Cerita Malin Kundang Veris Lengkap

10 min read

Cerita Malin Kundang adalah kabar yang berasal dari provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu.

Cerita rakyat yang mirip juga dapat ditemukan di negara-negara lain di Asia Tenggara

Contoh Cerita Rakyat

Cerita Malin Kundang

malin kundang

Dahulu kala di Padang Sumatera Barat tepatnya di perkampungan pantai air manis ada seorang wanita bernama mande rubayah. Sebelumnya mande rubayah hidup bersama suaminya di pedalaman.

Tetapi hidup mereka di sana kurang beruntung. Agar dapat merubah nasibnya mereka kemudian pindah ke perkampungan nelayan di tepi pantai.

Di tempat itu suami mande rubayah merubah mata pencarian nya dari tukang perambah hasil hutan sekarang menjadi nelayan ikan. Mereka bersyukur karena rezki datang dengan lancar, hidup mereka tidak lagi sesulit ketika berada di pedalaman.

Beberapa tahun bertempat tinggal di perkampungan nelayan, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Malin Kundang. Malin Kundang sangat disayangi sama ibuk bapaknya.

Meskipun masih kanak-kanak sudah nampak pada diri malin kundang wataknya yang keras kepala, otak nya cerdas, dan pandai bergaul bersama teman-temannya.

Pada suatu hari sang ayah berangkat melaut “Malin kundang, ayah mau berangkat, hati-hati di rumah bersama ibu, jangan nakal ya” kata sang ayah.

“Ya ayah, malin akan baik-baik saja bersama ibu” Jawab sang anak.

“Istriku, aku mau berangkat. Jaga malin baik-baik ya!”

“Jangan khawatir suamiku, aku akan menjaga anak kita satu-satunya anak ini. Berangkatlah suamiku, doa kita selalu menyertaimu.” Kata mande rubayah.

Tidak seperti biasanya, ada perasaan haru di hati mande rubayah. Kepergian suaminya kali ini terasa amat berat. tau tau kenapa ia punyai perasaan seperti ini.

Sang suami berangkat dengan hati yang lapang, malin kundang masih sempat melambaikan tangannya kepada sang ayah yang menuju ke perahu.

Pada suatu hari kampung nelayan itu dilanda wabah penyakit yang mematikan. Sudah banyak orang yang menjadi korban. Termasuk anak satu-satunya tersayang yaitu malin kundang.

Mande rubayah semakin gelisah karena sudah berhari-hari suaminya belum kembali ke rumah. Sementara penyakit malin semakin hari bertambah parah.

“Apa yang terjadi dengan suamiku, kenapa sudah sepekan ini tidak pulang, apakah ia mendapat musibah di tengah lautan?” Tanya mande rubayah dalam hati.

Tak terasa “Alhamdulillah, anakku akhirnya sembuh.” Desah mande rubayah dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan. Nyama malin yang hampir melayang itu akhirnya dapat di selamatkan berkat usaha keras ibunya.

Setelah malin sembuh dari sakitnya, ia semakin disayang. Begitupun sebaliknya. Karena tidak ada kabar berita tentang suaminya lagi, maka mande rubayah membanting tulang dengan berjualan kue.

Setiap hari ia berkeliling kampung untuk menjual kue nya. Hasilnya lumayan juga, cukup untuk dimakan ia dan anaknya. Tak terasa hari berganti tahun, sekarang malin kundang tumbuh menjadi remaja.

Hasil didikan ayahnya masih membekas dan mengakar dalam dirinya. Ia sudah sering ikut melaut bersama nelayan lainnya.

Ia adalah seorang pemuda yang cerdas dan tangguh. Hasil tangkapan ikannya jauh lebih banyak dibanding teman-temannya. Malin kundang sangat sayang kepada ibunya.

Ia juga dikenal sebagai anak muda yang ramah, tidak sombong sehingga banyak disukai oleh teman-temannya. Akan tetapi ia masih belum puas dengan keadaan nya dan ia sering kali duduk merenung di tepi pantai.

“Nasibku tak akan berubah jika aku tetap di sini dan tetap bergini.” Pikir malin kundang. Aku tak ingin nasibku tetap seperti ini, dikarenakan ibuku sudah tua dan aku belum pernah menyenangkan hati.

Aku akan merantau, semoga nasibku menjadi lebih baik, jika aku menjadi orang sukses maka ibuku akan ku ajak dan kubangunkan rumah yang bagus dan indah.

Tidak hanya di tepi pantai, di rumah pun ia juga sering kelihatan melamun sehingga sang ibu menegurnya. “Apa yang sedang kau lamunkan anakku?” Tegur mande rubayah.

“Oh ibu, tidak ibu, tidak apa-apa.” Sahut malin. kundang.
“Apakah karena kau sudah dewasa dah harus aku carikan anak gadis sebagai pendamping hidupmu?”
“Ah ibu, aku belum memikirkan hal itu.”
“Lalu apa yang kau sembunyikan dariku wahai anakku? Coba kau utarakan kepadaku.”

Malin kundang langsung terdiam, disatu pihak ia kasihan kepada ibunya yang sudah semakin tua, haruskah ia tinggalkan ibunya seorang diri.

Disisi lain juga ia berfikir bahwa ia harus pergi dari kampung halamannya untuk merubah nasib nya.
Dengan berat hati akhirnya ia berkata juga, “ibu, tolong izinkan aku untuk pergi merantau merubah nasib untuk mencari rezki.”

“Kenapa anakku, bukankah disini kita tak pernah kesulitan, dan aku juga masih sanggup untuk terus berjualan kue.”
“Benar ibu, kalau sekedar untuk makan memang sudah cukup, tapi apakah ibu sudah puas dengan keadaan hidup seperti ini?”
“Jadi apa yang kau inginkan wahai anakku?”
“Ibu aku selalu bermimpi memiliki rumah yang bagus, pakaian yang indah dan mahal untuk ibu. Nasib kita tidak akan seperti ini terus. Ibu tidak usah bekerja menjual kue kalau aku berhasil merantau dan akan ku sediakan pelayan yang akan memenuhi segala keperluan ibu.”

Mande rubayah terharu mendengar perkataan anaknya, tanpa terasa air matanya menetes di pipi.
“Oh anakku, jadi kau pergi merantau hanya karena semata-mata ingin menyenangkan dan membahagiakan ibumu. Sungguh mulia cita-citamu. Itu tandanya kau adalah anak yang benar-benar berbakti.”
“Memang itulah cita-citaku wahai ibuku.”
“Kalau begitu aku tidak keberatan. Sewaktu-waktu boleh pergi.”
“Berarti ibu mengizinkan aku untuk merantau?”

Kemudian malin kundang bersiap-siap untuk merantau. Malin kundang berangkat meninggalkan kampung halaman pantai air manis. Sang ibu melepasnya dengan cucurnya air mata dengan diiringi doa.

“Ya Tuhan, lindungilah anakku dari segala mara bahaya.”

Dengan berat hati akhirnya mande rubayah mengizinkan anaknya pergi dengan dibekali nasi bungkus daun pisang sebanyak 7 bungkus.

malin kundang pergi merantau

Setelah sekian lama dalam perjalanan. Malin kundang sampai di pelabuhan besar yang ramai dengan para pedagang dan kapal-kapal layar yang besar.

Di dermaga pelabuhan nampak sebuah kapal besar yang akan siap berlayar menuju negeri seberang. Kemudian malin kundang mendekati kapal itu.

Dan ia bertemu dengan mahkota kapal.
“Saya bermaksud mencari pekerjaan di kapal. Tolonglah saya tuan, berilah saya pekerjaan apapun untuk saya kerjakan.”
“Apakah kau benar mau bekerja apa saja di kapal ini?”
“Benar tuan.”

Malin kundang mulai bekerja sebagai awak kapal dagang. Awalnya ia bekerja sebagai tukang pembersih geladak kapal, karena rajin dan cerdas ia di sayang oleh sang nahkoda.

Tak jarang jika ada waktu luang ia membantu keperluan pribadi sang nahkoda dan ia juga bersedia memijat sang nahkoda jika sedang lelah. Hal itu membuat sang nahkoda menyayangi nya.

Lama kelamaan sang nahkoda yang tak punya anak itu menganggap malin kundang sebagai anaknya sendiri dan malin kundang di ajari tata cara mengemudi kapal dan berdagang.

Ketika sang nahkoda sudah lanjut usia, malin kundang diangkat sebagai penggantinya. Sungguh malin kundang sangat pandai dan berbakat menjadi pedagang, dalam beberapa tahun saja ia sudah memiliki kapal sendiri dan ia berniaga ke berbagai negeri.

Konon ia menjadi sangat kaya raya karena ia menemukan harta karun di sebuah pulau terpencil. Harta itu di dapat dari sebuah peta yang diberikan oleh ayah angkatnya.

Dengan harta karun tersebut kekayaan nya semakin berlimpah. Karyawan dan pegawainya semakin banyak dan ia dikenal sebagai saudagar muda tampan yang sangat disegani.

Di sebuah pelabuhan di negeri malaka ia mendirikan bangunan megah untuk kantor dagangnya. Keberhasilan malin kundang terdengar sampai ke negeri minang tempat kelahirannya.

Malin kundang menikah dengan seorang gadis cantik putri saudagar kaya raya. Kehidupan malin semakin mapan dan bahagia. Sementara itu, hari-hari berlalu terasa lambat bagi mande rubayah.

Setiap pagi dan sore mande rubayah memandang ke laut. Ia bertanya-tanya dalam hati, sampai di manakah anakku kini?

Jika ada ombak dan badai besar menghempas ke pantai, dada nya berdebar-debar. Ia menengadahkan ke dua tanga nya ke atas sambil berdoa agar anaknya selamat dalam pelayaran.

Jika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. Tetap semua awak kapal tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan.

Malin kundang juga tak pernah menitipkan suatu apapun atau pesan apapun kepada ibunya. Itulah yang dilakukan mande rubayah setiap hari selama bertahun-tahun di tinggal anaknya merantau.

Tubuh sang ibu semakin tua dimakan usia. Jika berjalan ia mulai terbungkuk-bungkuk. Pada suatu hari, mande rubayah mendapat kabar dari teman yang pernah merantau ke malaka, bahwa sekarang malin kundang telah menikah dengan seorang gadis cantik putri seorang bangsawan yang kaya raya.

Mande rubayah turut gembira mendengar kabar itu. Ia selalu berdoa agar anak nya selamat dan segera kembali menjenguknya.

“Ibu sudah tua malin, kapan kau pulang wahai anakku” Rintih mande rubayah tiap malam.
“Ya tuhan, lindungilah anakku dari segala mara bahaya, pertemukanlah aku dengannya sebelum ajal menjemputku.”
“Namun hingga berbulan-bulan semenjak ia menerima kabar, malin kundang beleum juga datang menjenguknya. Namun mande rubayah yakin bahwa suatu saat nanti anakku akan kembali untuk menjenguknya.

Harapanya terkabul. Pada suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang indah berlayar menuju pantai. Kapal itu sangat megah dan bertingkat-tingkat.

Orang kampung mengira bahwa kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan sangat gembira.

Ketika kapal itu mulai merapat, tampak sepasang muda mudi berdiri dianjungan. Pakaian mereka berkilauan karena terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum dan mereka nampak bahagia karena disambut dengan meriah.

Mande rubayah yang sudah tua rentak itu terbaring sakit di rumahnya. Burhan dan istrinya (teman malin kundang) Segera mendatangi mande rubayah yang terbaring di rumah.

