Kumpulan Contoh Cerpen Singkat

Contoh cerpen adalah susunan prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung langsung dan padat dengan tujuannya dibandingkan karangan-karangan fiksi yang lain lebih panjang, seperti novella dan novel.

Misal contoh singkatnya, cerita pendek yang berhasil menyandarkan metode sastra seperti tema, bahasa, tokoh, plot, dan insight secara lebih luas serupa dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam beraneka jenis.

Contoh Cerpen bersumber dari anekdot, sebuah konteks yang digambarkan singkat dan cepat tiba pada tujuannya, serupa dengan paralel penata penceritaan lisan. Berikut ini kumpulan tentang contoh cerpen singkat yang banyak sekali di sukai banyak orang.

Kumpulan Contoh Cerpen Singkat

contoh cerpen


Contoh Cerpen Singkat Persahabatan – Arti Sebuah Persahabatan

contoh cerpen

Arti Sebuah Persahabatan

Bagiku sebuah persahabatan adalah sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku, punya satu sahabat itu lebih baik dari pada punya banyak sahabat tapi tidak pernah mengingatkan kita dalam kebaikan.

Bukan cuma itu, kami bisa saling bertukar pikiran dan saling menasihati. Karena kita tanpa sahabat takkan mempunyai arti apa-apa.
Hari sudah semakin sore aku dan Yuni mulai beranjak meninggalkan tempat ini.
Tidak terasa hampir dua jam aku menghabiskan waktuku bersama Yuni sahabatku.
Seperti inilah kami dimana setiap pekan kami mengadakan kajian bersama, di sinilah kami berkumpul bersama saudara kami. Termasuk Yuni.

Aku dan Yuni berkenalan sejak setahun yang lalu. Kami sama-sama masuk di tempat kajian yang sama. Semenjak hari itu, persahabatan kami terjalin hingga detik ini. Hari ini sebelum kami berdua pulang, aku dan Yuni saling bercanda satu sama lainnya. Agar tali silaturrahim aku dan Yuni bisa terjaga.

“Yun, pulang yuk,” ajakku.
“Hum, iya. Tapi, Istirahat dulu lima menit,” jawabnya ke arahku.
“Emang kenapa?” tanyaku bingung.
“Ya, Istirahat ajalah, Mila.” Yuni kembali memintaku.
“Ohh, ok deh,” sambungku.
“Ok, sih ok, Mila. Tapi … enggak segitu juga kali natapnya?”
Yuni ptotes dan memanyunkan bibirnya.
“Eh … Yuni? Ada yang salah …?” tanyaku bingung.
“Lo, kek mau telan gue aja,” candanya melihatku.
“Haah? Menurutku biasa aja.” Aku melihat Yuni.
“Sorry, gurau je. Hahaha!”
Melihat wajahku, Yuni sontak menertawakanku.
“Ah kamu, kirain betulan,” sungutku.
“Yuk, balik.” Yuni pun menarik tanganku.
“Thanks, Mila. Karena lo mau menemaniku satu-harian ini.”
“Nyantai aja, kali. Yuni.” Aku tersenyum ke arahnya.
“Gue tuh bersyukur punya sobat seperti kamu, Mil.”
“Aku, juga Yuni,” balasku.
“Mila, kapan-kapan kita ke sini lagi ya?”
“InsyaAllah, Yuni.”
Aku dan Yuni pun berpisah, “Yun, kita ketemu besok ya?”
Kulihat ia mengangguk dan aku pun mengambil jalan lain.

Sahabat itu sejati itu takkan pernah meninggalkanmu dan ia akan selalu ada meski yang lain menjauhimu.
Ia selalu mendukung kita, tanpa harus menjatuhkan kita. Sahabat yang baik adalah yang selalu membetulkan kesalahan kita dan tidak membiarkan kita terjerumus ke dalam dosa.

Ketika sahabat pernah melukai kita jangan sekalipun marah atau membencinya karena dirinya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Ketika sahabat pernah berbuat kesalahan ingatlah bahwa dirinya hanyalah manusia biasa.
Sebaliknya kita harus saling menerima kekurangan karena kita pun tak luput dari kesalahan.
Jadilah sahabat yang selalu memberi tanpa mengingat dan selalu menerima tanpa melupakan.

Karena seorang sahabat takkan pernah membiarkanmu dalam kesepian dan ia selalu mendoakanmu tanpa kita ketahui.
Sejatinya persahabatan itu tercipta agar kita saling merangkul, melengkapi dan memperbaiki.

Ingatlah sahabat itu ibarat tangan dan mata. Ketika tangan terluka mata menangis dan saat mata menangis tanganlah yang akan menghapusnya.


Contoh Cerpen Pendidikan – Hafalan 30 Juz

contoh cerpen

Hafalan 30 Juz

Senja itu suatu pesan masuk lewat aplikasi chat. Dari putriku, Raissa. Kubaca pesannya.

[ Ma… Icha ingin hafalan Al- Quran. Saat ini Icha telah hafal 15 juzz. Doakan, ya, Ma, mudah- mudahan tahun depan Icha sanggup hafal 30 juzz. Icha pengennya, kalau sudah hafal 30 juzz, selaku hadiah ulang tahun buat bunda….]

Hatiku terenyuh membaca pesan anak semata wayangku. Pingin segera membalas pesannya, akan tetapi kulihat ia sedang lagi mengetik. Satu lagi pesan juga masuk.

[ Icha ingin jadi hafizah, Ma. Ingin menaruh tiara di ubun- ubun bunda. Icha ingin bangun rumah di surga buat bunda.]

Tambahnya diiringi emoji 3 tanda cinta.

Begitu kuterharu dan tidak kuasa menahan bulir- bulir hangat mengalir kencang di kedua pipi ini. terpukau sejenak sebelum membalas catatan putriku.

[ Nak, bunda amat mensupport cita- citamu menjadi hafizah. bunda minta, kamu bukan cuma menghafalnya saja, tetapi juga mesti mampu mengamalkannya dengan perilaku dan tingkah lakumu. Ilmu serta akhlak wajib berjalan dengan sepadan.]

Kataku berjuang mengingatkannya supaya tetap memelihara sikap dan mempunyai budi pekerti yang bagus.

[ Iya, Ma, Icha minta maaf tidak bisa menciptakan impian bunda. Icha belum sanggup membahagiakan bunda….]

[ Nak, sebenarnya bunda masih amat menginginkan Icha meneruskan sekolah. Cuma tinggal satu tahun lagi saja, Nak. Cuma itu yang bunda minta demi masa depan Icha.

bunda amat memikirkan kamu, paling tidak bilamana bunda telah lanjut usia, Icha mampu hidup mandiri, memiliki keahlian buat memperoleh karier. bunda tidak mau Icha hidup susah menjadi buruh seperti bunda.]

Bujukku, tidak tahu sudah ke sekian kalinya berkeinginan pada anak wanita kecilku yang genap berumur 6 belas tahun.

Saya menunggu buat beberapa saat, akan tetapi tidak ada jawaban.

Hubunganku dengan anakku salah satunya ini benar sudah renggang. Semenjak beberapa bulan kemudian ia menyudahi buat berhenti sekolah. Ketetapan yang membuatku amat berkecil hati, kecewa, serta terpukul.

Bagaimana tidak? Saya telah berupaya buat memenuhi kebutuhannya, tanggung jawabku sebagai orang tua tunggal semenjak ia bayi setelah saya dan bapaknya berpisah. Cuma saya yang mencari nafkah untuknya, tidak pernah sepeser pun meminta duit pada mantan suamiku sebelum dan setelah kita berpisah.

Saya meninggalkan anakku pada saat merantau ke kota, sebagai seorang buruh industri demi masa depan gadis tersayang dan saya telah berikat janji, bakal memberikan yang terbaik untuknya lebih- lebih dalam pendidikan. Kupilihkan sekolah ter- favorite untuknya di sekolah keahlian milik swasta supaya ia memperoleh sarana belajar yang layak, walaupun memerlukan biaya yang lumayan banyak.

Sebelum ia tumbuh remaja, saya menitipkannya pada kedua orang tuaku selama 6 tahun, semenjak ia berumur satu tahun. Sesudah lulus SD, saya mengirimnya pada suatu yayasan pondok pesantren di wilayah kami. Sesudah 4 tahun, anakku mengakhiri buat pergi pondok. Ketetapan yang ia ambil, bersamaan dengan tes semester akhir Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) kelas 2.

Sesudah itu, anakku tiba- tiba berubah amat drastis serta yang membuatku marah adalah ia mengakhiri buat berhenti sekolah tanpa sebab yang menurutku masuk akal. Sementara itu, ia cuma memerlukan satu tahun lagi buat lulus.

Bukan perkara otaknya, karna saya tahu ia anak yang cerdas.

Ia cuma berkata pada neneknya– yaitu ibuku– bahwa bukan cuma ia saja yang putus sekolah. Tetapi, saya semakin tidak paham apa penyebabnya? Begitu banyak pertanyaan dan rasa penasaran yang tidak sempat kuungkapan kepadanya.

Waktu itu saya amat marah dan tidak ingin menghubunginya lagi serta yang membuatku bertambah marah sesudah ia mengakhiri buat tinggal bersama bapaknya. Sekian tahun lamanya, saya yang menafkahi tanpa kuduga ia tega memilih jalur hidupnya sendiri.

Tentu saja, itu cuma berlangsung selama beberapa bulan saja. Tanpa saya meminta ia kembali buat bermukim bersama kita. Akan tetapi, semua itu tidak mengganti apa pun. Ia tetap pada pendiriannya. Apalagi pada saat mengenali keadaan kesehatan putriku mulai kritis. Saya tidak pernah beranggapan, ia mengidap penyakit lemah jantung.

Hari itu, sejak pagi hujan amat deras, dengan suara pelan ia melantunkan ayat- ayat suci Al- Quran di depanku. Tidak, bukan pada hari ulang tahunku. Melainkan, sekian banyak hari sebelum malakul maut menjemputnya. Putriku sudah menunaikan nazarnya walaupun tidak bersamaan dengan hari jadiku.

Hatiku terasa hampa, teringat akan ucapannya mengenai mimpi yang sempat dirasakannya. Ia berkata jika ia berangan- angan menggunakan gaun yang bagus di hari pernikahannya. Akan tetapi, hanya terdapat mempelai perempuan tanpa pengantin pria yang mendampingi.

” Icha memandang semua orang senang hari itu, namun cuma bunda yang nampak amat sedih,” ucapnya dengan suara serak.

” bunda harus janji, ya, jika Icha pergi, bunda wajib jaga kesehatan. Icha memohon maaf tidak dapat jaga bunda, tidak bisa mewujudkan impian bunda. Tetapi Icha cinta bunda… Icha sayang sekali sama bunda,” isak putriku.

Saya cuma menangis seraya menciumi telapak tangan dan mukanya. Sungguh, saya tidak mampu mengatakan apa- apa. Tentang terberat dalam hidupku, bukan bekerja sepanjang hari, akan tetapi ketika gadis semata wayangku pergi menghadap Rabb- nya.

Setiap sore menjelang malam sesudah kepergiannya, saya sering mencium aroma bunga wangi merebak yang berawal dari kamar anakku. Harum bunga kasturi, bunga surgawi. Aroma itu, terhirup selama 7 malam berturut- turut.

Saat ini, saya cuma mampu menatapi pusaranya. Air mata ini mencair tanpa henti. Mengelus tanah basah dengan taburan bunga yang masih segar. Tanganku terasa berat melepas batu nisan bertuliskan Rissa Ainurrahma. Gadis kecilku. Pelita kalbu dalam gelapnya rindu.

Beribu kalimat mau kuucapkan untuknya, akan cinta, kasih, serta sayang yang teramat besar seseorang bunda buat si gadis tersayang. Pernyataan itu cuma terpendam dalam sanubari. Selamat istirahat sayang, bunda sungguh menyayangimu. Akan tetapi, Tuhan lebih sayang kamu, Nak!

Demikian Terimakasih


Contoh Cerpen Cinta – Cinta Memerlukan Perjuangan

contoh cerpen

Cinta Memerlukan Perjuangan

“Aku…”
Mbak Dinda mengernyitkan dahi, menungguku berkata jujur.
“Assalamua’laikum, haaaiii haaiii,” salam dari sahabatku Rosi memecah keteganganku di kamar ini, sontak saja aku dan mbakku terperangah kaget.
“Rosi,” sambutku sambil menghamburkan diri berjalan ke arahnya. Lalu memeluknya erat.
Sudah lama sekali ia tak menjadi tempatku mengeluh dan menerima support, setelah ibu berubah, Rosi pun tak kunjung menemuiku. Bahkan ke kampus pun jarang sekali. Pasalnya ia tengah sibuk berbisnis bersama kekasih barunya.
“Tadi aku ke rumah kamu, tapi kata Ibu kamu di rumah sakit, ya aku langsung ke sini deh,” jelasnya.
Aku megangguk bahagia.
“Ups, tadi kayaknya kamu sama mbak Dinda lagi ngomong serius?” Ia melepaskan dekapanku dan memegang bahuku lalu sedikit memiringkan kepalanya menatap mbak Dinda.
“Em, oh iya.” Aku sedikit kecewa karena Rosi mengingatkan kembali moment tegang yang terjadi beberapa menit yang lalu.
Kukaburkan lagi keheningan kami di ruangan ini.
“Yuk Ros.” Kuajak Rosi mendekati mbak Dinda.
“Mbak Dinda, aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa kepada keluarga, Mbak,” ucapnya sambil mengelus kaki mbak Dinda yang masih berselonjor.
Mbak Dinda mengangguk.
“Eh, Mbak makan dulu aku suapin ya,” kataku sambil membawakan hidangan rumah sakit di atas meja samping mbak Dinda. Mudah-mudahan dia melupakan pertanyaan itu.
“Nggak mau, ah.”
Mbak Dinda bersikap manja. Mungkin karena masakannya yang nampak hambar.
“Oh, ya Mbak. Ini aku bawa buah-buahan.” Rosi mengeluarkan satu parsel kecil.
“Nah kalau ini, mbak mau nih, seger kayaknya nih,” seru mbak Dinda bersemangat.
“Tapi, Mbak emang nggak apa makan buah ini?” Telunjukku menempel di buah mangga yang terlihat agak muda.
“Kamu ini, Ros. Ngirim buah tuh yang masak apa? Kasihan orang sakit dikasih mangga yang tanggung masak kayak gini.” Aku menggerutu sambil membolak-balik buah tersebut.
“Ya ampun, tadi kata si abang tukang buahnya ini manis.”
“Kamu nggak percayaan nih ya aku kupas buahnya.”
Beberapa detik kemudian, jelas terlihat warna daging buahnya berwarna orange tanggung.
“Awas, pulang dari sini aku tegur deh.” Rosi merasa tertipu.
“Ish, nggak perlu debat, sini Mbak mau banget buahnya. Kayaknya bisa jadi obat pusing tuh.”
“Serius mbak?” tanya Rosi kegirangan.
“Sini,” pinta mbak.
Aku pun tak bisa menolak permintaan mbakku. Benar saja ia begitu lahap memakan buah tanggung masak itu. Aku dan Rosi ngilu berdua melihatnya, tidak ada kemasaman diwajahnya. Sungguh seperti orang yang sudah menunggu lama makanan tersebut.
“Hm…lumayan pusingku agak tertantang,” katanya setelah mengeksekusi buah tersebut.
Suara langkah suster masuk ke ruangan mbak Dinda.
“Maaf, keluarga pasien, ini ada obat yang harus dibeli di apotek depan Rumah Sakit ini. Tolong segera ya,” tegas suster itu sambil memberikan kertas resep kepadaku.
“Oh. Baik.”
Suster pun berlalu pergi setelah mengecek tensi pasiennya.
“Mbak aku tinggal dulu ya.”
“Ikuuut,” rengek Rosi.
Kami pun berjalan ke apotik tersebut. Apotiknya penuh, kami harus antre,
kami pun memilih untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Bye the way, gimana hubungan kamu sama mas Ilham?”
“Ya begitu…..”
Kujelaskan panjang lebar tentang permintaan mas Ilham dan kemarahannya tadi sore.
“Ya ampun, Ndaaaah. Aneh aku sama kamu, selalu saja memikirkan perasaan orang lain. Ini moment kamu, dimana kamu harus mampu berjuang dan berkorban untuk cinta kamu.”
“Kamu nggak paham berada di posisiku, Ros,” ucapku lirih.
“Paham kok, gini ya. Kamu nggak perlu khawatir dengan perasaan keluarga kamu. Dengan tegasnya kamu memberi tahu dan mengakui hubungan kamu dengan Mas Ilham, lambat laun mereka akan mengerti sendiri dan menerima kalian. Nah, kalau kamu nya memble kayak gini. Ya udah mendingan kamu putusin saja tuh. Kasihan diberi PHP terus sama kamu. Nanti, nanti. Inget ya pacarmu itu laki-laki, jarang menggunakan perasaannya. Sekalinya tancap pikiran, ya sudah bye selamanya.”
Aku semakin tertunduk. Mencerna semua saran sahabatku.
“Dari tadi pesanku belum juga dibalasnya.” Kumainkan layar HP melihat kembali centang yang dari tadi masih berwarna abu.
“Ya iya lah, nanti kalau pacarmu minta kamu jujur lagi. Ayo lah, buktikan kalau kamu juga mau berkorban untuk cinta kalian. Aneh. Dulu aja sangat mengidolakan dia, lha sekarang kamu seakan-akan membiarkannya pergi perlahan. Please jangan selemah ini lah sahabatku.”
Ia melingkarkan tangannya meraih bahuku dari samping.
“Bentar, Ros. Aku coba hubungi dia via telpon. Pinjam HP kamu lah biar dia angkat telponnya.”
“Nih.”
30 detik menunggu sambungan terhubung. Akhirnya kekasihku mengangkatnya.
“Halo Ros.”
“Mas…ini aku, Mas maafkan aku, aku janji, asal kamu mau memaafkan dan menemuiku, aku akan ajak kamu bertemu keluargaku dan mengakui hubungan kita. Please.”
Telpon masih tersambung, namun ia belum saja berkata apa pun.
“Mas…”
“Kita lakukan besok.” Singkat jawabnya. Tanpa basa-basi ia menutup sambungan.
Tidak ada manusia yang sempurna. Orang sebaik dia pun mempunyai kelemahan. Ya. Mas Ilham adalah pria humble namun tak mampu meredam emosi, cepat sekali marah lebih tepatnya emosian.
Cinta pertamanya saja tak dapat ampun darinya. Sehingga akhirnya mereka memilih tak bersama lagi.
Mataku berkaca-kaca. Dengan penuh kehangatan Rosi memelukku lagi.
“Sabar, itu tandanya dia sayang. Nah kamu sempat ragu kan sama ketulusan dia, inilah bukti sejati bahwa dia benar-benar mencintaimu, Kalau dia nggak, dia pasti mau-mau aja disurung menghibur mbakmu.”
Kuusap bulir bening yang hampir jatuh. Rosi memang sahabat yang paling bisa membuatku terharu dengan nasihat-nasihatnya. Ia selalu membuatku setingkat lebih kuat dan tegas.
Nomor antrean dipanggil, dengan cepat Rosi mewakiliku untuk mengambilnya.
“Allahuakbar Allahu akbar.” terdengar sayu suara adzan di masjid Rumah Sakit.
“Ros kita sholat lah, sekalian lewat ya.
“Oke.”
***
Shalat wajib telah terpenuhi. Pengambilan obat dari apotik di sebrang sana pun sudah dilakukan. Setelah meminum obat, mbak Dinda tertidur pulas, mungkin karena efek obat tidur yang terkandung di dalamnya.
“Kamu sendirian tunggu mbak Dinda?” bisik Rosi.
“Iya, besok aku kuliah sebentar, jadi ya cuma malam aku bisa tunggu di sini. Besok pagi Ibu sudah gantian lagi datang.”
“Oke. Tapi kalau ada apa-apa gimana?”
“Nggak apa-apa.”
“Aku pulang atau ikutan nginep ya?” Ia menempelkan telunjuk di dagunya.
“Terserah kamu, kalau kata aku sih nggak perlu repot-repot.”
“Yakin kamu nggak butuh aku?” nadanya seperti ingin aku ikhlaskan.
“Iya, tenang saja.”
“Ya sudah, aku pulang dulu deh. Antar yuk.”
“Yuk.”
Kami berjalam melewati lorong sampai ke halaman depan rumah sakit.
Tiba-tiba berhentilah mobil di depan kami. Mobil Ustadz Fikry. Beliau keluar dari mobil dan menyapaku.
“Sstt, siapa tuh?”
“Emm..” jawabku tersenyum kecil.
“Awas kamu ya, belum cerita nih.” Telunjuknya bergerak-gerak mengawasiku. Ia berjalan mundur, menjauh dan melambaikan tangannya.
***
“Ustadz ngapain ke sini lagi?”
“Kamu sendiri?”
“Em iya,” fikirku jangan bilang kalau dia mau menemaniku. Apa aku kege-eran ya.
“Aku temani deh.”
Tuh kan.
“Takutnya ada apa-apa, boleh nggak?”
“Iya. Tapi aku berani kok. Bener.”
Kucoba meyakinkanya agar aku tidak terjebak kedekatan bersamanya.
“Oke lah, kamu belum makan kan? Nih aku bawa makanan untuk kamu.”
Ya ampun Ustadz tampan ini begitu perhatian, sikapnya lembut tidak seperti….
Jangan deh, jangan sampai aku membandingkan dengan kekasihku yang tengah marah. Jelas sikapnya jauh. Mas Ilham juga lembut jika tak sedang marah.
Agar segera ia pulang, kuterima saja pemberiannya. Satu kotak makanan berlogo restoran.
Namun, ketika tanganku dan tangannya masih menempel di kotak makanan tersebut, Tanpa diduga Mas Ilham hadir di hadapanku dan Ustadz Fikry.
Tentu saja aku merasa tak enak. Begitu pun Ustadz Fikry yang sama kaget dengan kehadirannya.
Reflek tanganku dan tangan ustadz melepas kotak itu bersamaan.
Bruk.
Kotak makanan tersebut pun jatuh di hadapan kami bertiga.


Contoh Cerpen Motivasi – Motivasi Semangat Hidup

contoh cerpen

Motivasi Semangat Hidup

Kisah Semut dan Lalat

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah.

Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.

“Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya.
Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat.

Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca.

Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan.

Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan.

Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati.
Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.
Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?”

“Oh, itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.”

Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?”

Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.”

Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius.

“Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini.”

Pelajaran sederhana dari kisah diatas
Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda.
Semoga ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari cerita islami ini.


Contoh Cerpen Pengalaman – Pengalaman Pertama

contoh cerpen

Pengalaman Pertama

Terlihat Khusnul, Aila Mira, Maya dan Ainun duduk di teras rumah Aila. Tak lama kemudian mereka pun saling tukar cerita. Khusnul mulai membuka percakapan, “Eh, apa kalian-kalian semua punya pengalaman saat berkenalan sama cowok, nggak?”
Aila, Ainun, Mira, dan Maya menggeleng, “Belum pernah. Emang kenapa?” tanya Aila ke Khusnul.
“Hum–”
“Pasti, lo punya ‘kan!” sergah Maya memotong ucapan Khusnul.
“Kok, lo tahu?” Khusnul sedikit heran.
“Biasanya tuh yang ngomong duluan, tuh pernah ngalamin,” sela Mira.
“Hehe!” Khusnul tersipu malu. Tapi, sesaat dia bergidik jika mengingatnya.
“Kenapa muka lo kek lihat hantu, Nul,” tegur Ainun.
“Sebenarnya gue itu belum lama kenalan sama cowok. Tapi, idih amit-amit!” Khusnul seketika merinding.
“Emang, kenapa?” Maya sedikit penasaran.
“Cerita dong, cerita dong,” bujuk Aila dan yang lainnya.
“Hum–”
“Hayo, kita pengen dengar,” rengek Mira.
“Ok, gue cerita.”
Aila, Mira, Ainun dan Maya memperbaiki posisi duduknya dan mendengarkan cerita pengalaman Khusnul berkenalan dengan cowok. Khusnul kembali mengingat kejadian belum lama ini dia alami.
“Gini, ceritanya.”
—–
‘Wah ada cowok nih? Eh cakepnya mirip Dilan? Kenalan, ah! Kali aja gue bisa jadi gebetan dia.’ Khusnul bermonolog dan mendekati cowok itu.
“Gue Khusnul kenalin!” Khusnul pun mengulurkan tangan.
Cowok itu membalas uluran tangan Khusnul dan tersenyum.
‘Waow macho juga ni cowok.’ Sesaat Khusnul menatapnya.
‘Eh nih cewek manis pisan.’ Ternyata si cowok pun diam-diam tersenyum.
Khusnul pun melirik si cowok, ‘Eh tapi gue kok nyium sesuatu?’
Khusnul mengendus-ngenduskan hidungnya mencari sesuatu yang menyengatnya, semakin lama bau itu semakin tercium. Si cowok pun melirik Khusnul, “Nah lo … ketahuan kalo lo ternyata ngelirik gue juga?”
Tanpa sadar si cowok itu mengangkat tangannya, “Uwek! Pantes. Baunya nyengat. Eh, jangan bilang kalo lo … udah setahun kagak mandi!”
“Kok tahu? Eh lo ngintip, ya? Hayo ngaku!” Dengan pedenya si cowok itu ngomong tanpa merasa risih.
Khusnul menutup hidungnya dan mulai menjauh dari cowok itu, “Geeran! Mending gue ngintip kucing gue daripada ngintip lo! Baunya ngalahin bau pete’! Bahkan melebihi! Nyesel gue!”
Khusnul meninggalkan cowok yang ada di hadapannya. Namun, si cowok mengejar Khusnul. Tiba-tiba, si cowok nyungsep di got. Khusnul pun sontak tertawa, “Hahaha! Cucian deh lo! Dah jatuh, eh jatuhnya di got, hahaha!”
”Awas, lo! Gue doain semoga lo juga jatuh!” Cowok itu teriak.
“Heleh! Kagak mungkin!” Khusnul balas teriak.
Karena kurang berhati-hati tanpa terduga, Khusnul juga terjatuh dan si cowok itu melihat, “Tuh ‘kan bener? Lo … juga jatoh! Hahahaha!”
Mendengar cowok itu menertawakan dirinya, Khusnul tidak tinggal diam, dia lalu mengambil dos dan menutup kepalanya.
“Hahahaha!”
”Awas, lo!” Cowok itu lupa kalau saat ini kepalanya tertutup saat dia mau mengejar Khusnul dan dia kembali terjatuh di got.
“Bloon, sih! Makanya tuh dos kudu diambil dulu baru ngejar gue. Nah, jatoh lagi ‘kan! Hahaha! Udah jatuh eh jatuhnya di got yang sama.”
Akhirnya Khusnul meninggalkan si cowok yang sudah dua kali jatuh ke dalam got. Sementara si cowok badannya semakin bau tercebur di got.
“Hahahaha!”
Aila, Ainun, Mira dan Maya sontak tertawa setelah mendengar cerita Khusnul panjang lebar.
“Sepertinya pengalaman lo itu punya kenangan tersendiri. Tuh buktinya lo masih mengingat sampai hari ini,” goda Maya.
“Apaan! Justru gue trauma,” oceh Khusnul.
“Pengalaman pertama begitu menggoda ketemu cowok mirip Dilan … sayang keteknya, bau,” ejek Maya.
“Hahahaha!” Mereka kembali menertawakan Khusnul.
Karena tidak tahan terus digoda, Khusnul meninggalkan mereka ber-empat.


Contoh Cerpen Remaja – Wasiat Jodoh

contoh cerpen

Wasiat Jodoh

Satu
“Kali ini, ayah harap kamu menurut. Jangan ngeyelan, kamu sudah bukan remaja lagi.”
Ayah meninggikan suara. Kali pertama aku tak mungkin bisa mengelak. Mau tak mau harus menuruti keinginannya yang lebih mirip perintah itu.

“Oke, Yah!” ucapku dengan tenang. Aku meraup oksigen dan mengembuskannya perlahan. “A-aku turuti kemauan Ayah. Tapi, tidak dalam waktu dekat. Biarkan aku selesaikan kul—”

“Kamu bisa sambil jalan menyelesaikannya. Toh, tinggal skripsi saja.” Ayah memotong ucapanku.
“Yah. Ayah tahu sendiri aku ini kayak gimana. Nggak fokus, Yah. Bisa-bisa skripsiku nggak kelar kalau ada suami nanti,” sanggahku sedikit merengek, agar Ayah mau melunak.

Su-suami? Sontak kututup mulut begitu menyadari perkataanku barusan. Ya Allah, menyebut kata itu saja membuat hatiku berdesir tak karuan. Bagaimana jika benar-benar terjadi, menjadi istri seorang pria asing yang tak pernah kukenal sama sekali.

Pria yang telah memutih sebagian rambutnya itu terdengar menghela napas, lalu mengembuskan perlahan. Ia menunduk sembari kedua tangannya bertumpu pada pinggiran sofa. Aku masih menunggunya mengeluarkan suara.

Detik berganti menit, suasana di ruangan empat kali empat meter ini semakin menyesakkan. Serasa berada di luar planet, padahal tempat ini begitu luas untuk dua orang. Kutatap Ayah yang masih bergeming, entah apa yang dipikirkannya.
“Yah!” cetusku akhirnya.

Ayah tampak terkejut dengan panggilanku. Ia mengangkat kepala, menatap dengan tatapan yang tak bisa kupahami.
“Gimana?” imbuhku.

Satu-satunya orang tua yang masih kumiliki itu kembali menghela napas pendek, lalu segera mengempaskannya sedikit kasar. “Baiklah. Ayah beri waktu kamu selesaikan dulu kuliahmu. Tapi … kamu harus bertemu dan bertunangan dulu dengan Tama.”

Aku baru saja membuka mulut hendak protes lagi saat Ayah berdiri, lalu berucap, “Jangan membantah lagi, keputusan ayah sudah bulat.”

Tanpa melihat ke arahku, Ayah melebarkan langkah menuju teras rumah. Tak memberi kesempatan untuk berkata-kata lagi. Ah, rasanya ingin sekali kabur dan tak kembali pulang.

Namun, aku cukup lega. Ada kesempatan untuk mengubah keputusan ayah. Takdir seseorang siapa yang tahu? Aku percaya, hasil tak akan pernah mengkhianati usaha.
🖤
Sejak ibu meninggal sepuluh tahun yang lalu, ayah menjadi sangat posesif padaku. Semua kegiatan dibatasi, terutama jika bersama laki-laki. Abang ketigaku bahkan didaulat sebagai sopir pribadi yang mengantar dan menjemput ke mana pun.

Awalnya kupikir semua yang ayah lakukan itu wajar saja, sebagai bentuk tanggung jawabnya melindungiku. Tak seorang pun orang tua ingin anak-anaknya salah langkah, bukan? Terlebih anak perempuan sepertiku, yang ditinggal ibu saat baru saja memasuki masa transisi dari anak-anak ke fase remaja.

Semakin lama hatiku tak nyaman. Ada rasa tertekan dan terkekang dengan sikap ayah. Namun, perlakuannya akhir-akhir ini membuatku merasa sedikit bernapas lega.

Seminggu yang lalu, aku tak sengaja mendengar perbincangannya dengan Bang Cio, abang ketigaku. Percakapan itu lebih terdengar sebagai sebuah interogasi terselubung.
“Io, adikmu sudah punya pacar belum?” Suara Ayah terdengar serius.

Bang Cio menjawab dengan cepat, “Siapa, Yah. Rida atau Daffa?”
“Rida!”
“Lah, ya belumlah. Kan dilarang Ayah. Tahu sendirilah, itu anak idealis banget,” jawab Bang Cio. Nada bicaranya terdengar tegas.

Aku yang mendengar jawaban Bang Cio dari dalam kamar hanya bisa cekikikan. Rasanya ingin keluar dan mengucapkan terima kasih padanya. Lagipula, Ayah aneh sekali, dulu melarangku bahkan sekedar berteman dengan laki-laki dan kini malah mempertanyakan status pacar.

Cukup lama senyap mendera di luar sana. Aku hendak keluar saat tiba-tiba ayah kembali bersuara.
“Ayah khawatir Rida menyimpang. Dia udah dua puluh tiga tahun dan belum ada satu pun cowok yang datang main ke rumah nyari dia.” Nada suaranya terdengar parau.

Kuurungkan niat membuka pintu. Aku masih menunggu tanggapan Bang Cio, tetapi ia tak kunjung bersuara.
“Terus, itu si Nara, temennya yang tomboi itu. Ayah kok takut lihat dia tiap hari nempel sama adik kamu,” lanjut Ayah.
“Ya nggak tahu, tanya aja sendiri sama anaknya,” timpal Bang Cio.

Aku seketika membelalak, menyembunyikan suara tawa dengan membekap mulut. Setelah itu tak terdengar lagi suara percakapan. Kuputuskan keluar dari kamar. Benar saja, di ruang tengah sudah tak ada siapa pun.
🖤
Pengakuan ayah itu membuatku semakin yakin. Perjodohan mendadak ini muncul karena rasa khawatirnya padaku.

Sejujurnya ini menguntungkan, paling tidak setelahnya, aku akan lebih leluasa beraktivitas di luar. Tanpa kekangan seperti sebelumnya, sesuai kesepakatan dengannya tadi.
“Da, lu ada jadwal nggak hari ini,” tanya Bang Cio yang membuatku sedikit terkejut.
“Nggak ada, Bang. Mau ke mana sih, rapi bener?” jawabku.
“Mau … tahu aja sih, lu!” Bang Cio mencolek hidungku. Tampaknya ia sedang bahagia.
Aku tak menanggapinya lagi, lalu kembali berkutat dengan laptop. Tugas akhir sebagai syarat kelulusan ini sudah terlalu lama terabaikan.

Bang Cio mengempaskan badan di sofa, samping kananku. “Tadi Ayah ngomong apaan sih. Kayaknya serius amat?” Bang Cio bicara sambil menekuni ponselnya.

Aku berhenti mengetik, kualihkan pandangan pada Bang Cio yang masih asyik dengan ponselnya. “Ayah … mau jodohin aku.”
Sontak Bang Cio memandangku, lalu membenarkan letak duduknya. “Serius?”
Aku mengangguk lemah. “Bang Cio pasti udah tahu, ‘kan? Jangan pura-pura gitu, deh,” tudingku.

“Sumpah! Gue nggak tahu soal itu. Kok mendadak banget, ya. Bang Andra sama Daffa udah tahu?”
Aku mengedikkan bahu. Mungkin mereka juga belum tahu tentang hal ini. Apalagi kedua abangku itu jarang sekali di rumah. Bang Andra yang sudah berkeluarga tinggal di rumah sendiri, tak jauh dari sini.

Sementara Bang Daffa, lebih suka menginap di indekos temannya. Terkadang aku tak paham dengan jalan pikirannya, padahal lebih enak di rumah ketimbang di tempat orang lain.

Bang Cio memegang dagu dengan kening yang tampak berkerut. “Apa ada hubungannya dengan kedatangan Om Farhan kemarin, ya?” gumamnya.

Om Farhan? Rasanya baru sekarang aku mendengar nama itu. “Siapa, Bang?”
Bang Cio berdecak, lalu mengembuskan napas dengan kasar. “Om Farhan, Da. Masa lu lupa, sih!”
Aku mencoba mengingat-ingat, barangkali ada saudara mendiang ibu atau saudara ayah yang terlewat dari memori otak.

Namun, tak kutemukan nama Farhan dalam daftar nama keluarga kedua orang tuaku.
“Lupa, Bang. Beneran nge-blank. Nggak inget sama sekali, siapa sih? Saudaranya Ayah? Atau Ibu?” berondongku pada Bang Cio.
“Ck, bukan! Ni anak. Sahabat Ayah di tempat tinggal yang dulu.” Bang Cio mendengkus kesal.
“Oh!” jawabku sekenanya. Tak ingin memperpanjang obrolan, meskipun sebenarnya aku belum ingat siapa Om Farhan itu.
“Ya udah, gue pergi dulu. Bentar lagi Tante Reni datang.”

Aku mengangguk sembari mengangkat tangan, lalu menempelkannya di pelipis kanan, layaknya orang yang tengah hormat pada upacara bendera. Bang Cio tersenyum, lantas mengelus kasar kepalaku yang berbalut khimar biru ini.
Tak lama, deru motornya terdengar semakin jauh, lalu hilang. Kulanjutkan lagi menekuni laptop yang masih menyala, menyelesaikan yang harusnya diselesaikan sejak dulu.

Detik bergulir menjelma menit. Tak terasa sudah hampir tengah hari, tetapi Tante Reni belum juga datang. Tak seperti biasanya, adik bungsu ayah itu sangat disiplin dengan waktu. Tak ada toleransi pada keterlambatan, tetapi kini malah dia sendiri yang telat.

Kucoba menghubunginya, tetapi hingga dering panggilan ketiga, wanita paruh baya itu tak juga mengangkat teleponku. Sampai suara deru mobil berhenti di depan gerbang. Buru-buru aku mengintip dari balik jendela ruang tamu. Tak lama, seorang wanita berkerudung sedada keluar dari pintu mobil silver yang tampak mengilap itu.

Wanita itu adalah Tante Reni. Akan tetapi, mobil yang mengantarnya bukan milik Riri—sepupuku—, lantas siapa yang mengantarnya?

“Assalamualaikum!” salam Tante Reni.
Aku bergegas melangkah ke pintu depan, lalu menarik gagangnya. “Waalaikumussalam,” jawabku sembari meraih tangan Tante Reni, kemudian menciumnya.

“Kok sepi! Abang-abang jomlo-mu itu pada ke mana?” Tante Reni tampak cemas.
“Biasa Tant, mereka kan emang nggak betah di rumah,” ucapku seraya tersenyum. “Kenapa, sih. Kok cemas banget, Tant? Itu tadi yang ngantar siapa? Kayaknya bukan mobil Riri, deh,” imbuhku.
Tante Reni menggamit lenganku, lalu menuntun ke dalam. “Sini tante ceritain!” ajaknya.

“Riri nggak bisa anter, katanya di kelas ada quiz. Tante hubungi abang-abangmu itu, sibuk semua. Mau hubungin kamu, ya percuma. Kamu nggak bisa jemput. Eh, untung tadi ada Tama. Jadi dia, deh yang anterin Tante,” tuturnya panjang lebar.
Tama? Kali kedua aku mendengar nama itu hari ini. Apakah dia orang yang sama seperti yang disebut oleh Ayah pagi tadi? Entahlah.

“Oya, Tama titip salam ke kamu. Tadinya mau ikut masuk, tapi mendadak ada yang telepon. Katanya penting, jadi urung,” lanjut Tante Reni. Matanya tampak berbinar.
“Oh. Mm, aku kenal ya sama Tama, Tant?”

Tante Reni tampak terbelalak. “Lho ya, anaknya Om Farhan, sahabat ayahmu dulu. Itu calon suamimu, tho!” jawab Tante Reni semringah.
Tiba-tiba saja terasa desiran halus pada sekujur hati. Tama, calon suami, Om Farhan. Allah, apa yang harus kulakukan?


Contoh Cerpen Lucu – Ustadz Ternyata GUS

contoh cerpen

Ustadz Ternyata GUS

Matahari mulai meninggi, pekerjaan rumah telah selesai. Kini saatnya duduk santai bersama dengan keluarga. Kubawa ponsel di genggamanku, siapa tau ada kabar yang aku tunggu.

Ayah dan bunda sedang asik mengobrol, aku ikut menyimaknya. Mengobrolkan ini dan itu terkadang juga ada hal yang lucu hingga kami tertawa.

Keluarga orang awam, tidak terlalu mengenal agama. Yang mereka tau hanya salat, baca Al Quran dan sedekah. Majelis ilmupun jarang mereka kunjungi, kecuali waktu maulid Nabi di majid dekat rumah. Oleh sebab itu, tidak jarang aku menyetelkan tausiyah-tausyiah dari Ustadz-Ustadz ternama yang di kenal oleh masyarakat.

Ke awaman kedua orang tuaku, membuatu harus terkekang ingin belajar agama. Tapi bagaimanapun aku tetap mencintai mereka.
***

Waktu mulai sore, adzan Asar pun berkumandang. Segera kulaksanakan salat empat rakaat tersebut.
Setelah selesai salat, kupanjatkan doa memohon hidayah untuk keluargaku. Tidak lupa, doa kedua orang tua, aku panjatkan.
Kulangkahkan kaki menuju ruang tamu di mana Ayah dan Bunda sedang duduk bersama.

Belum lama aku duduk, ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk. Kulihat nama pengirim pesan, Kang Robi. Dia adalah Ustadz yang selalu mengajakku untuk berdakwah di jalan Allah. Biarpun dia tau bagaimana latar belakang keluargaku, tetapi dia tidak putus asa.

{Mbak, aku tunggu di pagar samping rumah. Jangan lupa izin sama orang tua.} Begitulah isi pesannya.
Biasanya aku selalu pergi tanpa izin, karena orang tua selalu melarangku keluar berdakwah. Biarpun izin, aku selalu mencari alasan lain. Seperti izin ingin menginap di rumah salah satu temanku. Tapi kali ini aku ingin jujur dengan mereka, tidak ingin terus menumpuk dosa karena berbohong.

Kubawa tas yang biasa aku gunakan, kurapihkan pula hijabku. Parfum? Maaf, wanita lebih baik keluar rumah tanpa pakai parfum. Karena takut menimbulkan fitnah dan syahwat.
Aku duduk menghadap ayah dan bunda. Tangan ini mulai dingin, aku grogi setengah mati. Aku ini tidak bisa menerima penolakan, apalagi dalam hal yang aku suka.

‘Bismillah,’ ucapku dalam hati.
“Yah, Bun, Dina izin mau mengulang ngaji anak-anak di desa sebelah,” ucapku dengan mantap.

Aku sudah tau respon apa yang akan aku terima, tentu saja larangan dari mereka.
“Mau ayah bilang berapa kali? Ayah nggak suka kamu mengurusi anak orang. Mending di rumah duduk santai nggak kepanasan,” tutur ayahku.

Bundaku tidak mau kalah, beliau turut serta mengomeliku.
“Sudah, di rumah saja, Nduk. Di desa sebelah itu nggak ada yang kamu kenal, nanti kalo kamu kenapa-kenapa, gimana?” begitulah omelnya.

Aku yang egois, tidak mau mengalah. Tetap kulangkahkan kaki keluar rumah, tentu saja tanpa sepengetahuan keluargaku. Biarlah jika ini dosa, yang terpenting adalah pendidikan agama untuk anak-anak di desa sebelah. Aku tidak ingin mereka menjadi buta huruf Quran.

Sebelumnya aku telah menelpon teman sekaligus sahabatku untuk menemaniku ke desa sebelah.
Aku menunggunya di luar gerbang. Tidak beberapa lama, Atun datang dan menghapiriku. Dia adalah sahabat sekaligus teman kaburku.

“Kang Robi sudah datang?” tanya Atun kepadaku.
“Sudah, ada di pagar samping,” balasku.

Kami berjalan cepat, mencari keberadaan mobil milik Kang Robi. Tidak butuh waktu lama, kami telah menemukan mobil tersebut.

Mobil L-300 telah terparkir di gerbang samping rumahku. Kang Robi bersama dengan Kang Abid sedang menunggu kami.
“Sudah izin?” tanya Kang Robi kepadaku.
“Sudah, tapi njenengan pasti tau gimana respon mereka,” jawabku tanpa menatap wajah Kang Robi.
“Nggak papa. Yang terpenting sering-sering aja izin dan ngajak ke majelis, biarpun penolakan yang di terima. Insyaallah,

lama-lama akan luluh dengan sendirinya,” begitulah nasihatnya.
“Kenapa njenengan nggak izin ke Ayah Bunda, Kang?” tanyaku.
Jujur saja, setelah hari itu di mana Kang Robi di omeli oleh ayah, dia -Kang Robi- tidak pernah mengetuk pintu rumahku lagi.
“Nanti, kalo udah saatnya,” jawabnya.

Entah mengapa, setiap kali Kang Robu berucap bahkan memberikan nasihat, hati ini seperti tertiup udara yang sejuk. Jantungku berdegup kencang. Ah, apakah ini cinta?. Tidak, mana mungkin aku jatuh cinta, setelah sekian lama menutup rapat-rapat hati untuk orang yang belum layak aku cintai.

Melihat matahari mulai turun, kami bergegas masuk mobil. Kang Abid bertugas menyetir mobil, sementara Kang Robi berada di belakang mobil. Aku dan Atun duduk di bagian penumpang, samping kiri supir.
Kulihat pada jam tanganku, waktu menunjukan pukul empat sore. Berharap segera sampai di desa sebelah.

Perjalanan kami lumayan jauh. Jalan yang tidak rata memperlambat laju mobil. Sekitar satu jam kami melewati jalan berbatu, sampai akhirnya kami menemukan jalan beraspal.
Sesampainya di jalan beraspal, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Suara sholawat terdengar dari pemutar musik di mobil.

Adzan magrib berkumandang. Kami tidak langsung berhenti karena tempat mengulang ngaji sudah di depan mata. Mobil terparkir di halaman masjid, anak-anak sibuk mengambil air wudu. Iya, di masjid ini aku mengulang mereka ngaji. Tidak ada batasan usia. Baik tua mau pun muda tetap aku akan membantu mereka membaca Al Quran.

Setelah mobil berhenti, Kang Robi membukakan pintu untuk kami. Aku keluar bersama Atun dan segera menuju tempat wudu. Kuletakan tas dan barang bawaanku di teras majid. Anak-anak menyambut kami, mereka semua tersenyum ramah.

Melihat senyum mereka, seketika itu beban pikiranku hilang. Aku lupa akan keluargaku yang pasti sedang mengamuk di rumah. Ah, itu di pikir nanti ketika telah sampai di rumah. Biarkan aku fokus mengulang ngaji mereka.

Ketika aku mengambil wudu, tiba-tiba ada seorang wanita menabrakku. Perasaan tempat wudu di sini lebar, kenapa dia menabrakku?. Segera kuhilangkan pikiran negatifku dan meminta maaf kepada wanita tersebut.

“Dia yang salah, kenapa kamu yang minta maaf sih?” tanya Atun kesal.
“Mengalah bukan berarti salah,” balasku lalu tersenyum.

Kulaksanakan salat magrib berjamaah. Setelah itu mulai mengajar bacaan Al Quran. Antusias mereka cukup besar. Biarpun terbata-bata, tetapi mereka tetap semangat. Tidak lupa aku selalu memberikan dukungan untuk mereka.
Atun membantuku mengajar ngaji dan duduk di sampingku. Kali ini lebih banyak murid wanita dari pada laki-laki, jadi Kang Robi lebih dulu selesai.

Ketika aku sedang fokus menyimak bacaan salah satu muridku, tiba-tiba Atun berbisik.
“Kang Robi dari tadi ngeliatin kamu loh, Din,” bisik Atun.
Aku tidak berani menatap Kang Robi walaupun untuk memastikan benar atau tidaknya yang di ucapkan oleh Atun. Justru aku semakin menunduk dan berusaha menutupi wajahku.
***

Mengaji telah selesai, kami melaksanakan salat berjamaah Isya’.
Setelah selesai salat, aku duduk bersama Atun dan mulai melipat mukenah yang telah kami gunakan.
Tiba-tiba Kang Robi menghampiri kami dan berdiri tepat di depan kami. Aku hanya mampu memperhatikan jari jemari kakinya, tidak berani menatapnya.
“Ada apa, Kang?” tanya Atun penasaran.

Belum sempat Kang Robi menjawab, tiba-tiba aku mendengar langkah kaki yang mendekat. Kulihat pada bagian kakinya, dia menggunakan androk.

Aku melirik sekilas, dia wanita sama yang menabrakku ketika di tempat perwuduan.
“Jangan deketin Gus Robi lagi. Dia ini calon suamiku,” jelas wanita tersebut sambil memegang lengan Kang Robi. Sementara Kang Robi hanya diam saja.
Deg,

Seketika itu ada yang ganjil pada diriku. Entah jelasnya bagian mana yang sakit. Tapi dapat membuat netraku berembun. Aku berusaha tenang, kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Itu caraku mengatur emosi.
Kuhapus air mata yang hendak jatuh dari tempatnya, kemudian berdiri dan menatap santai ke wajah wanita tersebut.
“Kami hanya sekedar teman, Mbak. Kedekatan kami juga hanya sebatas sesama pengajar. Jadi, njenengan jangan khawatir,” begitu jelasku.

“Dan maaf, kalian belum muhrim. Jadi jangan pegangan dulu,” lanjutku.
Sambil menggendong mukenah, kulangkahkan kaki menjauh dari mereka, menuju rak di pojok masjid. Kuletakan mukenah dengan tangan gemetar.

Atun mengusap pelan punggungku sambil berucap, “Aku ini sahabatmu, aku tau apa yang kamu rasain. Jadi, coba utarakan perasaanmu, Din. Nggak baik jika di simpan terlalu lama.”
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Atun.
“Lebih baik aku simpan ini sendiri, dari pada sakit yang berlebih karena cinta yang tak terbalas,” balasku.

Kubalikan badan, Kang Robi bersama wanita tersebut masih berdiri di sana. Aku ingin melangkah pergi dan menjauh dari mereka, tetapi tasku masih tertinggal di dekat mereka.

Akhirnya, mau tidak mau, aku harus kembali ke sana lagi.
Kulangkahkan kaki dengan lumayan cepat, kemudian segera mengambil tasku. Saat aku hendak menjauh, tiba-tiba Kang Robi menghentikan langkahku.
“Tunggu,” cegahnya.

Aku berbalik badan dan menunduk. Mungkinkah dia ingin memberikan undangan pernikahannya?. Ah, entahlah.
Tiba-tiba beberapa orang menghampiri kami. Seorang laki-laki setengah sepuh dengan dua laki-laki di sampingnya, Dan seorang wanita.

Aku melihat sekilas, lalu menciup punggung tangan sang wanita tersebut dengan takzim.
“Di hadapan Abi, Umi dan Adik perempuanku ….”
‘Adik perempuan? Jadi ini adiknya Kang Robi? Tapi kenapa tadi bilangnya calon istri?’ batinku.
“… maukah kamu menjadi istriku?” lanjut Kang Robi.
“Robi ini putraku, penerus pesantren yang kami dirikan. Dia memang suka seperti ini, nggak mau identitasnya di ketahui banyak orang. Sementara adik perempuannya, sangat suka ngejailin kakaknya,” jelas laki-laki setengah sepuh yang tidak aku ketahui namanya.

Aku diam. Kebahagiaan menyusup di hatiku.
“Jadi, apa jawabannya?” tanya Kang Robi.
Aku mengangguk pelan berarti ‘iya’.
“Alhamdulillah,” sorak seluruh jamaah yang sedang berada di masjid.

Kabahagian di rasakan oleh seluruh orang yang berada di dalam masjid.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Setelah kulihat, ternyata alarm yang berbunyi. Kuusap kasar wajahku sambil berucap, “Astagfirullah, kenapa cuman mimpi.”


Contoh Cerpen Anak Sekolah – Salam Pramuka, Kak!

contoh cerpen

Salam Pramuka, Kak!

“Kau laksana Venus, hanya terlihat terang di malam hari di antara bintang lainnya. Seperti ketulusanmu, yang tak ingin aku mengetahuinya.”

Gilang menggaruk kepala, menoleh kanan kiri seperti mencari sesuatu. Aku menepuk pundak. Dia terperanjat. Namun, segera kembali membungkukkan badan, melanjutkan mencari benda yang dia butuhkan.

“Cari apa?” tanyaku.
“Tali rafia.”

Tiba-tiba kelakuannya mengingatkan aku pada seseorang. Selalu lupa menaruh gulungan rafia, jika sedang membereskan barang usai latihan PRAMUKA.

Segera membuka laci paling bawah. Kemudian, menyodorkan segulung rafia yang mulai menipis. Aku sengaja menyimpan sebagian tali di situ untuk persediaan, karena hafal, dulu Kak Hilman selalu lupa menaruhnya.

Aku menjadi spesial di antara anggota PRAMUKA lain, bagi Kak Hilman. Bukan paling cantik atau pun pintar, melainkan pernah menyangka sang Kakak pembina sebagai setan.

Sebagai siswa yang baru tercatat menjadi bagian SMAN 5, diwajibkan memilih salah satu kegiatan ektra kurikuler. Berawal dari ajakan teman, aku pun ikut memilih PRAMUKA. Anggota baru wajib mengikuti PERSAMI, seminggu setelah pendataan.

Salah satu bagian kegiatan adalah jelajah malam. Setiap dua siswa menyusuri koridor sekolah sesuai petunjuk setiap pos. Kemudian, tak berapa lama diikuti dua siswa lagi, begitu seterusnya. Aku dan Ilma sampai di pos tiga. Ada tiga arah dan tanda sedikit melenceng, membuat kami kebingungan. Pun menoleh samping kanan kiri. Tampak Kak Hilman duduk terpaku di atas meja depan kelas. Ilma menyeret lengan berjalan ke arahnya.

“Kak, numpang tanya, itu tandanya kegeser, yang bener arahnya ke mana?” tanya Ilma. Tak ada jawaban, tatapan mata kosong. Aku mengamatinya dari ujung kaki sampai kepala. Kaki tak menempel tanah, karena duduk di atas meja. Berulang kali bertanya, tetap tak dijawab.
“Dia bukan Kak Hilman, Il. Dia setan!” Aku menarik lengan Ilma berlari kalang kabut tak peduli arah jalan kami salah. Sejak saat itu, Kak Hilman selalu tertawa jika bertemu denganku.

Suatu ketika Kak Hilman datang ke rumah. Dia memungut alamat rumah dari buku tamu, yang pernah kutinggalkan data pribadi saat berkunjung ke sanggar. Bukan karena ingin mengenal lebih dekat. Melainkan, meminta menemani mengajar

PRAMUKA di SDN Merdeka, sekolah dekat rumahku katanya. SD masa kecil, di mana pernah mengenyam pendidikan di sana selama enam tahun. Seperti bernostalgia, dulu juga ikut kegiatan tersebut. Suka bergelayut manja pada Kakak pembina macam Kak Hilman.

Aku menerima ajakan Kak Hilman mengajar PRAMUKA setiap Sabtu sore. Membuat kita saling mengenal lebih dekat. Salut dengan kepribadiannya yang menjadi idola anak-anak di SD tersebut. Dia selalu semangat, telaten, dan begitu peduli dengan anak didiknya.

“Ada jiwa di dalam sini,” ucapnya sembari menepuk telapak tangan di dada, setiap kutanyakan semangat, yang selalu berkobar.
“Anak-anak harus mandiri, kuat, dan berani. Mereka adalah sasaran empuk orang dewasa,” pesannya padaku seraya

menepuk pundak, agar selalu menjaga anak-anak.
Pertemuan demi pertemuan dan perhatian kecil yang diberikan, saat sedang bersama membuat bunga-bunga asmara bermekaran di taman hati. Mulai ada debar di dada, entah sejak kapan, hingga tak bisa menahan diri.

Pun memberanikan diri, mengungkapkan perasaan di tengah hujan yang mendera, yang menahan kami pulang usai mengajar. Masih kuingat ucapan penolakan itu, karena menyisakan luka menganga, perih. Bahkan sampai sekarang jika masih mengingat itu masih terasa sakit.

“Maaf, aku hanya ingin fokus sekolah dan PRAMUKA. Kau pun harus begitu, aku tak ingin kau ikut organisasi ini, karena ada alasan lain, seperti teman-temanmu yang lain, ingin dekat denganku, mengidolakan, dan ingin jadi pacar. Hati dan jiwamu harus tulus dan mampu memberikan manfaat.”

Walau bagaimana pun aku bukan dia. Derai air mata mengalir, tak terbendung, tak mampu menggoyahkan pendirian, mengubah keputusannya, dan rasa iba untukku. Saat itu hujan disertai petir, seakan menjadi saksi betapa malu dan bodohnya perempuan sepertiku, yang ditolak mentah-mentah.

