Tari Jaipong Kesenian Budaya Indonesia

4 min read

Tari jaipong adalah salah satu jenis tarian daerah yang mencerminkan pergaulan tradisional masyarakat Sunda, Jawa Barat. Hingga saat ini, tarian jaipong masih tetap populer dan dilestarikan oleh masyarakat Sunda yang telah tersebar di seluruh Indonesia.

Sebagai salah satu identitas kebudayaan masyarakat Sunda, tarian jaipong atau Jaipongan tetap eksis dalam beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat.

Tari Jaipong

Tarian jaipong juga menjadi salah satu bagian dari misi kesenian ke manca negara. 

Tarian Jaipong memberikan pengaruh yang besar terhadap kesenian-kesenian lain yang ada masyarakat Sunda. Misalnya, seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, dan kacapi jaipong.

Bahkan, hampir semua pertunjukan rakyat Jawa Barat disertai dengan tari ini. Tarian jaipong terus dikreasikan seiring perkembangan zaman.

Salah satunya perpaduan musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong atau lebih dikenal dengan kesenian Pong-Dut yang sangat populer saat ini. 

Berikut ini, akan di ulas mengenai bahasan untuk bisa mengenal lebih dekat kesenian tarian Jaipong, baik sejarah, perkembangan, maupun keunikan nya.

Sejarah Tari Jaipong

sejarah tari jaipong

Tarian jaipong adalah karya seorang seniman asal Karawang, yaitu H. Suanda yang mulai mengenalkan tari ini pada tahun 1960. Namun, tarian ini baru bisa diakui sebagai kesenian daerah yang besar setelah dimodifikasi dan diperkenalkan kembali oleh Gugum Gumbira, salah satu seniman tari asal Bandung.

Sebelum bentuk seni pertunjukan tarian jaipong atau jaipongan muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakanginya. Di Jawa Barat, tari pergaulan merupakan pengaruh dari

Ballroom yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tidak terlepas dari dari keberadaan tari ronggeng dan pamogoran.

Saat ini, tari ronggeng tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi hanya untuk hiburan atau cara gaul masyarakat Sunda yang modern.

Keberadaan tari ronggeng dalam seni pertunjukan adalah seabgai daya tarik untuk mengundang simpati kaum pamogoran, yaitu para penonton yang mau ikut aktif dalam acara kesenian. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Sunda sejak tahun tahun 1916.

Seni pertunjukan rakyat ini sangat sederhana karena hanya didukung oleh unsur-unsur yang terbatas seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong.

Tari ketuk tilu tidak memiliki pola gerak yang baku dan hanya menggunakan kostum penari yang sederhana sesuai dengan cerminan masyarakat kala itu.

Saat ini, keberadaan kesenian tersebut sudah sangat memudar. Selanjutnya para pamogoran beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan.

Meskipun sebenarnya pola tari yang disuguhkan masih banyak kemiripan dengan tari ketuk tilu. Selanjutnya, di daerah Karawang mulai mengenalkan seni baru yaitu,

Topeng Banjet yang masih cukup digemari hingga saat ini. Namun, tarian topeng banjet masih menampakan pola-pola tradisi yang mengandung unsur gerak bukaan, pencugan, nibakeun, dan banyak mengadopsi gerak mincit.

Selanjutnya, dari gerak-gerak tersebut menjadi cikal bakal dan dasar penciptaan tari Jaipong yang ada saat ini. Beberapa gerak-gerak dasar tarian Jaipong terpengaruhi oleh gerakan tari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor, dan Topeng Banjet. 

Perkembangan Tarian Jaipong

perkembangan tari jaipong

Salah satu jenis tarian jaipong yang merupakan karya jaipongan paling pertama mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari Daun Pulus Keser Bojong dan Rendeng Bojong.

Kedua jenis tarian jaipong ini bisa dipentaskan dalam bentuk tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dalam perkembangan tarian jaipong sendiri tidak terlepas dari peran para penari yang ikut serta melestarikannya.

Beberapa penari jaipong yang muncul bisa menarik hati penikmat seni tari. Misalnya, Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, Pepen Dedi Kurniadi, dan lain sebagainya. 

Ketika tarian jaipong kenalkan pertama kali secara nasional, sempat menjadi perbincangan dan kontroversi. Banyak masyarakat yang menilai tari ini tidak layak dipentaskan karena gerakan para penari wanita yang dinilai terlalu erotis dan vulgar.

Nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, sebagai kreator untuk menciptakan kreasi tarian Jaipong dengan mengurangi beberapa kesan erotis dan vulgar.

Gugum Gumbira juga berhasil mendorong tarian Jaipongan untuk bisa pentas di TVRI stasiun pusat Jakarta pada tahun 1980. 

Dampak dari kepopuler tarian jaipong ternyata bisa meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan, atau berbagai macam perayaan. Tarian Jaipong telah berhasil memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap para penggiat seni tari. Apalagi untuk saat ini, banyak jenis tarian daerah yang mulai hilang dari perhatian. 

Fungsi Tari Jaipong

fungsi tari jaipong

Fungsi tarian jaipong sangat beragam, selain menjadi media komunikasi antarmasyarakat, juga menjadi wahana untuk menghibur masyarakat seiring banyak budaya asing yang masuk ke indonesia. tarian jaipong seakan menjadi ikon tarian dari jawa barat.