Mereka memapah mande rubayah yang berjalan dengan tertatih-tatih menuju tepi pantai. Dengan susah payah mande rubayah ikut berdesakan melihat dan mendekati kapal.

Jantungnya berdebar keras. Dia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anak kesayangannya. Yaitu si malin kundang. Ibu malin kundang langsung memeluk malin kundang erat-erat, seolah-olah ia takut kehilangan anaknya lagi.

ibu malin memeluk erat malin kundang

“Malin anakku,” Teriakan sang ibu sambil menahan isak tangis karena gembira. “Mengapa kau begitu lama tidak memberi kabar kepada sang ibu?”

Malin terpanah karena dipeluk oleh wanita tua rentah yang berpakaian compang camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya.

Seingat malin ibunya adalah seorang wanita yang berbadan tegar, kuat menggendongnya ke mana saja. Sebelum dia berfikir dengan tenang, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata. “cuih! wanita buruk inikah ibumu? Mengapa membohongiku?

Lalu dia meludah lagi. “Bukankah dulu kau katakan ibumu seorang bangsawan sederajat dengan kami?”

Mendengar kata istrinya, malin kundang mendorong wanita itu (ibu kandungnya) hingga terguling ke pasir. Mande rubayah hampir tidak percaya pada perlakuan anaknya,

ia jatuh terduduk sambil berkata, “Malin, malin, anakku, aku ini ibumu nak”

Malin kundang tidak menghiraukan perkataan ibunya. Pikirannya kacau karena ucapan istrinya. Seandainya wanita itu benar ibunya, dia tidak akan mengakuinya juga.

Karena ia malu kepada istrinya. Wanita itu bersi keras hendaknya memeluk kakinya, namun malin kundang menendangnya sambil berkata, “Hai perempuan tua! Ibuku tidak seperti engkau, melarat dan dekil!”

Ibu malin terkapar di pasir. Burhan dan istrinya hampir tak percaya melihat kejadian itu.
“Malin…..!” Teriak burhan, “setega itukah hatimu dia adalah ibumu, ibu kandungmu sendiri!”
“Hai siapa kau anak muda?” Hardik malin pada burhan.
“Aku burhan temanmu sejak kecil”
“Aku tidak mengenalmu!” Bentak malin.

Mande rubayah yang barusan terkapar dengan susah payah di bantu istri burhan untuk segera berdiri, “Malin…. Benarkah kau sudah lupa pada aku ‘ibumu mande rubayah’?”
“Hai wanita tua dan miskin, aku adalah saudagar kaya, aku bukanlah anakmu. Pergilah kau dari hadapanku.”

cerita lengkap malin kundang

Ibu malin akhirnya hanya bisa menangis. “Ya Allah, ternyata malin kundang malu mengakui aku sebagai ibunya.”
tiba-tiba malin kundang menunjuk ke arah bendahara kapal, “Hai bendahara kapal, berilah uang pada wanita tua ini agar ia tidak menggangguku.”

Kemudian mande rubayah dengan cepat menyahutnya, “Tidak! Aku tidak butuh uangmu!”
“Hai wanita tua dan miskin , jika kau tidak butuh uangku, lalu apa yang kau inginkan dariku?”
“Aku hanya butuh pengakuan bahwa aku adalah ibumu yang setiap hari aku merindukan mu”
” Sudah ku katakan aku bukanlah anakmu, dan kau bukanlah ibuku! Jika kau memaksaku untuk mengakui kau adalah ibuku, maka akan ku suruh orang-orangku berbuat kasar kepadamu.”

Mande rubayah terhenyak, benar-benar hancur hatinya dan sakit hati. Dengan lemas ia berkata lembut, “Baiklah anak muda, mungkin mataku ini sudah rabun, salah mengenali orang. Untuk itu, aku minta maaf kepadamu karena aku telah mengganggumu.”

“Nah…, seharusnya dari tadi kau tau diri wahai ibu tua.” Sahut malin.

Tiba-tiba mande rubayah mampu berdiri tegak. Entah kekuatan apa yang menyertainya. Sepasang matanya berkilat-kilat, ketika bicara suara terdengar lantang.

“Tetapi anak muda…! Jika kau adalah anakku yang ku beri nama malin kundang, yang ku kandung selama sembilan bulan sepuluh hari. Dan ku bersarkan dengan cucuran air susuku, maka terkutuklah engkau!”

Semua orang kaget dan miris mendengar ucapan wanita renta itu. Wanita tua itu kemudian bersimpuh di atas tanah sembari berdoa, “Ya Allah ya Tuhanku, engkau lebih tau hukuman apa yang harus engkau berikan kepada anak durhaka ini! anak yang telah mencaci maki ibunya dan orang banyak! Ya Allah, tunjukkanlah kebesaran-Mu.”

ibu malin kundang berdoa

Kemudian malin kundang dan istrinya berserta seluruh awak kapal dan penduduk yang berkerumunan merinding mendengar ucapan mande rubayah.

“Burhan, mari kita tinggalkan tempat ini!” Kata mande rubayah. Wanita itu segera dipapah lagi menuju rumahnya.

Banyak orang terpanah dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Rombongan malin kundang juga segera kembali ke kapal. Tak berapa lama pantai air manis sudah sepi.

Kapal berlayar ke tengah laut dan meninggalkan bekas kekecewaan seorang ibu tua yang tersisa-sia. Di dalam kapal pesiar yang mewah, malin kundang nampak gelisah. Bagaimanapun ia tidak bisa membohongi diri sendiri dan ia memikirkan akan ngerinya kutukan ibunya.

Terbesit rasa sesal di dalam hatinya. “Mengapa aku tega berbuat demikian padahal ia adalah benar ibu kandungku sendiri.”

Di dalam hatinya yang lain ia menghibur diri, mudah-mudahan wanita tua itu memang bukan ibunya. Dan kutukan nya tidak akan menjadi kenyataan ia akan hidup bahagia bersama istrinya hingga hari tua nanti.

Jika ia ingat istrinya ia jadi gemetar dan menyesal, karena rasa malu pada keluarga istrinya ia telah tega berbuat jahat terhadap ibunya.

Gara-gara ucapan dan hinaan istrinya ia jadi menghina ibunya sendiri.

“Oh ibu….maafkan anakmu ini!” Tanpa sadar terdengar teriakan lirih dari bibir malin kundang.

Istri malin kundang yang berada disampingnya kaget mendengar ucapan suaminya.

“Wahai suamiku ada apakah kiranya? Apakah wanita tua itu benar-benar ibumu?” Tanya istri malin dengan gelisah

Kapal terus bergerak menuju tengah laut. Melalui gunung menuju malaka. Tiba-tiba cuaca yang tadinya cerah berubah total menjadi gelap dan kelam. Tak berapa lama kemudian hujan turun dengan lebarnya disertai dengan badai.

Langit semakin gelap, angin bertiup semakin kencang, gelombang lautan semakin tinggi. Tiba-tiba terdengar suara halilintar menyambar membelah langit dan disusul dengan hujan badai yang menimbulkan gelombang besar mengamuk.

Jika alam sudah murka tak ada lagi kesombongan manusia. Mereka hanya berusaha semampunya, lalu pasrah kepada sang pencipta alam. Malin kundang keluar dari bilik menuju geladak kapal.

Ia berusaha memberi arahan kepada anak buahnya agar dapat mengendalikan kapal yang sudah tak karuan arahnya. Tiba-tiba nampak bayangan ibunya yang saat itu ia dorong hingga jatuh rebah ke tanah.

“Ibu….!” Tanpa sadar ia berteriak memanggil ibunya.

Istri malin kundang sangat kaget, ia ikut keluar ke geladak melihat suaminya kebingungan dan ketakutan seperti melihat hantu.

“Suamiku apa yang terjadi?” Tanya istri malin dengan penuh rasa takut dan khawatir.
“Wanita tadi… wanita tua dan miskin itu… dia adalah ibuku sendiri, ibuku kandungku sendiri!”
“Apa? Wanita itu benar ibumu? Astaga! Celakalah kita kali ini!”
“Benar! Aku telah durhaka kepada ibuku sendiri, ibu yang telah mengandung dan membesarkanku dengan air susu dan kasih sayangnya. Sungguh aku telah berdosa dan terkutuk, sungguh aku menyesal.”
“Wahai suamiku, mengapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?”

Malin seperti tak mendengar pertanyaan istrinya lagi. Gemuruh ombak dan petir bersahut-sahutan, menambah seramnya suasana di tengah laut, kapal oleng kesana kemari tanpa dapat di kendalikan lagi.

Tiba-tiba ombak setinggi bukit menghempas dan menerjang kapal malin kundang. Kapal terguncang hebat sehingga tubuh istri malin terlempar ke laut.

“Suamiku…! Tolong aku …..!”

Malin hanya bisa memandangi tubuh istrinya yang terjatuh ke laut. ia tak bisa menolong, menyelamatkan diri sendiri saja ia tak mampu. Satu-persatu awak kapalpun ikut terlempar ke laut, malin semakin takut dan panik.

“Ibu…. Ampuni aku… Maafkan aku,….. Cabutlah kutukanmu….!”

Suara gemuru ombak dan badai terlalu keras dan dahsyat menelan suara anak manusia yang bagaikan setitik debu di tengah laut.

“Oh ibu…., Maafkanlah aku…!”

Tapi nasi sudah menjadi bubur, Rasa sakit hati seorang ibu tua telah berubah menjadi kekuatan alam yang dahsyat.

Gelombang laut semakin mengganas, diiringi badai dan guntur yang membahana. Tak terhindar lagi, di telur air manis kapal malin terhempas dan kandas. Malin kundang telah tewas.

Ketika matahari pagi telah memancarkan sinarnya, badai sudah redah. Di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu, itulah kapal malin kundang.

Tak jauh dari tempat itu nampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia sedang bersujud meminta ampun. konon itu lah tubuh malin kundang si anak durhaka yang di kutuk oleh ibunya menjadi batu.

DI sela-sela batu itu banyak ikan berenang-renang. Konon,ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari suaminya, malin kundang.

Demikianlah, sampai sekarang jika ada ombak besar yang menghantam batu-batu yang mirip kapal dan manusia itu terdengar bunyi seperti lolongan jerit manusia.

Sungguh memilukan kedengarannya. Kadang-kadang bunyinya seperti orang yang meratap menyesali diri. “Maafkan aku ibu…. Maafkan aku ibu…!” Konon itu lah suara si malin kundang.

Barang siapa yang durhaka kepada orang tuanya, terutama kepada ibunya, maka orang tersebut tidak akan bisa masuk surga kecuali setelah mendapat pengampunan dari ibunya.

Demikianlah legenda malin kundang. Tentang kebenarannya hanya Allah SWT yang maha mengetahui. Yang jelas, hikmah dibalik kisah ini adalah seorang ibu pasti sengsara dan menderita jika anaknya sudah berhasil jadi orang kaya tapi ternyata tak mau mengakui sebagai ibu.

Gambar Batu Malin Kundang

batu malin kundang

Gambar di atas ini adalah foto asli batu yang di anggap sebagai jelmaan malin kundang. Batu tersebut hingga sekarang masih ada dan menjadi obyek wisata di pantai teluk air manis sumatera barat

Cerita Malin Kundang

Tari Topeng Kesenian Budaya

admin
4 min read

Kunci Dasar Gitar

admin
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *