pamekasan, sang ibu yang masih keturunan Madura. 

 

Fungsi Tari Serimpi

fungsi tari serimpi

Jika merujuk pada fungsi utama dari tarian serimpi, maka tari ini adalah tarian sakral dan pusaka keraton yang difungsikan untuk acara pernikahan dan pengangkatan sultan. Tarian serimpi pada mulanya berguna sebagai pembuka acara keraton ketika ada pengukuhan sultan atau raja baru. Tapi, saat ini tarian serimpi hanya berfungsi sebagai hiburan dan dipentaskan oleh masyarakat umum.

Gerakan Tari Serimpi

gerakan tari serimpi

Tarian serimpi secara umum mempunyai gerakan dengan tempo yang sangat halus. Para penari cenderung akan bergerak dengan sangat pelan.

Kondisi ini dipengaruhi oleh iringan yang digunakan. Seni tarian serimpi adalah bagian dari warisan budaya Jawa, sehingga dalam menampilkannya diiringi oleh gamelan Jawa. Ketika para penari memasuki pentas, iringan musik gending sabrangan ikut dimulai.

Selanjugnya, diikuti dengan iringan alat musik gendhing ageng atau tengahan dan gendhing ladrang. Para pemain musik cenderung memberikan ritme musik yang lembut sehingga gerak tari menjadi sangat pelan.

Namun, ada adegan yang membuat gerakan menjadi sedikit cepat, yaitu pada adegan perang yang diiringi dengan ayak-ayakan dan srebegan.

Gerakan kepala, kaki, dan tangan para penari harus dilakukan secara harmonis sehingga pesan yang ingin disampaikan kepada para penonton dapat tersalurkan.

Setidaknya, ada 3 istilah gerakan dasar yang digunakan dalam tarian serimpi yaitu maju gawang, gerakan pokok, dan mundur gawang. Maju Gawang berarti gerakan berjalan saat penari memasuki arena untuk pentas tari.

Gerakan ini disebut juga dengan istilah kapang-kapang karena mengharuskan penari untuk berjalan belok ke kiri atau ke kanan sesuai dengan pola lantai yang dikehendaki.

Gerakan maju gawang akan diakhiri dengan duduk yang mengartikan penari siap untuk menari dan melakukan gerakan poko.

Gerakan pokok merupakan gerakan inti yang menampilkan adegan sesuai dengan alur cerita yang akan disampaikan.

Misalnya, jika cerita yang diusung adalah peperangan, maka properti yang digunakan adalah keris atau panah.

Setelah gerakan pokok berakhir, maka penari akan melakukan gerakan mundur gawang sebagai tanda akan keluar dari panggung pagelaran dan berakhirnya pentas tari.

Dalam membawakan tarian serimpi, pola lantai yang digunakan secara umum adalah pola horizontal atau garis lurus. Para penari akan membentuk barisan berjajar, lurus, dan tidak berpindah.

Jadi, penari tari serimpi hanya akan berada pada satu posisi dari awal hingga akhir pagelaran. Penggunaan pola lantai lurus karena dinilai sangat sesuai dengan tempo serta gerakan tarian serimpi yang lembut dan gemulai.

Tari Serimpi

Tari Topeng Kesenian Budaya

admin
4 min read

Kunci Dasar Gitar

admin
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *