Kebudayaan Suku Asmat

Kebudayaan Suku Asmat adalah salah satu suku di Papua. Suku ini dikenal sebagai pengikut yang andal dan menghasilkan ukiran kayu yang unik.

Menurut buku “Suku Plum Dunia dan Kebudayaannya”, penduduk suku Asmat juga terbagi menjadi dua bagian, yang tinggal di pesisir dan di pedalaman. Gaya hidup, struktur sosial, dan kehidupan sehari-hari kedua kategori Asmat ini sama sekali berbeda.

Kebudayaan Suku Asmat

kebudayaan suku asmat

Penduduk wilayah pesisir terbagi menjadi dua bagian yaitu suku Bisman dan suku Simai. Penduduk Asmat memiliki ciri fisik yang unik, seperti kulit gelap dan rambut keriting. Tinggi rata-rata suku Asmat wanita sekitar 162 cm, sedangkan pria 172 cm.

Selain ukiran, suku Asmat juga terkenal dengan rumah tradisionalnya (yaitu rumah Jew). Pada rumah adat (disebut juga rumah tunggal) terdapat senjata suku Asmat, seperti tombak, panah berburu, dan busur panah.

Tidak hanya siapa pun yang bisa menyentuh noken. Pasalnya, token tersebut disimpan di rumah adat suku Asmat. Noken dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Semua kegiatan adat dan pertemuan adat di dunia alam diadakan di kediaman adat ini, persis seperti balai desa.

Rumah Jew terbuat dari kayu dan dibangun menghadap ke sungai. Panjang rumus konvensional bisa mencapai puluhan meter. Atap rumah adat terbuat dari anyaman daun sagu atau daun lontar. Penduduknya mengenyam bersama-sama sampai selesai.

Pakaian adat suku Asmat yaitu jumbai. Dalam judul buku “Seni dan Budaya Indonesia” oleh R. Rizky dan juga T. Wibisono disebutkan bahwa laki-laki memakai penutup kepala, rompi, celana berpohon dan kalung berupa gigi, tulang binatang, dan cangkang.

Bagi para wanita mengenakan hiasan kepala yang dihiasi bulu burung cendrawasih, baju rumbai, dan juga rok berumbai. Jangan lupa kenakan kalung yang terbuat dari cangkang, gigi dan kaki binatang.

Untuk tari Asmat merupakan tari perang yang disebut tari Tobe. Tarian terkenal ini diiringi oleh alat musik berbentuk gendang yang disebut Tifa.

Tradisi Suku Asmat

kebudayaan suku asmat

Beberapa suku Asmat tinggal di dalam, sementara yang lain tinggal di pesisir.

Suku-suku yang tinggal di pantai mencari nafkah dengan memancing, sedangkan suku pedalaman mencari binatang.

Oh ya, suku Asmat disebut juga sebagai suku misterius.

Salah satunya, suku ini memberikan ritual khusus bagi orang-orang penting yang telah meninggal dunia.

Seperti kita ketahui bersama, Suku Asmat menggunakan pohon untuk diukir. Selain itu, ukiran suku Asmat sangat rapi dan halus.

Namun suku pedalaman seperti suku Asmat juga sudah beradaptasi dengan sahabat di masyarakat modern. Dari memahami negara Indonesia hingga memahami teknologi.

Padahal, seni ukir suku Asmat sudah terkenal di dunia. Berbagai ritual adat suku Asmat masih dilakukan.

Mereka tetap mempertahankan budaya, tradisi dan adat istiadat nenek moyang mereka, tetapi juga menunjukkan budaya ini kepada dunia dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Mbis Suku Asmat

Orang meninggal juga akan dibuatkan Mbis (ukiran patung). Karena mereka mengira jiwa orang mati masih berkeliaran di dalam rumah. Patung asmat merupakan media yang menghubungkan kehidupan dunia dengan kehidupan dunia spiritual. Melalui seni ukir, suku Asmat tetap menjaga kontak dengan leluhurnya.

Mulai dari dayung, tameng, genderang, busur, dll., Berbagai ukiran digabungkan menjadi satu dan kemudian dinamai menurut nama orang yang baru saja meninggal. Dalam nama ini sebagai pengingat nama almarhum. Hampir semua ukiran Asmat dikerjakan oleh laki-laki. Kerajinan tangan atau ukiran mereka biasanya digunakan untuk keperluan upacara, namun ada pula yang digunakan untuk keperluan lain.