Padahal perlu perjuangan, menahan ego, agar berani mengungkapkan perasaan. Seharusnya hujan lebat membuat kami bersama lebih lama. Namun, aku nekat pulang lebih dulu, walau dia sempat mencegah. Berjalan di tengah hujan, dengan isakan tangis. Tak memedulikan suara menggelegar, mengikuti kilatan kuning yang membelah langit, yang biasanya membuatku takut.

Bagiku hujan mampu menyamarkan suara tangis dan air mata yang menganak sungai, agar tak terdeteksi orang lain. Selain itu, aku bisa menangis sepuasnya, meluapkan segala emosi dan beban hidup. Jika tetap bersamanya di sana, tak akan tahan melihat wajah dan mendengar ucapan, yang biasanya menghanyutkan, kini terasa memuakkan.

Tak terima dengan penolakan dan alasannya. Pun memutuskan keluar dan berhenti mengajar PRAMUKA sejak saat itu. Hubungan kami juga semakin renggang. Setelah lulus dia tak pernah tampak lagi, mengajar di SDN Merdeka.

Satu tahun kemudian.

Kak Hilman tak lagi mengajar di SDN Merdeka. Anak-anak yang masih tetangga denganku, datang ke rumah, memintaku mengajar lagi. Entah kenapa, saat mereka memohon, mampu meluluhkan hati.

Tiba-tiba ada jiwa di sini, seperti ucapan yang selalu dilontarkannya. Ada kerinduan pada PRAMUKA, jelajah, kamping, mendaki, dan makan seadanya. Ah, rasanya tak sabar, untuk kembali lagi seperti dulu.

Aku memutuskan kembali ikut PRAMUKA sejak kelas dua. Pun kembali mengajar di SDN Merdeka sampai sekarang bersama rekan baru, Gilang. Namun, sebentar lagi akan meninggalkan PRAMUKA kembali. Aku telah lulus dan berencana kuliah di Surabaya.

“Lang, Nurma gak bisa nemeni kamu ngajar di sini?” tanyaku sambil sandaran kursi. Mengamati Gilang mengumpulkan tongkat yang berceceran. Mengikatnya menjadi satu dengan tali rafia.
“Nurma sudah ngajar di SD-nya, aku bisa, kok, ngajar sendirian. Kalau pas liburan, mampir, ya?” pinta Gilang.
“Salam Pramuka!” Aku dan Gilang menoleh arah suara dari pintu. Suara yang tak asing bagiku. Dia mengurai senyum. Melangkah masuk dan melepas tas ransel di punggung. Pun mengulurkan tangan padaku dan Gilang.

“Kak Hilman!” Aku membungkam mulut, mata melotot. Satu tahun, saling menghindari dan merenggangkan hubungan. Dua tahun, kami tak pernah bertemu. Tak ada lagi rasa benci di hati ini, ya, hanya ada rindu yang membuncah. Tak terasa tetesan embun berjatuhan, tak terbendung lagi.

Usai mengobrol sesaat, Gilang berpamitan pulang lebih dulu. Aku pun sama, urung mengunci pintu dan pulang. Kami bertemu mata tanpa ingin berucap, walau kurasakan ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Rasa gugup dan canggung membuatku tak tahu harus bicara apa pada Kak Hilman.

“Hari ini kami akan mendaki. Kamu mau ikut?” tawarnya memecah keheningan. Dulu kami sering mendaki bersama, hingga tercipta sebuah rasa, tapi dia hanya menganggapku salah satu adik kelas yang masuk PRAMUKA karena mengidolakan dia.
“Enggak!” Terpaksa mengingkari hati, ya, nanti malam pasti akan menyesal. Kak Hilman tetap bersikap tenang, saat aku menolak ajakan dia. Tak mau salah paham dan jatuh cinta lagi padanya. Pun mengunci pintu dan berjalan pulang. Dia mengikuti dari belakang. Dalam hati sempat curiga, kenapa mengikuti pulang? Saat kutoleh dan bertanya, katanya ingin mampir ke rumah. Ah, terserah! Sampai rumah, terlihat beberapa motor terparkir depan rumah. Rupanya Kak Dea dan teman-teman Kak Hilman yang lain berkumpul di rumahku. Mereka bersekongkol merayu orang tua, agar memberikan ijin mendaki malam ini. Sial!
Sore itu juga kami berangkat. Mereka benar-benar menjebakku. Sengaja membuat aku dan Kak Hilman boncengan. Dalam perjalanan dia pun mulai berani menggoda. Memaksa pegangan tangan, saat kutolak, tiba-tiba menarik paksa melingkarkan lengan di pinggang. Mencoba melepaskan diri, malah tangannya makin mengikat erat. Ah, bodoh amat! Terpaksa mengikuti alur.
Kami menitipkan kuda besi saat sampai kaki gunung. Melakukan ibadah sholat dan makan malam. Tepat jam tujuh malam, kami mulai melakukan pendakian.

Gunung Maskumambang, salah satu gunung mati di kotaku, tak terlalu tinggi. Jadi tak butuh waktu lama untuk sampai puncak. Apalagi sudah hafal jalan yang harus dilalui.

Sesekali Kak Hilman menautkan tangan kami, mengagetkan. Shit! Tak bisa melepas genggaman yang begitu kuat. Kami jalan bersisian. Saat dingin mulai menyerang, dia memasukkan genggaman tangan ke jaketnya. Aku hanya menatap tanpa memberontak.

Setelah melewati semak belukar dan jalan setapak yang terjal, akhirnya kami sampai puncak. Teman-teman sibuk membuat api unggun. Sementara Kak Hilman menarik tangan, mengajak duduk di tepi jurang. Aku menekuk lutut dan menautkan tangan. Kak Hilman duduk bersila di sampingku seraya menatap langit malam.

Menaburkan kerlip bintang yang bertebaran memenuhi luasnya angkasa.
“Lihat bintang yang paling cerah! Itu Venus. Dia planet bukan bintang, tapi mampu menyerap sinar matahari paling banyak. Namun, tetap tak ingin menunjukkan di depannya. Seperti itulah dirimu, hanya terlihat cerah di malam hari di antara yang lain. Kau tak ingin aku mengetahui ketulusan cintamu,” titahnya seraya mengulurkan tangan ke arah Venus. Aku mendongak, mata mengikuti arah tangan Kak Hilman.

“Maaf, dulu aku menganggapmu sebagai fans Kakak pembina. Saat menolakmu, cuma berniat menguji, apakah kau masuk PRAMUKA dari hatimu atau karena aku? Ternyata selama ini salah mengira, kau memiliki jiwa itu ….” Kami saling pandang. Aku tak sanggup berbicara, saat menatap manik mata, yang tergambar wajahku di dalamnya. Lidah terasa kelu.

“Bolehkah aku menjemput cinta yang pernah terabaikan? Apakah rasa itu masih ada untukku?” ungkapnya lagi, membuatku melayang. Terbang bersama segerombolan kupu-kupu menari di atas bunga warna-warni yang sedang bermekaran. Tak terasa butiran bening mengalir membasahi pipi. Berusaha menghapus, tapi tangannya lebih dulu mencekal. Dia tersenyum menatapku. Pun menangkup wajah.

“Kalau pun kamu bilang tidak, aku tak akan mempercayaimu!” Dia menatapku intens. Sementara jantung berdebar-debar seakan usai berlari maraton. Kak Hilman memutar kepala. Kemudian, jemarinya mencabut rumput ilalang, meraih jemariku, dan mengikatkan di jari manis. Seraya berucap, “Will you merry me?”

“Akhirnya …,” ledek teman-teman dari belakang.
“Ogah, Bang! Beliin dulu cincin yang asli,” sergah salah satu teman.
“Udah, Jangan pacaran melulu! Cari kayu sono, lo, Man! Kita udah bantuin, lo!” imbuh Kak Dea.
“Maksudnya apa?” tanyaku tak mengerti. Tiba-tiba Kak Hilman menarik jemari. Menyeretku berlari dan kabur dari kerumunan teman-teman. Tega sekali mengajakku mencari kayu bakar.

Ya cukup sekian pembahasan mengenai contoh cerpen singkat, semoga apa yang terkandung di dalam artikel ini terkait cerpen bisa menjadi reverensi yang sedang membuat cerita pendek.

Tinggalkan komentar