Keunikan Tari Jaipong

keunikan tari jaipong

Tarian Jaipong merupakan sebuah kesenian karya putra bangsa yang sangat besar. Pada awal kemunculannya, tarian jaipong hanya sekedar sebagai hiburan saja.

Secara perlahan, tarian jaipong bisa menjadi kesenian tradisional khas Bandung. Bahkan, saat ini tarian jaipong sadah sangat dikenal sebagai salah satu kesenian utama Provinsi Jawa Barat.

Berbagai acara seperti upacara adat, pentas seni, peringatan hari Nasional didukung dengan tarian Jaipong untuk membuat masyarakat merasa terhibur. Baca juga Tari Serimpi

Saat ini, tarian Jaipong telah secara resmi menjadi icon dan identitas seni Jawa barat karena memiliki banyak keunggulan. Berikut ini, beberapa penilaian terhadap keunikan tarian Jaipong.

1. Kostum Penari

Sebagai ikon kesenian Jawa Barat, Tarian Jaipong memiliki keunikan dari kostum atau busana yang dikenakan ketika para penari tampil dalam pementasan.

Sebenarnya, tidak ada standar khusus untuk kostum tarian jaipong. Namun, dari setiap kostum yang digunakan saat ini cenderung bercorak antara jaipongan tradisional dan gaya baru.

Pakaian tradisional tetap diutamakan untuk memperkuat kesan dan identitas kesenian daerah. Beberapa jenis kostum yang digunakan para penari ketika mementaskan tari jaipong yaitu :

  1. Sinjang, yaitu sebuah kain panjang yang dikenakan sebagai celana panjang.
  2. Apok (kebaya), yaitu baju yang dikenakan sebagai busana wanita pakaian yang dilengkapi dengan pernak-pernik dan ornamen. 
  3. Sampur (selendang), yaitu properti utama para penari berupa kain panjang yang dikenakan pada leher. 

2. Iringan Tarian Jaipong

Pada dasarnya, tarian jaipong sangat khas dengan iringan alat musik tradisional degung, seperti kendang, gong, saron, kecapi, dan kecrek. Namun, saat ini pementasan tarian jaipong telah dimodifikasi dengan alat-alat musik pengiring elektrik seperti organ. Dulu, iringan suara manusia sebagai latar sering digunakan ketika pentas sedang berlangsung. Saat ini, beberapa kreasi tarian Jaipong menggunakan beberapa jenis lagu untuk mengiringi gerak tari.

3. Gerakan Tari Jaipong

gerakan tari jaipong

Makna dari tarian jaipong sebenarnya adalah untuk merepresentasikan wanita Sunda yang memiliki sifat santun, ramah, halus, gemulai, namun sedikit genit terhadap lelaki.

Maka dari itu, dari setiap gerakan akan tampak energik, lincah, dan berani. Beberapa gerakan pada tarian jaipong juga mewakilkan lekuk tubuh yang indah dan keanggunan dari wanita Sunda yang sedang menari.

Dengan adanya makna yang ingin disampaikan dari tarian Jaipong ini, maka ada dua kategori gerakannya, yaitu Ibing Pola dan Ibing Saka.

Ibing Bola atau tarian berpola merupakan gerakan tari yang terstruktur, biasanya dilakukan secara berkelompok. Rangkaian gerak pada ibing pola bisa dibedakan menjadi 4 bagian,yaitu :

  • Bagian Bukaan, untuk gerakan pembuka saat tarian jaipong baru saja dimulai,
  • Bagian Pencugan, yaitu gerakan inti yang diiringi dengan lagu dan musik, biasanya tempo yang digunakan cukup cepat.
  • Bagian Ngala, yaitu titik pemberhentian dari rangkaian tarian.
  • Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan dari satu gerakan tari ke gerakan lainnya.

Sementara pola gerakan ibing saka atau tarian acak merupakan penyajian pola tari yang paling populer di kawasan Subang dan Karawang.

Pola tari ini lebih sering disebut juga sebagai Bajidor atau Jelama Baroka (Barisan Orang-orang Durhaka). Pola gerak tari ini bisa dibilang tidak memiliki kreasi khusus, sehingga penari cenderung mengeluarkan gerakan secara bebas.

Namun, adanya pola ibing saka membuat kesan pergaulan lebih dekat karena tarian jaipong dengan pola ini dipentaskan dengan posisi penonton sejajar dengan penari. Bahkan, tidak jarang banyak penonton yang ikut serta menari (Pamogoran).

Makna Tari Jaipong

makna tari jaipong

Makna tarian jaipong sebenarnya adalah untuk merepresentasikan wanita Sunda yang memiliki sifat santun, ramah, halus, gemulai, namun sedikit genit terhadap lelaki.

Maka dari itu, dari setiap gerakan akan tampak energik, lincah, dan berani. Beberapa gerakan pada tarian jaipong juga mewakilkan lekuk tubuh yang indah dan keanggunan dari wanita Sunda yang sedang menari.

Dengan adanya makna yang ingin disampaikan dari tarian Jaipong ini, maka ada dua kategori gerakannya, yaitu Ibing Pola dan Ibing Saka.

Gambar Tari Jaipong

gambar tari jaipong

gambar tari jaipong

Tari Jaipong

Tari Topeng Kesenian Budaya

admin
4 min read

Kunci Dasar Gitar

admin
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *