Cerita Rakyat Yang Singkat dan Menarik

Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari masyarakat Indonesia yang telah diwasiatkan secara lisan. Cerita ini menjadi salah satu dari perilaku, sikap, dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat Indonesia yang terus berlanjut ke generasi seterusnya melalui tradisi tutur.

Cerita rakyat Indonesia sudah menyebar di seluruh pulau di Indonesia. Ada beberapa cerita terkadang mempunyai kesamaan apabila tetap mempunyai sisi kekhasan warga setempat.

Cerita rakyat adalah menjadi salah satu tradisi tata alur cerita yang harus dijaga agar tidak punah. Karena Keanekaragaman cerita ini menjadi bukti tentang beragam kebudayaan di negeri Indonesia.

Kumpulan Cerita Rakyat

Kisah Domba Yang Cerdik dan Harimau yang Bodoh

cerpen rakyat

Pada suatu ketika, seekor Domba jantan sedang berjalan-jalan di padang rumput. Dia mencari rumput yang enak untuk dimakan. Tidak lama kemudian, dia melihat ada hutan di dekat padang rumput itu.

Karena ingin mencari tumbuh-tumbuhan selain rumput yang enak untuk dimakan, dia pun masuk ke hutan itu. Tiba-tiba dia bertemu dengan seekor Harimau. Harimau itu sangat gembira, karena dia akan segera mendapatkan makanan yang lezat.

Si Domba, yang sangat ketakutan, kemudian mengajak Harimau itu berbicara.

“Siapa namamu?” tanya si Domba.
“Aku Harimau! Siapa kamu?” Harimau balik bertanya.
“Namaku Domba Yang Hebat”jawab si Domba, walaupun sebenarnya dia sangat gemetaran.
“Apa itu yang ada di kepalamu?” tanya Harimau lagi.
“Oh, itu tombak dan pedangku” jawab Domba.
“Dan apa itu yang bergantung di antara kaki belakangmu?” Harimau bertanya lagi.
“Itu bumbu-bumbu yang aku bawa untuk memasak daging harimau sebelum aku memakannya.” jawab Domba.
Harimau sekarang sangat ketakutan. Dia lalu berlari pergi secepat yang dia bisa, dan bersyukur karena dia masih hidup.

Ada seekor rubah yang melihat Harimau lari terbirit-birit. Dia kemudian bertanya, “Ada apa denganmu? Kenapa kamu lari ketakutan?”

“Domba jantan itu! Dia hampir saja membunuhku!” jawab Harimau. Dia bersenjatakan pedang dan tombak!”

Rubah yang pintar itu tertawa, lalu berkata, “Bagaimana mungkin seekor domba jantan bisa membunuh seekor harimau? Kamu pasti sudah dibodohi oleh domba itu. Ayo kita kesana dan kita beri dia pelajaran.”

Tapi Harimau berkata “Tidak, kamu nanti pasti akan lari setelah melihat domba itu, dan meninggalkan aku sendiri di sana. Tidak, aku tidak mau.”

“Aku tidak akan lari. Kalau kamu tidak percaya, kita ikat saja diri kita berdua dengan sebuah tali duit ceme. Jadi, bahkan jika aku ingin lari pun aku tidak akan bisa” jawab Rubah.

Harimau setuju dengan usul si Rubah. Mereka kemudian mengikat leher mereka menjadi satu dengan menggunakan seutas tali, dan pergi berjalan mencari si Domba. Mereka menemukan si Domba sedang santai sambil makan tumbuh-tumbuhan yang lezat.

Ketika si Domba melihat si Harimau, dia berteriak, “Aha! Akhirnya kamu datang juga! Aku sudah sangat lapar! Kamu akan menjadi makanan yang lezat untukku!”

Harimau yang bodoh ketakutan mendengar perkataan si Domba. Dia lalu berbalik dan lari sekencang-kencangnya. Si Rubah berteriak-teriak meminta Harimau untuk berhenti berlari, karena dia ikut terseret.

Tapi Harimau tidak mendengarnya, dan terus berlari, sampai akhirnya si Rubah mati karena terseret-seret sangat jauh melintasi hutan itu. “Rubah yang bodoh!” pikir Harimau yang bodoh itu, “Aku hampir saja mati gara-gara dia!”.


Cerita Pengorbanan Putri Kemarau

cerita rakyat indonesia

Putri Jelitani adalah seorang putri raja di sebuah kerajaan di daerah Sumatra Selatan. Suatu ketika, negeri sang Putri dilanda kemarau yang amat panjang.

Keadaan yang sulit itu baru akan pulih jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan mencebur ke laut. Oleh karena tak seorang pun yang mau berkorban, maka dengan ikhlas sang Putri rela melakukannya demi keselamatan rakyatnya dari bahaya kelaparan.

Bagaimana nasib Putri Kemarau selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Pengorbanan Putri Kemarau berikut ini

Dahulu, di Sumatra Selatan ada seorang putri raja bernama Putri Jelitani. Namun, ia akrab dipanggil Putri Kemarau karena dilahirkan pada musim kemarau. Ia merupakan putri semata wayang sang Raja.

Ibunda sang Putri baru saja wafat. Sebagai putri tunggal, ia pun amat disayangi oleh ayahnya. Sementara itu, ayahnya adalah seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Negeri dan rakyatnya pun hidup makmur dan tenteram.

Suatu ketika, negeri itu dilanda kemarau yang sangat panjang. Sungai-sungai kekeringan dan air danau pun menjadi surut. Padang rumput sudah hangus terbakar terik matahari.

Ternak-ternak warga banyak yang mati. Tanah menjadi kering dan pecah-pecah sehingga hasil panen pun gagal. Warga banyak yang terserang penyakit dan dilanda kelaparan.

Melihat keadaan tersebut, sang Raja yang arif dan bijaksana itu pun segera bertindak. Ia segera mencari peramal untuk mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut. Sudah banyak peramal yang ditemui, namun belum seorang pun yang mampu memberinya jalan keluar.

Suatu hari, sang Raja mendengar kabar bahwa di suatu desa yang terpencil ada seorang peramal yang terkenal sakti. Ia pun mendatangi peramal itu.

“Wahai, tukang ramal. Negeriku sedang dalam kesulitan. Tolong katakan bagaimana caranya mengatasi masalah ini,” pinta sang Raja.

“Baginda, petunjuk mengenai jalan keluar dari kesulitan akan melalui mimpi putri Baginda,” jawab peramal itu.

“Baiklah, kalau begitu. Hal ini akan kutanyakan langsung kepada putriku,” kata sang Raja yang segera kembali ke istana.

Setiba di istana, sang Raja mendapati putrinya sedang duduk termenung seorang diri di taman.

“Ayahanda baru saja menemui seorang juru ramal yang sakti,” kata sang Raja kepada putrinya.

Mendengar itu, Putri Kemarau sontak menatap wajah ayahandanya.

“Apa kata juru ramal itu Ayahanda?” tanya Putri Kemarau.

“Menurut juru ramal itu bahwa petunjuk mengenai jalan keluar dari kesulitan ini akan datang melalui mimpi Andanda. Apakah Ananda sudah bermimpi tentang hal itu?” sang Raja balik bertanya.

“Belum, Ayahanda,” jawab Putri Kemarau, “Tapi, alangkah baiknya jika semua masalah ini kita serahkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” lanjut sang Putri.

Alangkah terkejutnya sang Raja mendengar perkataan putrinya. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putri kesayangannya itu memiliki pemikiran yang cerdas. Ia pun menyadari kekeliruannya selama ini.

“Benar juga katamu, Putriku. Perkataanmu itu membuat Ayanda sadar. Maafkan Ayah, Putriku!” ucap raja yang bijaksana itu.

Putri Kemarau kemudian menyarankan kepada Ayandanya agar seluruh rakyat negeri itu melakukan upacara berdoa bersama kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Maka, berkat doa bersama tersebut, Putri Kemarau pun mendapat petunjuk melalui mimpinya. Dalam mimpi itu, sang Putri didatangi oleh ibundanya.

“Wahai, Putriku. Kesulitan yang dialami negeri akan berubah jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan menceburkan diri ke laut,” ujar ibu Putri Kemarau.

Begitu terjaga, sang Putri pun menceritakan perihal mimpi itu kepada ayahandanya. Ternyata, sang Raja pun telah bermimpi mendapat bisikan gaib yang menyampaikan pesan yang sama. Maka, pada esok harinya, sang Raja segera mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk menyampaikan pesan itu.

“Wahai, seluruh rakyatku. Ketahuilah bahwa negeri ini akan kembali makmur jika ada seorang gadis yang dengan ikhlas mengorbankan dirinya mencebur ke dalam laut. Siapakah di antara kalian yang ingin melakukannya demi kebaikan kita semua?” tanya sang Raja di depan rakyatnya.

Tapi, tak seorang pun gadis yang berani mengajukan diri. Di tengah keheningan, tiba-tiba Putri Kemarau yang duduk di samping ayahandanya bangkit dari tempat duduknya lalu berkata.

“Ananda rela mengorbankan jiwa hamba dengan ikhlas demi kemakmuran rakyat negeri ini,” kata Putri Kemarau dengan suara lantang.

Seketika seluruh yang hadir tersentak kaget, terutama sang Raja. Ia tidak ingin anak semata wayangnya itu yang menjadi korbannya.

“Jangan, Putriku. Engkaulah satu-satunya milik Ayahanda. Engkaulah yang akan meneruskan tahta kerajaan ini. Jangan lakukan itu, Putriku!” cegah sang Raja.

Namun, Putri Kemarau tetap pada pendiriannya. Keinginan sang Putri sudah tidak dapat dibendung lagi.

“Lebih baik Ananda saja yang menjadi korban daripada seluruh rakyat negeri ini,” tegas sang Putri, “Barangkali ini sudah menjadi takdir Ananda.”

Sang Raja pun tak kuasa menahan keinginan putrinya. Maka, pada malam harinya, sang Putri dengan diantar oleh ayahanda dan seluruh rakyat pergi ke ujung tebing laut. Sebelum terjun ke laut, ia berpesan kepada ayahanda dan rakyatnya.

“Ikhlaskan kepergian Ananda, maafkan semua kesalahan Ananda,” pinta sang Putri.

Sang Raja tak kuasa menahan rasa haru. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Namun, apa hendak dibuat, tak seorang pun yang sanggup menahan keinginan putrinya.

Putri Kemarau pun terjun ke laut. Bersamaan dengan terceburnya tubuh sang Putri ke dalam air laut, langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan hujan pun turun dengan lebatnya.

Dalam waktu singkat, seluruh wilayah negeri itu pun digenangi air. Tentu saja hal itu menjadi pertanda bahwa tumbuh-tumbuhan akan kembali menghijau dan tanah menjadi subur.

Seluruh rakyat negeri itu dirundung rasa suka cita, terutama sang Raja. Di satu sisi, negerinya akan kembali makmur, namu di sisi lain ia telah kehilangan putri yang amat disayanginya. Demikian pula yang dirasakan oleh seluruh rakyatnya.

Hujan semakin deras. Sang Raja dan rakyatnya pun segera meninggalkan tebing laut itu. Setiba di istana, raja itu langsung tertidur karena kelelahan. Betapa terkejutnya ia karena tiba-tiba mendengar suara bisikan yang menyuruhnya kembali ke tebing laut.

“Segeralah kembali ke tebing laut. Temuilah putrimu di sana!” demikian pesan suara itu.

Begitu terbangun, sang Raja bersama rakyatnya pun bergegas kembali ke tebing itu. Sesampainya di sana, mereka mendapati Putri Kemarau berdiri di atas sebuah karang di tengah laut dengan membawa penerangan dan harapan baru.

Rupanya, sang Putri diselamatkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa karena keikhlasannya berkorban demi kepentingan orang banyak. Namun ajaibnya, semula tidak ada batu karang di tengah laut itu.

“Terima kasih, Tuhan! Engkau telah menyelamatkan putriku,” ucap sang Raja.
Usai berucap syukur, raja itu segera memerintahkan pengawalnya untuk menjemput sang Putri dan membawanya kembali ke istana.

Beberapa tahun kemudian, sang Raja akhirnya menyerahkan kekuasaannya kepada putrinya. Sejak itulah, Putri Kemarau menjadi ratu di negeri tersebut. Ia memerintah dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup makmur dan sejahtera.

Demikian cerita Pengorbanan Putri Kemarau dari daerah Sumatra Selatan. Pelajaran yang diambil dari cerita di atas adalah bahwa orang yang ikhlas berkorban demi kepentingan orang banyak akan selalu dalam lindungan Tuhan Yang Mahakuasa.


Cerita Sangkuriang

cerita rakyat sangkuriang

Pada zaman dahulu ada seorang putri yang cantik jelita bernama dayang sumbi. Pada suatu hari ketika ia sedang menenun kain, pintalan benangnya terjatuh, sedangkan ia saat itu berada di atas ketinggian.

Ia merasa tidak mampu untuk mengambil pintalan benang tersebut. “Siapa yang bisa mengambilkan benangku, jika perempuan akan ku jadikan ia saudara, jika lelaki akan ku jadikan ia suami.” Iseng ia berkata.

Tak di sangka ternyata tumang si anjing istana mengambilkan benang tersebut dan membawanya kehadapan dayang sumbi. Dayang sumbi pun kaget, ia teringat akan ucapannya sendiri, jika tidak ia tepati maka para dewa pasti akan marah dan menghukumnya.

Maka ia menikah dengan tumang si anjing penjaga istana tersebut. Tumang ternyata adalah titisan dewa yang di kutuk menjadi se ekor anjing yang di buang ke bumi.

Dayang sumbi akhirnya mengandung dan melahirkan anak laki-laki dari si anjing tumang tersebut dan diberi nama sangkuriang. Sayangnya sangkuriang tidak mengetauhi bahwa si tumang adalah ayahnya.

Pada suatu hari sangkuriang sedang berburu ke hutan, tetapi ia tidak mendapatkan hewan. Karena marah, ia membunuh si tumang dan dagingnya di bawa pulang.

Ketika sampai di rumah ibunya mengetauhi bahwa sangkuriang telah membunuh si tumang. Ibunya pun marah, kepala sangkuriang dipukul dengan gayung hingga terluka dan berdarah.

Kemudian sangkuriang melarikan diri dan mengembara yang tak tentu arahnya. Konon ia sering berguru kepada orang-orang yang berilmu tinggi sehingga ketika sangkuriang menjadi dewasa ia menjadi orang yang sakti.

Kesaktiannya sangkuriang hingga jin dan makhluk halus dapat ia kuasai. Kemudian ia pergi mengembara lagi. Sementara dayang sumbi ketika di tinggal oleh sangkuriang ia bertapa bertempat yang suyi,

sehingga dewa memberinya kecantikan yang abadi, wajah dan tubuhnya tetap cantik dan awet muda. saat ia mengembara, di pinggir sebuah hutan sangkurinag bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita,

kemudian mereka berdua berkenalan dan sama-sama jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada suatu hari sangkuriang dan si cantik jelita sedang bercengkrama, si gadis mencari kutu di kepala sangkuriang.

Tiba-tiba si gaidis itu terkejut melihat bekas luka di kepala kekasihnya sangkuriang, dan ia langsung menanyakan sebab-sebab terjadinya luka tersebut.

Kemudian sangkuriang menceritakan apa adanya.

“Ternyata kau adalah sangkuriang anakku sendiri”. Pekik gadis itu kepada sangkuriang. “Tidak mungkin aku akan menikah dnegan anakku sendiri”. Kata dayang sumbi.

Sangkuriang tetap tak percaya dan terus memaksa agar dayang sumbi mau menjadi istrinya. Akhirnya dayang sumbi memberikan persyaratan kepada sangkuriang.

Dayang sumbi minta di buatkan telaga dan perahu di puncak gunung yang mana telaga itu harus di buat dan harus selesai dalam waktu semalam.

Sangkuriangpun menyanggupinya. Dengan dibantu para jin ia membuat telaga itu, namun dayang sumbi membuat tipuan pada tengah malam dengan membunyikan lesung hingga ayam pada berkokok.

Karena dayang sumbi mengetauhi kesaktian sangkurinag. Para penduduk kemudian ikut terbangun dan segera menumbuk padi. Para jin yang membantu sangkuriang mengira hari sudah hampir pagi, sehingga mereka para jin menghentikan pekerjaannya membuat telaga yang belum selesai.

Sangkuriangpun marah, sehingga ia menendang perahu yang dibuatnya, sehingga perahu tersebut telungkup ke bumi dan berubah menjadi sebuah gunung.

Kemudian sangkuriang mendekat ke arah dayang sumbi dan berkata. “Aku tidak peduli, apapun yang terjadi kau harus menjadi istriku!”

“Sangkuriang anakku sadarlah, kau adalah anak kandungku sendiri” Pekik dayang sumbi sambari berlari menjauh. Sangkuriang pun tetap mengejar dayang sumbi.

Tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Tubuh dayang sumbi hilang lenyap tanpa bekas. Sangkuring pun berteriak-teriak seperti orang gila.

Konon ceritanya dayang sumbi telah diselamatkan oleh para dewa, bagaimanapun para dewa tidak mengizinkan seorang anak menikahi ibunya sendiri.

Dayang sumbi dijadikan ratu makhluk halus di laut selatan dan masyarakat mengenalnya dengan sebutan nyirorokidul. sementara itu perahu yang ditendang sangkuriang lama-lama berubah menjadi bukit dan kemudian menjadi gunung yang besar, hingga gunung itu sekarang dinamakan dengan sebutan gunung tangkuban parahu.


Cerita Roro Jonggrang

cerita rakyat roro jonggrang
cerita rakyat roro jonggrang

Dikisahkan pada zaman dahulu, di jawa tengah, ada sebuah kerajaan yang bernama pengging. Sang raja memiliki seorang putra yang bernama joko bandung.

Joko bandung adalah seorang pemuda yang perkasa dan sakti, seperti hal nya sang ayahnya yang juga mempunyai berbagai ilmu kesaktian yang tinggi.

Tapi sayangnya joko bandung yang sudah tumbuh remaja itu beleum mau untuk menikah dan berumah tangga. Suatu ketika sang raja memanggilnya.

Ia di tanya mengapa belum mau menikah dan berumah tangga. Maka joko bandung pun menjawab alasannya. Joko bandung ingin menguasai kerajaan prambanan.

Maka joko bandung memimpin pasukan pengging berperang melawan pasukan prambanan. Pada saat itu kerajaan prambanan di pimpin oleh raja yang bernama boko.

Raja boko memiliki tubuh yang tinggi dan besar sehingga sebagian besar orang-orang menganggapnya sebagai keturunan raksasa.

Raja yang bertubuh raksasa itu memulai serangan terlebih dahulu, ia berlari kencang ke arah depan dan diikuti pasukannya di belakang.

Pasukan pengging yang berhamburan dan berusaha bangkit tidak sempat lagi untuk bersiap-siap menghadapi serbuan lawan.

Raja boko dengan mudahnya ia menangkap satu persatu tentara pengging yang kemudian ia lemparkan tinggi-tinggi ke udara. Tak lain tentu saja tentara itu satu persatu mati ketika jatuh ke tanah.

Pasukan prambanan juga dengan mudahnya membantai pasukan pengging yang saat itu sudah mulai kocar-kacir tak karuan.

Pada saat kejadian itu tiba-tiba muncullah joko bandung. Ia langsung mengadang laju raja boko.  Kemudian raja boko mengayunkan tangan kanannya yang bermaksud untuk menyambar leher bandung bondowoso, namun pemuda itu justru menangkap lengan raja boko dan dengan gerakan super cepat tubuh raja boko dilemparkan ke arah prajurit prambanan.

“Breggg…!” Suara raja boko yang terlempar jatuh

Tubuh raja boko terlempar dan terjerembab ke arah para prajuritnya yang mengakibatkan prajurit seketika mati lemas karena tertindih tubuh raja boko.

Saat itu raja boko masih bermaksud untuk bangkit berdiri namun ia sudah terlambat. Bandung bondowoso ketika itu langsung meloncat dan menendang pinggang raja boko.

Akhirnya raja boko muntah darah dan tewas ambruk ke tanah. Mengetahui rajanya yang perkasa itu telah tewas di tanga bandung bondowoso, maka prajurit prambanan langsung takluk menyerahkan diri.

Kemudian joko bandung di antar ke istana. Begitu memasuki istana kaputren ia melihat roro jonggrang yang cantik jelita. Seketika itu joko bandung langsung jatuh cinta dan ingin menikahi gadis itu.

Raja bandung meminta pada roro jonggrang agar ia mau menjadi istrinya.

“Hamba bersedia di peristri engkau asalkan paduka raja mampu membuatkan ku seribu candi dan dua buah sumur yang sangat dalam yang semua itu harus dikerjakan dalam waktu satu malam.” Kata roro jonggrang

Di luar dugaan joko bandung menyanggupi semua permintaan roro jonggrang itu. Dengan dibantu para jin dan makhluk halus joko bandung membuat seribu candi itu.

Ketika sudah sampai tengah malam ternayat candi sudah hanya kurang satu candi lagi. Melihat kejadian tersebut, roro jonggrang sangat terkejut dan hampir tak percaya,

karena bangunan candi yang di minta roro jonggrang itu begitu banyak dan sudah hampir selesai.

Roro jonggrang langsung panik, ia segera memanggil kepala dayang istana yaitu bibik emban untuk cepat membantu menggagalkan bangunan candi yang di buat bondowoso agar tidak dapat diselesaikan dalam satu malam.

Lalu roro jonggrang dan bibik emban, ia bersama-sama membangunkan gadis-gadis desa prambanan agar menumpuk padi sambil memukul-mukulkan alu pada lesum, sehingga kedengaran suara yang riuh rendah.

Sementara itu pemuda desa diperintahkan untuk membakar kayu dan tumpukan jerami di sebelah timur prambanan. Akibat bunyi lesum yang di pukul berkali-kali membuat ayam jantan diseluruh prambanan berkok dengan sahut-sahutan.

Mendengar suara-suara tersebut jin dan makhluk halus segera menghentikan pekerjaannya karena disangkanya hari telah pagi apalagi mereka melihat warna merah seperti fajar sebelah timur, mereka mengira matahari hampir terbit.

Bandung bondowoso langsung pergi menuju bangunan candi dan ia kaget yang candi tersebut jumlah kurang satu untuk menjadi seribu. Ketika ia sampai di sana hari benar-benar sudah pagi dan matahari sudah menampakkan sinarnya.

Pada saat yang sama roro jonggrang pun muncul di hadapan bandung bondowos.

“Sudah lah paduka raja, jelas kau tak mampu memenuhi permintaan hamba, maka….!”
“Cukup! Aku tau ada sesuatu yang tidak beres!” Potong bandung bondowoso terhadap perkataan roro jonggrang.
“Paduka raja adalah seorang satria, seorang satria harus memegang teguh janjinya. Sekarang hari sudah betul-betul pagi. Matahari sudah menampakkan sinar nya. Dan raden paduka raja tidak mampu memenuhi syarat yang hamba minta, yaitu membuat seribu candi!”

Bandung bandowoso berdiri tegak di hadapan roro jonggrang. Ia gemeretak menahan amarah.

Roro jonggrang nampak ketakutan. Ia mundur beberapa langkah.

Bandung Bondowoso mendekati gadis yang dicintainya dan berkata.”Roro Jonggrang! Kau ini hanya mencari-cari alasan. kalau kau tidak mau menjadi isteriku mengapa kau tak berkata jujur saja..kenapa kau menggunakan tipu muslihat untuk mengelabuhiku. Kau ini sungguh keras kepala seperti batu!”

Ternyata ucapan raja Bandung Bondowoso sangatlah sakti sehingga ucapan Raja Bandung Bondowoso tak bisa ditarik lagi. Seketika itu Roro Jonggrang berubah menjadi arca batu besar di Candi Prambanan.

Bandung Bondowoso juga mendatangi anak-anak gadis di sekitar prambanan yang diperintah oleh Roro Jonggrang membunyikan lesung.

Dengan penuh amarah, para gadis tersebut dikutuk oleh Joko Bandung Bondowoso dengan ucapan.”Kalian telah membantu Roro Jonggrang berbuat curang!Maka dari sekarang aku kutuk kalian menjadi perawan tua! Kalian tidak akan laku kawin sebelum mencapai umur tua!”

Demikianlah kisah legenda asal mula Candi Sewu atau Roro Jonggrang.

Candi yang di buat makhluk halus dan para jin meskipun jumlahnya belum mencapai seribu tetep disebut dengan sebutan Candi Sewu atau Roro Jonggrang, karna berdekatan dengan candi itu ada arca batu Roro Jonggrang yang telah dikutuk oleh Raja Bandung Bondowoso.

Sedangkan gadis-gadis di daerah itu kebanyakan tidak laku kawin sebelum mencapai umur tua atau sebelum mereka pindah ke tempat lain.


Cerita Si Pitung

cerita rakyat nusantara

Si pitung adalah pemuda yang baik, ia tekun beribadah dan berbudi pekerti yang luhur. Ia berasal dari rawa belong. Selain belajar mengaji, ia juga belajar silat kepada haji naipin.

Tidak terasa waktu berjalan, si pitung menjelmas menjadi sosok pemuda dewasa yang gagah dan perkasa. Ia mempunyai banyak bekal ilmu agama dan pencak silat.

Pada saat yang sama, penjajah belanda sedang giat-giatnya mengeruk kekayaan alam bangsa indonesia yang berpusat di batavia. Tenaga rakyat di peras dalam kekejaman kerja paksa.

Tak terhitung lagi korban yang jatuh dan sebagian yang lain orang-orang hidup dalam penderitaan dan kelaparan. Melihat kenyataan seperti itu. Di hati si pitung timbul rasa kasihan kepada rakyat.

Bersama rais dan jii, si pitung merampok rumah tauke dan tuan tanah kaya. Si pitung berniat hasil rampoknya kemudian untuk ia bagi-bagikan pada rakyat miskin. Dan lama kelamaan kegiatan si pitung tersebut malah meresahkan kumpeni.

Kumpeni melakukan berbagai cara untuk menangkap si pitung. Mula-mula awalnya orang-orang di bujuk untuk memberi keterangan dengan iming-iming hadiah yang cukup besar.

Kalau usahanya gagal, kumpeni tidak segan-segan untuk memaksanya dengan kekerasan. Akhirnya, kumpeni berhasil mendapat informasi tentang keluarga si pitung. Kelebihannya merupakan kelemahannya juga.

Keluarga si pitung aslinya sebagai sumber motivasi tetapi justru malah menjadi titik lemahnya. Kumpeni segera menyandra kedua orang tuanya dan haji naipin. Dengan sisaan yang berat akhirnya terungkaplah keberadaan si pitung dan rahasia kekebalan yang di miliki tubuhnya.



Cerita Batu Menangis

Pada zaman dahulu ada sebuah bukit yang jauh dari desa, di daerah kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.

Janda itu bernama mak dasah dan anak gadisnya bernama jelita. Mereka tinggal di sebuah rumah yang kecil dan amat sederhana. Rumah itu adalah rumah peninggalan suami mak dasah yang meninggal dunia sejak anak gadisnya berumur 1 tahun.

Anak gadis mak dasah di beri nama jelita karena memang wajahnya yang cantik sekali. Jelita menjadi anak kesayangan ibunya  Demi cinta kasihnya pada sang anak, mak dasah rela bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, walaupun ia sudah agak tua.

Pekerjaan mak dasah adalah mencari kayu bakar di hutan yang kemudian di jual ke perkampungan. Melihat kerja keras mak dasah jelita sama sekali tak mau membantu ibunya bekerja.

Gadis itu memang amat pemalas, ia juga tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerja jelita hanya bisa bersholat dan mempercantik diri setiap hari.

Selain pemalas anak gadis mak dasah itu sikap nya sangat manja sekali. Segala permintaanya harus dituruti. Setiap kali meminta sesuatu kepada ibunya, ibunya harus mengabulkannya tanpa meperdulikan keadaan ibunya yang sangat terbatas dan miskin.

Setiap hari mak dasah harus membanting tulang mencari setiap sesuap nasi. Pada suatu hari anak gadis mak dasah minta dibelikan baju yang baru terpaksa ia dan ibunya berjalan ke pasar yang letak nya cukup amat jauh.

Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus, sementara ibunya berjalan di belakangnya sambil membawa keranjang dan memakai pakaian yang sangat amat dekil.

Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu.

Namun ketika orang melihat ada orang yang berjalan di belakang anak gadis itu, sungguh kontras keadaan nya, dan hal itu membuat orang pada bertanya-tanya.

Diantara orang yang melihatnya ada seorang pemuda mendekatinya dan berani bertanya kepada gadis itu.

“Hai gadis, siapakah yang berjalan di belakangmu? Apakah ia ibumu?”
“Bukan! Ia adalah pembantuku!” Kata jelita dengan angkuh. Mendengar jawaban anaknya itu hati mak dasah sangat sakit hati dan kecewa, namun mak dasah menahan nya.

Kemudian mak dasah dan anak nya jelita itu meneruskan perjalanan lagi. Belum jauh ia berjalan ada seorang pemuda lagi mendekat dan bertanya kepada anak gadis itu.

“Hai gadis cantik dan manis, siapakah yang berjalan di belakangmu? Apakah benar itu ibumu?”
“Bukan-bukan….. ia adalah budak ku!” Jawab gadis itu dengan sombong dan mendongkakkan kepalanya.

Begitu tiga kali ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya. Sakit hati sang ibu tak bisa di tahan nya lagi. Lalu mak dasah berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan… Anakku sungguh sudah sangat keterlaluan, hukumlah ia sesuai dengan kedurhakaan nya”

Doa ibu yang teraniaya langsung dikabulkan Allah, seketika itu tubuh jelita langsung berubah menjadi batu. Jelita sangat menyesal dan menangis minta ampun kepada ibunya, tetapi semua sudah terlambat karena ia sudah menjadi batu.

Dan batu itu mengeluarkan air mata, sekarang batu itu di kenal dengan sebutan batu menangis. Demikianlah cerita yang terbentuk dalam legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercayai bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi.

Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkan nya, pasti ia akan mendapatkan hukuman dari Tuhan yang maha kuasa.


Cerita Kutukan Raja Pulau Mintin

legenda cerita rakyat

Pada zaman dahulu, di Pulau Mintin, termasuk daerah Kahayan Hilir ada kerajaan yang dipimpin oleh raja yang arif dan bijaksana. Sang raja memerintah dengan arif dan bijaksana sehingga kerajaan mencapai kejayaan, rakyatnya hidup dalam kemakmuran. Pada suatu hari sang permaisuri meninggal dunia. Permaisuri adalah wanita yang paling dicintai oleh Sang Raja. Kepergian sang permaisuri membuat sang raja terguncang. Hatinya sedih bukan kepalang. Guna menghibur hatinya raja yang sedang gundah gulana, Sang Raja berniat hendak berlayar.

Tetapi roda pemerintahan harus tetap berjalan lancar. Maka untuk sementara tugas pemerintahan diserahkan pada kedua putranya yang kembar, yaitu si Naga dan si Buaya. Sang Raja menjelaskan segala sesuatunya yang berhubungan dengan tugas seorang pemimpin. Kedua anak kembar tersebut mendengarkannya dengan seksama dan menerima tanggung jawab tersebut. Setelah dirasa cukup memberi wejangan maka raja segera pergi untuk berlayar. Kedua anak kembar sang raja tersebut kemudian menduduki tahta kerajaan.

Tetapi apa yang telah terjadi begitu sang raja meninggalkan kerajaannya, si anak kembar raja yang bernama Naga berbuat sesuka hatinya. Ia suka menghamburkan harta dan berfoya-foya. Sementara si buaya dikenal sebagai sosok yang pemurah, hemat, dan bahkan suka menolong orang yang kesusahan.

Si buaya mencoba menasehati saudaranya tersebut, tetapi bukannya menerima malah saudaranya tersebut marah dan mengajak debat. Bukan hanya berdebat memakai mulut, pertikaian pun akhirnya pecah dengan melibatkan anak buah sehingga menimbulkan banyak korban jiwa.

Dalam pelayarannya sang raja, sang raja tiba-tiba merasa resah, seperti ada yang sedang terjadi sesuatu dikerajaan. Maka kemudian sang raja memerintahkan nahkoda kapal berbalik menuju istana kerajaan. Sesampai di sana, sang raja terkejut dan kaget melihat kedua putranya berperang dengan sengitnya. Sang raja benar-benar murka. Dengan lantang ia berkata kedua putranya yaitu naga dan buaya.

“Sungguh keterlaluan! Kalian telah merusak ketentraman di negeri ini. Banyak prajurit kerajaan yang tewas. Kiranya kalian sibuk sendiri dan rakyat tak terurus. Kalian berdua harus dihukum! Buaya, jadilah engkau seekor buaya yang hidup di air. Dan engkau diperbolehkan menetap disini karena kesalahanmu sedikit. Kuperintahkan engkau untuk menjaga Pulau Mintin. Sedangkan engkau naga, jadilah engkau seekor naga. Kamulah penyebab kekacauan dikerajaan ini, dan pergilah engkau ke Kapuas. Kamu bertugas melindungi sungai kapuas agar tidak ditumbuhi Cendawan Bantilung.”

Kutukan sang raja berakibat fatal. Langit mendadak menjadi gelap, kilat dan petir tak henti-hentinya menggelegar. Sesaat kemudian si buaya menjelma menjadi seekor buaya dan berdiam di Pulau Mintin, sedangkan Si Naga berubah menjadi seekor ular naga dan hidup di Sungai Kapuas.


Cerita Danau Lipan

Danau Lipan adalah sebuah tempat di daerah kecamatan Muara Kaman yang terletak di kabupaten Kutai Kertanegara,Kalimantan Timur. Danau Lipan ini adalah sebuah tempat padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu, tidak ada airnya. Lalu kenapa bisa disebut dengan sebutan Danau Lipan?

Dahulu daerah Muara Kaman berupa lautan. Tepi lautnya terletak diberubus. Pada waktu itu terdapat sebuah kerajaan yang pelabuhannya disinggahi kapal-kapal dalam dan luar negeri. Tidak hanya pelabuhannya yang terkenal, tetapi putri cantik dari kerajaan itu juga sangat terkenal ke segala penjuru. Putri Aji Berdarah Putih itulah namanya.

Diceritakan bahwa nama tersebut diberikan ketika sang putri sedang menyirih lalu meminum air sepahannya yang berwarna merah. Nampak terlihat air mengalir dari kerongkongannya. Ini karna sangking halus dan putihnya kulit sang putri. Ia adalah gadis yang cantik jelita sampai tidak ada bandingannya pada saat zaman itu, sehingga namanya tersohor hingga ke negeri cina.

Mendengar kecantikan Putri Aji Berdarah Putih tersebut, Raja Cina membawa pasukannya pergi ke Berebus dengan membawa kapal besar yang mereka hendak melamar sang putri.

Mendengar rencana kedatangan raja dari cina, Putri Aji Berdarah Putih mempersiapkan pesta penyambutannya. pada suatu hari tibalah sang raja cina di kerajaan putri aji. Mereka disambut dengan meriah. Banyak makanan dan minuman yang disajikan, juga dilengkapi dengan tari-tarian yang menarik hati.

Puri Aji Berdarah Putih yang sudah mengetahui maksud kedatangan raja cina menyambutnya dengan hangat. Tapi tak pernah diduga oleh sang putri sebelumnya, kelakuan raja cina bagai seekor binatang yang rakus memekan hidangan langsung dari wadah tanpa menggunakan tangan.

“Huh! jorok benar kelakuan raja cina ini. Sungguh tak tahu sopan santun, menyesal aku telah menyambutnya dengan meriah”. Gumam Sang Putri dengan jijik.

Selesai makan dan minum dengan liar sang raja cina melamar Putri Aji.”Hai Putri yang cantik jelita, maukah engkau menjadi permaisuriku?” kata raja cina.

Dengan tegas Putri Aji menjawab,”Aku tidak sudi menjadi permaisuri dari raja yang jorok dan tidak tau sopan santun.”

Jawab putri aji membuat raja cina murka. Ia kembali kenegerinya. Tapi sakit hatinya dan kemarahannya tidak hanya sampai disitu. Sang raja cina menyiapkan pasukannya untuk menyerang kerajaan putri aji.

Beribu-ribu pasukan raja cina datang kekerajaan putri aji. Akhirnta pertempuran sengit tidak terelakkan. Putri aji juga tidak mau kalah dari raja cina. Ia pun mempersiapkan pasukannya yang gagah berani untuk membendung serangan dari pasukan raja cina. Banyak para prajurit dari kedua belah pihak yang gugur. Meskipun demikian, raja cina selalu menambah pasukannya untuk menyerang pasukan kerajaan putri aji.


Cerita Putri Niwer Gading

contoh cerita rakyat jenaka

Dahulu kala dikisahkan di Negeri alas, termasuk wilayah Nangro Aceh Darussalam ada seorang raja yang bijaksana dan dicintai rakyatnya. Ia memerintahkan dengan adil dan bijaksana, sehari-hari ia memfikirkan rakyatnya dan agar negerinya menjadi negeri yang maju dan makmur.

Namun sayang, sang raja tak mempunyai seorang anak yang akan mewarisi kerajaannya nanti. Mereka sedih atas nasehat orang pintar raja dan permaisuri yang menakwilkan seperti itu. Sang raja dan permaisuri akhirnya bertirakat puasa dan tak putus-putusnya berdo’a kepada untuk meminta keturunan. Alhasil, permaisuri akhirnya hamil dan mengandung. Setelah sembilan bulan dilewatinya, permaisuri melahirkan anak laki-laki yang tampan dan diberi nama Amat Mude.

Belum genap setahun umur Amat Made sang raja yaitu ayahnya meninggal dunia.

Karna Amat Made yang masih bayi belum bisa mewarisi dan meneruskan kerajaan sang ayah, akhirnya adik sang raja atau paman (Pakcik) Amat Made diangkat menjadi raja sementara.

Pakcik itu bernama Raja Muda. Setelah diangkat menjadi raja, ia malah bertindak kejam kepada Amat Made dan ibunya.

Mereka malah diasingkan ke sebuah hutan yang amat terpencil. Raja muda ingin mengusai kerajaan ayah amat made sepenuhnya. Padahal ia adalah raja sementara dan hak sebagai raja adalah amat made.

Walau dibuang jauh dari istana, permaisuri sama sekali tidak mengeluh, ia menerima cobaan berat itu dengan sabar dan tabah. Ia besarkan amat made dengan penuh kasih sayang. Tahun demi tahun berlalu tak terasa amat made sudah tubuh dewasa dan menjadi anak yang yang cerdas dan tampan.

Amat Made suka memancing di sungai. Pada suatu hari, Permaisuri dan amat made pergi ke sebuah desa dipinggir hutan untuk menjual ikan. Tanpa disangka, ia bertemu dengan saudagar kaya. Ternyata ia adalah bekas sahabat ayahnya dulu ketika masih hidup.

“Mengapa Tuan Putri dan Tuan Mahkota berada ditempat ini dan menjual ikan?” tanya saudagar itu dengan heran.

Akhirnya permaisuri menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kepada saudagar kaya tersebut. Mendengar hal itu, saudagar tersebut segera mengajak mereka kerumahnya dan membeli semua ikannya. Setibanya dirumah, saudagar kaya itu menyuruh istrinya segera memasak ikan tersebut. Ketika sedang memotong perut ikan, sang istri merasa heran karena dari perut ikan itu keluar telur ikan yang berupa emas murni. Kemudian butiran emas tersebut  dijual ke pasar oleh isteri saudagar kaya. Uangnya digunakan untuk membangun rumah permaisuri dan puteranya. Sejak saat itu, permaisuri dan amat made telah berubah menjadi orang kaya berkat telur-telur emas dari perut ikan tersebut.

Cerita tentang kekayaan permaisuri dan putranya akhirnya terdengar ke telinga raja muda.

Pada suatu hari, raja muda memanggil amat made ke istana. Ia memerintahkan amat made memetik kelapa gading untuk mengobati penyakit istri sang raja muda, kelapa gading itu terletak disebuah pulau ditengah laut. Konon lautan disekitar pulau itu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapapun yang melewati pulau tersebut pastilah ia akan celaka.

Raja muda mengancam amat made jika ia tidak berhasil mengambil kelapa gading tersebut dan jika ia tak berhasil maka ia akan dihukum mati.. Tapi amat made tak perduli dengan ancaman raja muda itu. Niatnya tulus hendak menolong istri raja muda. Ia pun segera berangkat ke pulau tersebut dan bergegas meninggalkan istana.

Setibanya dipantai , ia duduk termrnung. Tiba-tiba muncul dihadapannya seekor ikan besar yang bernama Si Lenggang Raye yang di dampingi oleh Raja Buaya dan seekor Naga Besar.

Singkat cerita, amat made telah menemukan pohon kelapa gading dengan bantuan si Lenggang Raye, raja buaya dan seekor naga. Selanjutnya amat made memanjat pohon. Ketika sedang memetik buah kelapa gading, tiba-tiba terdengar suara perempuan.

“Siapa pun yang berhasil memetik buah kelapa gading, maka dia akan menjadi suamiku.”

“Siapakah engkau?” tanya amat made.

“Aku adalah putri NIwer Gading”. Jawab suara dari bawah pohon kelapa gading.

Amat made dengan cepat ia memetik buah kelapa gading tersebut, setelah ia turun dari atas pohon kelapa itu alangkah takjubnya amat made melihat kecantikan Putri Newer Gading.

Akhirnya amat made pun mengajak sang putri pulang kerumahnya untuk dipersunting. Setelah menikah, amat made  beserta istri dan ibunya berangkat ke istana untuk menyerahkan buah kelapa gading.

Kedatangan amat made membuat sang raja muda terheran-heran. Orang yang berhasil melewati rintangan dipulau angker pastilah ia adalah orang sakti. Ia tidak mau main-main lagi. Sang raja muda tidak mempunyai alasan lagi untuk ingin membunuh keponakannya itu.

Akhirnya raja muda sadarakan kesalahannya. Ia memohon maaf kepada permaisuri dan amat made. Beberapa hari kemudian amat made di angkat menjadi Raja Negeri Alas.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita di atas adalah Ketika musibah sedang terjadi diperlukan kesabaran, ketabahan dan keikhlasan menerimanya. Dan dengan bekerja keras kita akan sampai pada perbaikan nasib.


Cerita Asal Negeri Lempur

cerita rakyat panjang

Pada zaman dahulu, disebuah hutan belantara terdapat Kerajaan Pamuncak Tiga Kaum. Kerajaan itu diperintah oleh tiga bersaudara, yaitu Pamuncak Rencong Talang, Pamuncak Tanjung Seri, dan Pamuncak Koto Tapus.

Pada suatu ketika, hasil panen rakyat diwilayah kekuasaan Pamuncak Rencong Talang sungguh melimpah. Pamuncak Rencong Talang bermaksud mengadakan pesta panen dengan mengundang kerabat dan keluarganya. Karena tidak bisa hadir maka Pamuncak Tanjung Seri mengutus isteri dan kedua anaknya menghadiri pesta tersebut.

Singkat cerita, mereka telah sampai di negeri Pamuncak Rencong Talang. Hari kenduridan pesta panen pun tiba. Telah dirundingkan bahwa pesta akan diadakan selama tiga hari tiga malam. Pada malam ketiga itu hadirlah anak dara dari Pamuncak Tanjung Seri yang menjadi incaran para pemuda. Dikisahkan bahwa pesta berlangsung dengan sangat meriah sampai sampai tak terasa ayam jantan pun telah berkokok berkali-kali.

Hari telah benar-benar telah larut. Akhirnya si ibu gadis itu mengajak anaknya pulang, namun gadis itu tidak mengacuhkan panggilan ibunya.

Ada seorang pemuda yang ada didekatnya bertanya kepada gadis itu, siapa perempuan tua yang memanggilmu itu? Mendengar pertanyaan itu  maka gadis itu menjawab,”O…Perempuan itu adalah pembantu saya.”

Mendengar hal itu sang ibu dari gadis itu sakit hati. Keesokan harinya mereka pulang. Dikisahkan ketika rombongan itu  tiba di daerah antara Pulau Sangkar dan Lolo yang berawa dan berlumpur. Maka berdoalah isteri Pamuncak Tanjung Seri kepada Tuhan, agar anaknya yang durhaka itu ditelan oleh rawa lumpur. Rupanya do’a itu langsung dikabulkan oleh Tuhan. Si Dara itu terjerat kakinya oleh rawa yang berlumpur itu, sehingga ia terbenam makin dalam. Kemudian ia meminta tolong kepada ibu dan pengawalnya. Namun, ibunya tiada mengacuhkan.

“Aku bukanlah ibumu, aku hanyalah pembantumu!”

Si Gadis itu terus juga berteriak memint tolong  kepada ibunya sambil berkata,”Tolong…..tolong ibu……,aku tidak akan durhaka lagi kepadamu…maafkan aku ibu…”

Ibunya tak mau mendengarkan permintaan anaknya itu. Malah ia mengambil gelang  dan selendang Jambi yang dipakai anaknya itu. Setelah diambilnya gelang dan selendang tersebut, maka tenggelamlah gadis itu.

Setelah kejadian itu, negeri itu dinamai oleh penduduknya dengan nama Lempur yang berasal dari kata Lumpur.

Sementara itu, gelang tersebut dibuang disebuah tebat, sehingga tebat tersebut dinamakan Tebat Gelang. Kemudian kain panjang jambi dibuang pula ke dalam tebat lainnya, sehingga tebat itu diberi nama Tebat Jambi.


Cerita Ayam dan Ikan Tongkol

cerita dongeng rakyat

Dikisahkan pada zaman dahulu ada persahabatan antara ayam jantan dan ikan tongkol. Sahabat ini saling membantu dalam kesulitan. Pada suatu hari, rakyat ayam mengajak rakyat ikan tongkol menghadiri acara syukuran nelayan di pinggir pantai.

Sebelum datang acara itu, kepala suku ikan tongkol meminta agar rakyat ayam memberi tau mereka bila fajar tiba. Sebab, jika terbit fajar air laut akan surut dan menjadi kering.

Oleh karena itu, rakyat ikan tongkol harus segera kembali ke laut. Kepala suku ayam Menyanggupi permintaan kepala suku ikan tongkol itu.

Rakyat ikan tongkol kemudian berbondong-bondong mendatangi pantai. Rakyat ikan tongkol sangat menikmati syair-syair dan dzikir di acara itu.

Tanpa di sadari, hari sudah sangat larut dan rakyat ikan tongkol sudah tertidur pulas. Tanpa di duha juga, ternyata rakyat ayam juga ikut tertidur pulas.

Ketika waktu subuh tiba, tak ada satu pun rakyat ayam jantan yang berkokok, padahal air laut sudah surut. Akhirnya bencana pun menimpa rakyat ikan tongkol.

Rakyat ikan tongkol sangat kaget bukan kepalang. Ketika mereka bangun dari tidur, hari sudah pagi dan daratan sudah kering. Mereka tidak dapat kembali lagi ke laut.

Para ikan tongkol pun segera berhamburan ke lubang-lubang karang yang berisi air yang terletak di sekitar pantai. Tapi sebagian besar lagi ikan tongkol ada yang terjebak di daratan dan tidak bisa pergi ke mana-mana.

Pagi itu, seluruh penduduk pantai terkejut melihat banyak sekali ikan tongkol yang menggelepar-menggelepar kekeringan di sekitar pantai.

Semua penduduk beramai-ramai mengambil ikan tongkol tersebut. Mengetahui hal itu kepala suku ikan tongkol sangat marah pada ayam jantan karena ia tidak berkokok dan membangunkan rakyat ikan tongkol yang sedang tertidur pulas.

Sejak saat itu ayam dan ikan tongkol saling bermusuhan. Para nelayan akan cepat mendapatkan ikan tongkol dengan cara mudah sekali jika umpan nya adalah umpan bulu ayam jantan.


Cerita Si Pahit Lidah

contoh cerita rakyat singkat

Dahulu kala, ada seorang pangeran bernama serunting, ia adalah keturunan raksasa dari daerah sumidang. Salah satu sifat buruk nya yaitu selalu iri hati dengan kepunyaan nya orang lain. Rasa iri itu di rasakan nya juga kepada saudara iparnya, adik dari istrinya sendiri yang bernama Ariya tebing.

Rasa iri tersebut berlanjut dengan pertengkaran di antara keduanya. Bertengkaran tersebut berlanjut menjadi permusuhan yang besar. Penyebabnya ialah mereka saling memiliki ladang padi bersebelahan yang hanya di pisahkan oleh pepohonan.

DI bawah pepohonan itu ditumbuhi cendawan. Cendawan yang tumbuh menghadap ladang ariya tebing menjadi logam emas, sedangkan cendawan yang menghadap ladang serunting tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.

Serunting menuduh ariya tebing telah menggunakan ilmunya untuk mengubah cendawan miliknya menjadi tumbuhan ilalang. Pada suatu hari, terjadilah perkelahiaan sengit antara serunting dan area tebing.

Karena serunting nya yang lebih sakti, ariya tebing terdesak dan hampir terbunuh. Namun ariya tebing mampu berhasil melarikan diri. Kemudian ia menemui dan membujuk kakaknya (istri dari serunting) Untuk memberi taukan rahasia kesaktian serunting.

Setelah mendengar rahasia kesaktian nya serunting, ariya tebing kembali menantang serunting. Serunting menerima tantangan itu. Ketika perkelahian berada pada puncaknya, ariya tebing hampir saja dikalahkan. Pada saat terdesak itu, ariya tebing melihat ilalang yang bergetar.

Segera ia menancapkan tombaknya pada ilalang yang bergetar itu. Serunting langsung terjatuh dan terluka parah. Serunting kaget, karena adik iparnya dapat mengetahui rahasianya itu, padahal kesaktian nya hanya istrinya yang tau.

Merasa serunting dikhianati istrinya, ia pun pergi mengembara. Serunting pergi bertapa ke gunung si guntang. Oleh dewasa mahameru, ia di janjikan kekuatan ghaib.

Kesaktian itu berupa kemampuan lidahnya mengubah sesuatu sesuai yang di inginkan nya. Selanjutnya, ia berniat kembali ke kampung nya di daerah sumidang.

Dalam perjalanan pulang tersebut, ia menguji kesaktian nya. DI tepi danau ranau, ia berjumpa dengan hamparan pohon-pohon tebu yang sudah menguning.

Serunting lalu berkata, “Jadilah batu.” Maka benarlah, tanaman itu berubah menjadi batu. Ia pun mengutuk setiap orang yang ia jumpai di tepian sungai jambi untuk menjadi batu.

Sejak saat itu, serinting mendapat julukan si pahit lidah. Setelah sekian lama berjalan dari satu daerah ke daerah lainnya, si pahit lidah pun sadar atas kesalahannya dan ia ingin menebus segala kesalahan dengan kebaikan.

Diceritakan, ia mengubah bukit serut yang gundul menjadi hutan kayu dan rimbun. Penduduk setempat senang dan menikmati hasil hutan yang melimpah.