Mengemas berbagai bentuk nilai misterius menjadi mahakarya ukir yang unik dengan detail ukiran yang rumit menjadi alasan mengapa ukiran Asmat terkenal di seluruh dunia dan diminati oleh pecinta seni. Jika Anda tertarik untuk mengoleksi ukiran Asmat, ada baiknya jika Anda berkunjung ke desa suku Asmat, agar bisa menyaksikan bagaimana mahakarya itu lahir.

Sebaran Suku Asmat

suku asmat

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Suku Asmat menyebar dari pesisir pantai hingga ke pedalaman. Kelompok masyarakat Asmat hidup di pesisir Laut. Kehidupan di suku Asmat pesisir sedikit lebih mudah karena dekat dengan sumber air dan juga dekat dengan makanan seperti ikan dan binatang buruan.

Sedangkan kebudayaan suku Asmat yang tinggal di pedalaman terletak di Pegunungan Jayawi Jaya. Gunung ini sangat berat karena merupakan hutan belantara. Dibandingkan dengan suku Asmat yang hidup di wilayah pesisir, sumber daya alam di sekitarnya lebih terbatas.

Misalnya batu-batu yang biasa kita temukan di jalanan dianggap biasa saja. Bagi suku Asmat, batu-batu tersebut bisa jadi merupakan barang berharga bahkan bisa dijadikan mas kawin. Karena sulit menemukan bebatuan di daerah (rawa) tempat mereka tinggal.

Bagi mereka, batu memiliki banyak manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Dengan batu-batu tersebut, Suku Asmat bisa membuatnya menjadi palu, kapak dan alat bertahan hidup lainnya.

Ciri Fisik Suku Asmat

Secara fisik, suku Asmat memiliki ciri khas yang bisa dikenali. Ras ini berkulit hitam dan berambut keriting. Dibandingkan dengan suku Papua lainnya (baik pria maupun wanita), suku Asmat tergolong tinggi. Tinggi rata-rata sukus asmat adalah sekitar 162 cm, sedangkan tinggi rata-rata suku asmat pria sekitar 172 cm.

Sama seperti orang-orang dari suku bangsa lain di Indonesia, Suku Asmat juga suka berhias diri. Namun, mereka menggunakan metode sederhana yang menggunakan bahan-bahan yang ada di lingkungan alam.

Saat menghias diri sendiri, suku ini menggunakan tanah berwarna merah untuk menghasilkan warna merah. Sedangkan untuk putih, mereka menggunakan cangkang yang dihaluskan. Kemudian untuk warna hitam, mereka menggunakan kentang tumbuk dan arang.

Saat menggunakan, campurkan bahan-bahan ini dengan sedikit air. Biasanya suku Asmat menggunakan ketiga warna tersebut untuk mewarnai tubuh mereka.

Mata Pencaharian Suku Asmat

Suku Asmat yang tinggal di daerah pesisir biasanya berburu ikan dan udang dan di hutan mereka berburu binatang untuk dimakan. Mereka juga menggunakan sagu sebagai makanan pokok, seperti kebanyakan orang Indonesia yang memasak nasi setiap hari.

Pada saat yang sama, Suku Asmat yang hidup di pedalaman dan kesehariannya berburu di hutan. Mereka memangsa berbagai binatang, seperti kasuari, babi hutan, ular, dll. Mirip dengan pesisir, suku Asmat bagian dalam juga menggunakan sagu sebagai makanan pokok mereka.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Suku Asmat memanfaatkan sepenuhnya lingkungan sekitarnya. Hal tersebut terlihat dari kebiasaan memancing atau berburu binatang dihutan. Selain dua hal tersebut, suku Asmat juga melakukan kegiatan berkebun. Metode yang mereka gunakan untuk memancing, berburu dan berkebun bersifat tradisional dan sederhana.

Mata pencaharian suku Asmat mencerminkan cara hidup mereka, dan mereka selalu merasa sebagai bagian dari alam. Hal inilah yang menyebabkan mereka senantiasa mempertahankan dan menghormati alam.

Bahkan pohon tempat mereka tinggal dianggap sebagai citra diri. Akar pohon dianggap sebagai lambang kaki, batang pohon adalah tangan, dan buah sebagai kepala. Bahkan masyarakat modern harus meniru cara hidup ini untuk lebih melindungi alam.

Bahasa Suku Asmat

Suku Asmat menggunakan bahasa dalam kelompok “Bahasa Subregional Selatan”, yang oleh para ahli bahasa diklasifikasikan sebagai bahasa Papua bagian selatan.

Bahasa Suku Asmat diklasifikasikan menurut wilayah pemukimannya, yaitu pesisir sepanjang sungai, hilir, dan hulu.

Kebudayaan Suku Asmat

Tinggalkan komentar