Walaupun kata-kata yang keluar dari mulutnya telah berbuah manis, serunting tetap dijuluki sebagai si pahit lidah.


Cerita Si Putri Malam

contoh dongeng legenda

Dahulu kala ada eorang pemuda yang hidup sebatang kara. Namanya Penyumpit.

Ia tinggal disebuah rumah kecil peninggalan orang tuanya. Ketika ayah penyumpit masih hidup, ayahnya sering berhutang kepada seorang kepala desa yang bernama Pak Raje.

Pak Raje adalah orang yang kaya raya pada saat itu, namun ia memiliki sifat yang jahat dan licik. Utang ayah penyumpit tidak pernah lunas karena Pak Raje selalu melipat gandakan hutangnya.

Walau kedua orang tua penyumpit telah meninggal, namun hutang-hutang ayahnya oleh pak raje tidak dianggap lunas.

Penyumpit harus membayar hutang ayahnya dengan cara menjaga sawah milik pak raje yang padinya sudah mulai menguning. Penyumpit harus menjaga sawah tersebut siang dan malam.

“Hai Penyumpit, hati-hati menjaga sawahku. Jika sampai sawahku rusak, aku akan mendendamu. Kamu harus membayar semua kerusakan itu!” demikian pesan pak raje sebelum penyumpit berngkat ke sawah. Padahal pak raje tahu kemungkinan besar sawahnya bisa rusak karena dimasuki babi-babi hutan.

Jika tugas yang satu sudah selesai Pak Raje akan memberinya tugas yang baru. Sekarang tugas penyumpit cukup berat, jika siang ia harus menuai padi yang siap panen. Jika malam ia harus menjaga sawah agar tidak dirusak oleh babi-babi hutan.

Selama sudah berjalan tujuh hari penyumpit melakukan tugasnya dengan baik. Pada hari ke delapan ia sedang asyik duduk di danau mengawasi sawah pak raje, tampak seekor babi hutan memasuki wilayah persawahan pak raje.

Dengan cekatan penyumpit melemparkan tombaknya yang ia bawa ke arah babi hutan tersebut.

Dari kejauhan terdengar pekik kesakitan babi hutan. Ternyata mata tombak penyumpit mengenai kaki babi hutan. Kemudian penyumpit dengan cepat ia berlari ke arah babi hutan yang sedang terluka. Namun babi hutan tersebut sudah hilang lenyap. Hanya ada tetesan darah dari kaki babi hutan yanag terkena tombak tadi, darahnya berceceran disepanjang jalan.

Penyumpit kemudian mengikuti jejak tetesan darah tersebut hingga ke dalam hutan. Ia ingin mengetahui letak persembunyian para babi hutan. Makin lama semakin dalam ia masuk ke hutan, hingga suatu ketika penyumpit dikagetkan oleh berubahnya babi tadi yang ia lukai menjadi seorang puteri yang cantik. Ia pun terdiam beberapa saat seolah tak percaya dengan apa yang terjadi dan dengan apa yang dilihatnya.

“Wahai puteri yang cantik, kaukah babi yang terluka tadi?” tanya penyumpit.

“Benar…Akulah yang tadi menjelma menjadi seekor babi. Namaku Puteri Malam” ucap gadis itu sambil menahan dan sedikit merintih kesakitan.

“Maafkan aku Puteri…Aku telah melukaimu. Mari aku bantu mengobati luka dikakimu,” ucap penyumpit menawarkan diri untuk membantu.

Secara hati-hati dan perlahan-lahan penyumpit membersihkan luka dan menghentikan darah yang mengalir di kaki putri malam. Ia menggunakan tumbuhan sekitar yang berkhasiat obat untuk menyembuhkan luka di kaki sang putri.

Keesokan harinya, putri malam sudah bisa berjalan kembali. Sebagai tanda terimakasih ia memberikan beberapa bungkusan yang berisi kunyit, buah nyatoh, daun simpur, dan buah jering kepada penyumpit.

“Ingat ya penyumpit, kamu baru boleh membuka bungkusan ini setelah tiba di rumah,” Pesan sang putri kepada penyumpit.

Penyumpit akhirnya kembali ke rumah dan mematuhi pesan sang putri malam. Setibanya di rumah, ia segera membuka bungkusan tadi.

Betapa terkejutnya penyumpit, ternyata bungkusan yang berisi rempah-rempah itu berubah menjadi emas, berlian, permata, dan intan.

Si penyumpit ini menjadi orang yang kaya raya. Kemudian ia pergi ke rumah pak raje untuk membayar semua hutang-hutang almarhum ayahnya.

Selain itu ia juga terbebas dari tindakan sewenang-wenang pak raje yang memperkerjakan nya siang dan malam. Pak raja tak harus pikir melihat penyumpit dapat melunasi hutang-hutang almarhum ayahnya yang berjumlah begitu besar.

“Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini penyumpit? Jangan-jangan kamu telah mencuri ya. Aku tak mau menerima harta yang haram,” Ucap pak raje.
“Maaf tuan, saya tidak pernah mencuri dari siapa pun. Uang ini saya dapatkan dengan halal ada seorang putri cantik yang baik hati memberikan ini semua kepada saya,” Kata penyumpit menjelaskan kepada pak raje.
“Putri…? Putri siapa?” Tanya pak raje penasaran.

Penyumpit menjelaskan peristiwa malam itu, ia mengatakan semuanya kepada pak raje sampai ia mendapatkan bungkusan dari putri malam yang isinya telah berubah menjadi barang-barang yang berharga.

Rupanya pak raje tertarik untuk mendapatkan harta dengan cara yang semudah itu. Diam-diam pak raje ingin meniru apa yang pernah dilakukan penyumpit malam itu.

Ia ingin menjaga sawahnya sendiri dan kemudian menombak babi hutan yang masuk ke sawah. Pak raje mengikuti babi yang terluka dan masuk ke dalam hutan.

Di dalam hutan ia mengobati babi hutan yang terluka seperti ketika penyumpit menyembuhkan luka si putri malam yang menjelma menjadi babi hutan.

Sesudah itu pak raje tertawa sendiri di dalam hatinya dia berharap akan mendapatkan harta yang berlimpah. Malam itu, pak raje melaksanakan keinginannya. Ia menjaga sawah nya sendiri.

Tapi karena ia tidak terbiasa berjaga malam pak raje pun mengantuk dan bertidur pulas. Pada saat ia tertidur puluhan babi hutan bertubuh besar menyerangnya bertubi-tubi.

Ada yang menyeruduk dan ada yang menginjak-injak tubuh pak raje. Dan akhirnya pun pak raje mati mengenaskan dengan tubuh tersobek-sobek ke sana kemari.

Ke esokan harinya, kematian pak raje tersebar keseluruh kampung. Putri tertua pak raje menyampaikan kejadian itu kepada penyumpit.

Penyumpit terkejut mendengar pak raje mati karena mengikuti jejaknya menombak babi hutan. Kemudian penyumpit datang ke rumah pak raje.

Di sana ia melihat tubuh pak raje yang sudah tak utuh lagi. Meskipun pak raje berbuat jahat pada penyumpit, penyumpit tak pernah ada rasa dendam dalam hatinya.

Dengan niat baik penyumpit berusaha menolong pak raje dengan mengucapkan doa dan mantra khusus untuk memohon kehidupan kembali pak raje kepada para dewa.

Sungguh ajaib! Doa penyumpit akhirnya terkabulkan. Tubuh pak raje menyatu dengan sendirinya. Luka-luka pada pak raje pun sembuh dan ia bisa hidup kembali.

Pak raje pun merasa malu kepada penyumpit karena ia selalu berbuat jahat kepada penyumpit.

“Hai penyumpit yang baik budi, maafkan atas segala kesalahanku. Selama ini aku telah berbuat salah kepadamu da keluargamu. Sebagai rasa terima kasihku kepadamu, akan aku nikahkan engkau dengan putri anak perempuanku,” Ucap pak raje pada penyumpit.

Beberapa hari kemudian, penyumpit menikah dengan anak perempuannya pak raje. Sekarang penyumpit menjadi orang yang kaya raya. Ia hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.

Pak raje pun sekarang berubah menjadi orang yang baik hati dan tidak sombong. Ketika usia pak raje semakin tua, pak raje meminta si penyumpit menjabat sebagai kepala desa menggantikan kedudukannya.


Cerita Telaga Bidadari

dongeng cerita rakyat

Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar.

Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih dan bening.

Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis burung dan serangga hidup dengan riangnya. “Hmm, alangkah indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan yang luar biasa,” gumam Datu Awang Sukma.

Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air.

“Mungkinkah mereka itu para bidadari?” pikir Awang Sukma. Tujuh gadis cantik itu tidak sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut terletak di dekat Awang Sukma.

“Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang di pohon itu,” gumam Datu Awang Sukma.

Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masing-masing. Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya.

“Jangan takut tuan putri, hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba,” bujuk Datu Awang Sukma.

Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima pertolongan Awang Sukma.

Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia.

Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam.

“Apa kira-kira isinya ya?” pikir Putri Bungsu.

Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan berteriak gembira. “Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang pada suaminya.

Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. “Kini saatnya aku harus kembali!,” katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayinya.

Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan.

“Kanda, dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik,” kata Putri Bungsu kepada Datu Awang Sukma.” Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa.

“Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya,” ujar Putri Bungsu.

Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menatap sedih dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.

Pesan moral: Legenda Telaga Bidadari mengajarkan kita, jika kita menginginkan sesuatu hendaknya dengan cara halal. Kita tidak boleh mencuri, merampok harta milik orang lain, karena sewaktu-waktu dapat menjadi batu sandungan dalam meraih cita-cita. Kitapun tidak boleh menyimpan perbuatan busuk, karena pada suatu saat akan ketahuan juga.


Cerita Rakyat Dari Jawa

cerita rakyat yang singkat dan menarik

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda.

Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.

Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati.

Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan Buku Mimpi dan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.

Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.

Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.

Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.

Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.

Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.

Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.

Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.


Cerita Rakyat Asal Mula Kota Banyuwangi

cerita legenda singkat
cerita legenda singkat

Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana.

Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya.

Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.

“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya.

Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya.

“Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.

“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya.

Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang.

“Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”.

“Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang.

Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.

Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa.

Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya.

Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya.

Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.

Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan.

Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang.

Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya.

Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu.

Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan.

“Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.

”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati.

Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.

Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan.

Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya.

“Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya.

Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.

“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolak!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong..

“Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati.

Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.

Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar.

“Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.

Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

Moral : Jangan mudah terhasut oleh ucapan orang, karena sesal kemudian tidak akan merubah hal yang telah terjadi.


Putri Embun Cerita Rakyat dari Timor Timur

contoh cerita legenda
contoh cerita legenda

Alkisah ada seorang raja memerintah kerajaan besar. Dia memerintah dengan sangat adil dan bijaksana. Sang raja menikah dengan seorang gadis yang sangat cantik.

Pada suatu hari, raja ingin berburuh. Dia memerintahkan kepada para abdinya untuk menyiapkan semua keperluan berburuh. Setelah siap semua, berangkatlah mereka ke hutan. Mereka mengejar dan membunuh babi hutan dan rusa yang mereka jumpai.

Malam harinya mereka masih berada di hutan sehingga menyuruh para abdi untuk mendirikan kemah perkemahan sambil menunggu fajar.

Tengah malam raja mendengar jeritan seseorang dari kejauhan. Dia berpikir, tidak mungkin itu suara manusia, mungkin saja suara binatang buas. Raja tidak berani membuktikan suara itu karena takut diterkam binatang buas. Makin lama jeritan itu makin keras, tetapi raja hanya menunggu pagi tiba.

Pada saat burung berliku berkicau, raja bangun dan pergi ke arah datangnya jeritan tanpa sepengetahuan abdi-abdinya. Dia terkejut melihat seorang putri sedang mengerang kesakitan dalam semak belukar.

Raja segera turun dari kuda dan mengangkat putri itu. Selama hidupnya, raja belum pernah melihat putri secantik itu. Raja mengangkat putri itu dan menaikkannya ke atas kuda. Wajah putri itu dipenuhi tetesan embun yang membuat wajahnya kian cantik.

Sampai di perkemahan, raja memerintahkan para abdi untuk membuat api unggun agar putri dapat menghangatkan tubuhnya. Sambil menghangatkan badan, raja bertanya, “Adikku sayang, mengapa kamu menangis sepanjang malam dalam semak belukar?”.

Putri itu menjawab, “Saya kedinginan sepanjang malam. Saya sangat berterimakasih atas bantuan Tuan”.

Menjelang tengah hari mereka mempersiapkan diri untuk kembali ke istana. Sang putri menunggang kuda bersama raja. Para abdi membawah semua hasil buruan.

Sampai di istana, raja meletakkan sang putri di pangkuan permaisuri. Putri itu di angkat anak oleh raja dan di beri nama Feto Kamun karena kulitnya putih bagaikan embun dan terang bagaikan sinar matahari.

Hari dan bulan berlalu, bulan berganti tahun, sang putri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Karena sang putri begitu cantik, permaisuri merasa iri kepada anak angkatnya. Untuk membuktikan apakah Putri Embun lebih cantik dari dirinya permaisuri mengambil cermin ajaib peninggalan leluhurnya.

Permaisuri bertanya kepada cermin itu, “Cermin ajaibku, siapakah lebih cantik, aku atau Putri Embun?”.

Cermin itu menjawab, “Permaisuri memang cantik, tapi Putri Embun lebih cantik”. Permaisuri sangat marah mendengar jawaban cermin.

Pada suatu hari permaisuri memperoleh kesempatan untuk meracuni Putri Embun dengan jalan memasukkan racun ke dalam pisang yang akan dimakan Putri Embun.

Tanpa pikir panjang, Putri Embun mengambil dan memakan pisang itu. Baru saja pisang itu sampai di kerongkongannya, dia langsung pingsan. Tidak lama kemudian, dia meninggal. Pisang itu masih ada dalam kerongkongannya.

Permaisuri merasa gembira karena rencananya berhasil. Dia melaporkan kematian Putri Embun kepada raja sambil mengatakan bahwa Putri Embun meninggal karena sakit yang telah lama di deritanya.

Raja sangat sedih atas kematian anak angkatnya itu. Dia tidak mengizinkan sang putri dikuburkan. Raja menyuruh abdinya membuat peti kaca untuk jasad putrinya. Peti kaca berisi jasad sang putri di naikkan ke atas punggung kuda yang telah di jinakkan yang akan membawahnya ke mana saja.

Setelah beberapa lama berjalan, kuda itu bertemu dengan kuda liar. Mereka saling menyerang sehingga peti jatuh dan hancur berkeping-keping.

Kedua binatang itu menyentuh tubuh Putri Embun sehingga pisang yang tersangkut di kerongkongannya keluar. Putri Embun lansung sadarkan diri dan kembali hidup seperti sedia kala. Kemudian, dia kembali ke istana.

Raja sangat senang karena Putri Embun hidup kembali, tetapi tidak demikian halnya dengan permaisuri. Dia memikirkan lagi bagaimana caranya membunuh Putri Embun.

Pada suatu hari ada seorang pedagang sepatu melewati istana. Semua sepatu yang dijualnya berbeda dengan sepatu yang dijual orang lain.

Sepatu itu mengandung racun. Siapa saja yang memakai sepatu itu, akan mati seketika. Permaisuri sangat senang dengan sepatu yang ditawarkan pedagang itu.

Permaisuri segera membeli sepatu itu dan memberikannya kepada anak angkatnya. Dengan senang hati Putri Embun menerima sepatu itu.

Baru saja sepatu itu dicoba, Putri Embun langsung lemas dan mati. Seperti kejadian pertama, jasad Putri Embun dimasukkan ke dalam peti kaca lalu di naikkan ke atas kuda, dan dilepas di semak belukar. Setiap hari kuda itu berjalan menjauhi istana.

Pada suatu hari, seorang Pangeran yang cakap dan berbudi baik sedang menunggang kuda. Dia melihat kuda yang membawa jasad Putri Embun.

Apa yang di bawa kuda itu? Peti itu sangat indah, mungkin saja ada barang berharga di dalamnya, pikir Pangeran.

Dia mendekati kuda yang jinak itu, lalu menurunkan peti dari punggungnya. Dengan sangat hati hati peti di buka. Ia terkejut ketika melihat seorang putri cantik berbaring di dalamnya. Wajah putri itu tidak berubah walaupun sudah lama meninggal.

Pangeran memperhatikan putri itu dengan seksama. Lantas, terlihatlah sepatu yang dipakai putri sangat berbeda dengan sepatu hiasa.

Sepatu itu lalu di lepas, seketika itu juga Putri Embun hidup kembali dan langsung duduk. Lalu, sang Pangeran menanyakan kejadian yang menimpa sang Putri.

Putri pun meceritakan semua kejadian yang dialaminya. Pangeran terharu mendengar kisah Putri Embun dan bertekad untuk mengambil Putri Embun sebagai pasangan hidupnya. Putri Embun menerima lamaran itu. Setelah beristirahat, mereka menunggang kuda menuju kediaman Pangeran.

Pangeran memperkenalkan Putri Embun kepada kerabat dan teman-temannya. Dia mengatakan bahwa dia akan meminang Putri Embun. Mereka merestui keinginan Pangeran untuk meminang Putri Embun.

Pada upacara perkawinan, mereka menyambut Pangeran dan Putri Embun dengan tari-tarian. Orang-orang terkenal mereka undang untuk menghadiri upacara perkawinan itu. Bapak dan ibu angkat Putri Embun juga hadi pada upacara itu. Ibu angkat Putri Embun merasa malu dan gusar.

Setelah pesta berakhir, ibu angkat Putri Embun langsung bunuh diri karena tidak tahan menahan rasa malu.

Akhirnya, Putri Embun dan Pangeran hidup damai dan sejahtera di tempat yang nyaman. Mereka memerintah dengan adil dan bijaksana.


Cerita ini dapat digolong kedalam dongeng karena ada hal-hal tidak masuk akal. Misalnya Putri Embun yang sudah diracun berkali-kali , bahkan sudah mati, akhirnya hidup kembali.

Akan tetapi cerita ini mengandung ajaran moral, yaitu kebenaran pasti menang dari kejahatan.

Putri Embun adalah tokoh yang mempunyai sifat jujur dan pasrah menerima nasib, sedangkan permaisuri adalah tokoh yang mempunyai sifat dengki, iri hati, senang berbuat curang. Akhirnya, orang yang senang berbuat curang akan menemui ajalnya, sedangkan orang yang berbuat jujur akan mendapatkan kebahagiaan.


Cerita Rakyat Karang Bolong

contoh cerita rakyat

Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras.

Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang terbalutkan kulit.

Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura. Roda pemerintahan menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. “Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan permaisuri,” kata penasehat istana.

Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib.

“Hentikanlah semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah, permaisuri akan sembuh.”

Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan menanyakan hal suara gaib tersebut pada penasehatnya.

“Pantai selatan itu sangat luas. Namun hamba yakin tempat yang dimaksud suara gaib itu adalah wilayah Karang Bolong, di sana banyak terdapat gua karang yang di dalamnya tumbuh bunga karang,” kata penasehat istana dengan yakin.

Keesokannya, Pangeran Kartasura menugaskan Adipati Surti untuk mengambil bunga karang tersebut. Adipati Surti memilih dua orang pengiring setianya yang bernama Sanglar dan Sanglur.

Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka tiba di karang bolong. Di dalamnya terdapat sebuah gua. Adipati Surti segera melakukan tapanya di dalam gua tersebut. Setelah beberapa hari, Adipati Surti mendengar suara seseorang.

“Hentikan semedimu. Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi harus kau penuhi dahulu persyaratanku.”

Adipati Surti membuka matanya, dan melihat seorang gadis cantik seperti Dewi dari kahyangan di hadapannya. Sang gadis cantik tersebut bernama Suryawati. Ia adalah abdi Nyi Loro Kidul yang menguasai Laut Selatan.

Syarat yang diajukan Suryawati, Adipati harus bersedia menetap di Pantai Selatan bersama Suryawati.

Setelah lama berpikir, Adipati Surti menyanggupi syarat Suryawati. Tak lama setelah itu, Suryawati mengulurkan tangannya, mengajak Adipati Surti untuk menunjukkan tempat bunga karang. Ketika menerima uluran tangan Suryawati, Adipati Surti merasa raga halusnya saja yang terbang mengikuti Suryawati, sedang raga kasarnya tetap pada posisinya bersemedi.

“Itulah bunga karang yang dapat menyembuhkan Permaisuri,” kata Suryawati seraya menunjuk pada sarang burung walet.

Jika diolah, akan menjadi ramuan yang luar biasa khasiatnya. Adipati Surti segera mengambil sarang burung walet cukup banyak. Setelah itu, ia kembali ke tempat bersemedi. Raga halusnya kembali masuk ke raga kasarnya.

Setelah mendapatkan bunga karang, Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya kembali ke Kartasura. Pangeran Kartasura sangat gembira atas keberhasilan Adipati Surti.

“Cepat buatkan ramuan obatnya,” perintah Pangeran Kartasura pada pada abdinya. Ternyata, setelah beberapa hari meminum ramuan sarang burung walet, Permaisuri menjadi sehat dan segar seperti sedia kala.

Suasana Kesultanan Kartasura menjadi ceria kembali. Di tengah kegembiraan tersebut, Adipati Surti teringat janjinya pada Suryawati. Ia tidak mau mengingkari janji.

Ia pun mohon diri pada Pangeran Kartasura dengan alasan untuk menjaga dan mendiami karang bolong yang di dalamnya banyak sarang burung walet. Kepergian Adipati Surti diiringi isak tangis para abdi istana, karena Adipati Surti adalah seorang yang baik dan rendah hati.

Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya untuk pergi bersamanya. Setelah berpikir beberapa saat, Sanglar dan Sanglur memutuskan untuk ikut bersama Adipati Surti.

Setibanya di Karang Bolong, mereka membuat sebuah rumah sederhana. Setelah selesai, Adipati Surti bersemedi. Tidak berapa lama, ia memisahkan raga halus dari raga kasarnya.

“Aku kembali untuk memenuhi janjiku,” kata Adipati Surti, setelah melihat Suryawati berada di hadapannya.

Kemudian, Adipati Surti dan Suryawati melangsungkan pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia di Karang Bolong. Di sana mereka mendapatkan penghasilan yang tinggi dari hasil sarang burung walet yang semakin hari semakin banyak dicari orang.


Cerita Rakyat Seorang Putri Kandita

cerita legenda

Alkisah, di daerah Pakwan (kini Kota Bogor), Jawa Barat, tersebutlah seorang raja bernama Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yang bertahta di Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Ia adalah raja yang arif dan bijaksana. Sang Prabu juga mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita dan beberapa selir yang cantik-cantik. Dari hasil perkawinannya dengan sang permaisuri lahir seorang putri yang bernama Putri Kandita.

Putri Kandita memiliki paras yang cantik melebihi kecantikan ibunya. Ia merupakan putri kesayangan Prabu Siliwangi. Ketika ia mulai dewasa, sifat arif dan bijaksana seperti yang dimiliki oleh sang ayah mulai muncul pada dirinya.

Tidak mengherankan jika Prabu Siliwangi bermaksud mencalonkan Putri Kandita sebagai penggantinya kelak. Namun, rencana tersebut ternyata tidak disukai oleh para selir dan putra-putrinya yang lain.

Oleh karena itu, mereka pun bersekongkol untuk mengusir Putri Kandita dan ibunya dari istana.

Suatu malam, para selir Prabu Siliwangi dan putra-putri mereka mengadakan pertemuan rahasia di dalam istana.

“Bagaimana cara menyingkirkan Putri Kandita dan permaisuri dari istana ini tanpa sepengetahuan Prabu?” tanya salah seorang selir.

“Kita harus berhati-hati karena jika Prabu mengetahui rencana ini, maka kita semua akan binasa,” ujar selir yang lain.

Sejenak, suasana pertemuan itu menjadi hening. Semuanya sedang berpikir keras untuk mencari cara yang paling tepat agar rencana mereka dapat terlaksana tanpa sepengetahuan Prabu Siliwangi.

“Sekarang aku tahu caranya,” sahut seorang selir yang lain memecah suasana keheningan.

“Apakah caramu itu?” tanya semua peserta rapat serentak.

“Aku mempunyai kenalan seorang dukun yang terkenal dengan kesaktian ilmu hitamnya. Dukun itu pasti mau membantu kita jika kita memberinya upah yang besar,” jawab selir itu.

Semua peserta rapat setuju dengan cara tersebut. Pada esok hari, para selir mengutus seorang dayang-dayang istana untuk menemui dukun itu di gubuknya di sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari istana.

Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, utusan itu kemudian menyerahkan sejumlah keping uang logam emas kepada sang dukun. Tanpa berpikir panjang, sang dukun pun langsung menyanggupi permintaan para selir tersebut.

Setelah utusan selir itu kembali ke istana, sang dukun segera melaksanakan tugasnya. Dengan ilmu yang hitam dimiliki, dukun itu menyihir

Putri Kandita dan ibunya dengan penyakit kusta sehingga sekujur tubuh mereka yang semula mulus dan bersih, timbul luka borok dan mengeluarkan bau tidak sedap. Prabu Siliwingi heran melihat penyakit borok itu tiba-tiba menyerang putri dan permaisurinya secara bersamaan. Ia pun segera mengundang para tabib untuk mengobati penyakit tersebut.

Para tabib dari berbagai negeri sudah didatangkan, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkan penyakit Putri Kandita dan sang permaisuri.

Bahkan, penyakit sang permaisuri semakin hari semakin parah dan menyebarkan bau busuk yang sangat menyengat. Tubuhnya pun semakin lemah karena tidak mau makan dan minum. Selang beberapa hari kemudian, sang permaisuri menghembuskan nafas terakhirnya.

Kepergian sang permaisuri benar-benar meninggalkan luka yang sangat dalam bagi seluruh isi istana, khususnya Prabu Siliwingi. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang diri.

Satu-satunya harapan yang dapat mengobati kesedihannya adalah Putri Kandita. Namun harapan itu hanya tinggal harapan karena penyakit sang putri tak kunjung sembuh.

Keadaan itu pun tidak disiasiakan oleh para selir dan putra-putrinya. Mereka bersepakat untuk menghasud Prabu Siliwangi agar segera mengusir Putri Kandita dari istana.

“Ampun, Baginda Prabu! Izinkanlah Hamba untuk menyampaikan sebuah saran kepada Baginda,” pinta seorang selir.

“Apakah saranmu itu, wahai selirku? Katakanlah,” jawab Prabu Siliwingi.

“Bagini Baginda. Kita semua sudah tahu bahwa keadaan penyakit Putri Kandita saat ini semakin parah dan sulit untuk disembuhkan. Jika sang putri dibiarkan terus tinggal di istana, Hamba khawatir penyakitnya akan membawa malapetaka bagi negeri ini,” hasud seorang selir.

Mulanya, Prabu Siliwangi merasa berat untuk menerima saran itu karena begitu sayangnya kepada Putri Kandita. Namun karena para selir terus mendesaknya, maka dengan berat hati ia terpaksa mengusir Putri Kandita dari istana.

Dengan hati hancur, Putri Kandita pun meninggalkan istana melalui pintu belakang istana. Ia berjalan menuruti ke mana kakinya melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti.

Setelah berhari-hari berjalan, Putri Kandita tiba di pantai selatan. putri Prabu Siliwingi yang malang itu bingung harus berjalan ke mana lagi. Di hadapannya terbentang samudera yang luas dan dalam. Tidak mungkin pula ia kembali ke istana.

“Ah, aku letih sekali. Lebih baik aku beristirahat dulu di sini,” keluh Putri Kandita seraya merebahkan tubuhnya di atas sebuah batu karang.

Sang Putri tampak begitu kelelahan sehingga dalam beberapa saat saja ia langsung tertidur. Dalam tidurnya, ia mendengar sebuah suara yang menegurnya.

“Wahai, Putri Kandita! Jika kamu ingin sembuh dari penyakitmu, berceburlah ke dalam lautan ini! Niscaya kulitmu akan pulih seperti sediakala,” ujar suara itu.

Putri Kandita pun cepat-cepat bangun setelah mendengar suara itu.

“Apakah aku bermimpi?” gumamnya sambil mengusap-usap matanya tiga kali.

Setelah itu, sang Putri mengamati sekelilingnya, namun tak seorang pun yang dilihatnya.

“Aku mendengar suara itu dengan sangat jelas. Tetapi kenapa tidak ada orang di sekitar sini? Wah, jangan-jangan ini wangsit,” pikirnya.

Meyakini suara itu sebagai sebuah wangsit, Putri Kandita pun menceburkan diri ke laut. Sungguh ajaib! Saat menyentuh air, seluruh tubuhnya yang dihinggapi penyakit kusta berangsur-angsur hilang hingga akhirnya kembali menjadi halus dan bersih seperti sediakala.

Tidak hanya itu, putri kesayangan Prabu Siliwingi itu juga menjadi putri yang sakti mandraguna.

Meskipun telah sembuh dari penyakitnya, Putri Kandita enggan untuk kembali ke istana. Ia lebih memilih untuk menetap di pantai sebelah selatan wilayah Pakuan Pajajaran itu.

Sejak menetap di sana, ia dikenal luas ke berbagai kerajaan yang ada di Pulau Jawa sebagai putri yang cantik dan sakti. Para pangeran dari berbagai kerajaan pun berdatangan untuk melamarnya.

Menghadapi para pelamar tersebut, Putri Kandita mengajukan sebuah syarat yaitu dirinya bersedia dipersunting asalkan mereka sanggup mengalahkan kesaktiannya, termasuk bertempur di atas gelombang laut yang ada di selatan Pulau Jawa. Namun, jika kalah adu kesaktian itu, maka mereka harus menjadi pengikut Putri Kandita.

Dari sekian banyak pangeran yang beradu kesaktian dengan Putri Kandita, tak seorang pun dari mereka yang mampu mengalahkan kesaktian sang Putri.

Dengan demikian, para pelamar tersebut akhirnya menjadi pengikut Putri Kandita. Sejak itulah, Putri Kandita dikenal sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan Pulau Jawa.

Demikian cerita Putri Kandita dari daerah Bogor, Jawa Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang teraniaya seperti Putri Kandita akan ditolong oleh Tuhan Yang Mahakuasa.

Putri Kandita sebagai korban penganiayaan para selir Prabu Siliwingi dapat sembuh dari penyakit kusta berkat pertolongan Tuhan melalui wangsit yang diterimanya.


Ya cukup sekian pembahasan mengenai cerita rakyat, semoga dengan adanya artikel ini bisa menambah wawasan bagi sahabat-sahabatku semuanya, Terimakasih.

Cerita Rakyat

2 pemikiran pada “Cerita Rakyat Yang Singkat dan Menarik”

Tinggalkan komentar