Cerita Fabel Menarik, Lucu, dan Singkat

Dongeng yang menunjukkan hewan- hewan selaku figur utamanya disebut cerita fabel. Dalam cerita fabel, karakter binatang itu dapat berkepribadian seperti orang, semacam berdialog, makan, minum, dan berkeluarga.

Di Indonesia sendiri terdapat banyak narasi cerita binatang yang berkembang. Apalagi, cerita- cerita itu bersifat mengajar sebab mempunyai catatan akhlak yang mendalam karna mempunyai kandungan ajaran hidup bagi manusia.

Contoh Cerita Fabel

cerita fabel
cerita dongeng

Cerita Fabel Persahabatan – Kenari, Gagak, dan Merpati

Kenari telah nampak sibuk sejak pagi di dapur. dia sedang mempersiapkan makanan. Rupanya kedua teman- temannya, Merpati serta Gagak, hendak tiba ke rumahnya.

Kenari mau menyambut mereka dengan baik. Sesudah semua makanan sedia, Kenari membereskan rumahnya. Menjelang siang, Merpati tiba.

Kenari menyambut Merpati dengan ramah. dia mempersilakan Merpati untuk langsung ke meja makan. Tak lagi beberapa lama, Gagak tiba. dia juga disambut ramah oleh Kenari, dan langsung turut berbaur dengan Merpati.

Mereka terus menikmati hidangan makanan.

“ Astaga, Kenari. Rumahmu amat rapi,” menyanjung Gagak disaat memandang rumah Kenari yang benar sangat rapi.

Kenari tersipu malu.“ Biasa saja, Gagak. Saya sering merapikannya tiap hari.”

cerita fabel

“ Oh, layak saja rumahmu sering bersih. Tidak hanya rumahmu yang rapi, bulumu pula amat menawan,” lanjut Gagak. Sementara itu, Merpati cuma tutup mulut. dia lagi menikmati hidangan Kenari yang sungguh enak.

“ Tutur hewan di hutan, suaramu pula merdu. Mereka mencermati nyanyianmu pada pagi hari. Sangat, sempurnanya dirimu.” Gagak selalu menyanjung.

“ Janganlah berlebihan begitu. Menurutku, tiap hewan memiliki kelebihan masing- masing. Iya, kan, Merpati?” pertanyaan Kenari pada Merpati.

Merpati cuma mesem.

“ Kenari, saya mau mendengar suara indahmu. Bernyanyilah buat kami,” pinta Gagak.

Mereka juga menghabiskan waktu dengan bernyanyi bersama- sama. Disaat hari semakin petang, Gagak dan Merpati berpamitan pulang.

Dari depan pintu rumah, Kenari melepas kepulangan 2 teman- temannya. Merpati serta Gagak pulang bersama- sama.

Di tengah perjalanan, Gagak membuka percakapan.

“ Menurutku, rumah Kenari tidak begitu rapi. Corak kulitnya juga tidak bagus- bagus amat. Apalagi suaranya, membuat kuping panas,” kata Gagak.

Merpati cuma tutup mulut.

“ Gimana menurutmu, Merpati?” pertanyaan Gagak.

“ Menurutku, rumah Kenari benar rapi. Rumahku tidak serapi rumahnya. Corak bulunya pula menarik. Belum lagi suaranya, sungguh merdu,” jawab Merpati.

Olala, Gagak jadi malu. Ternyata, Merpati tidak senang dengan perilaku Gagak yang berparas 2. Di depan Kenari, Gagak memuji- muji Kenari. Sedangkan di belakang Kenari, Gagak malah menjelek- jelekkan Kenari. Merpati juga terbang meninggalkan Gagak sendirian.

Catatan moral dari Cerita Fabel Dongeng Pertemanan merupakan teman, janganlah kayak gagak, yang gemar menyanjung di depan, namun di belakang menjelekkan. Kamu bakal dijauhi sahabat bilamana bersikap kayak gagak.


Cerita Fabel – Jangan Suka Iri Tawon dan Kupu-kupu

Korry sang tawon nampak terbang sendirian. Beliau lagi mencari madu. Beliau juga terbang dari satu bunga ke bunga lain.

Korry kemudian hinggap di sekuntum bunga mawar. Rupanya, di situ telah terdapat segerombol kupu- kupu. Mereka sungguh menarik. Sayap mereka juga beraneka warna.

Korry mendekati kalangan kupu- kupu itu.

” Ingin apa anda ke mari?” gertak salah satu kupu- kupu yang bernama Lili.

Tiba- tiba, Korry menyudahi. dia amat terkejut.

” Saya mau mencari madu bersama kamu,” jawab Korry dengan polos.

” Tidak bisa! Kalian cari bunga di tempat lain saja. Kita khawatir terserang sengatmu,” cegah Fifi, serta kupu- kupu yang lain.

Mendengar percakapan itu, Korry bersedih. dia menunduk dan terbang menjauh.

Sesekali, Korry menatap kalangan kupu- kupu itu. Tentu bakal mengasyikkan bila dapat bersahabat dengan mereka.
Mereka semua cantik, serta banyak anak yang mengajak mereka main. Tidak semacam saya yang sering dijauhi, pikir Korry.

Seketika, terdengar kerusuhan. Olala, kerusuhan itu bermula dari kalangan kupu- kupu. Korry menatap ke kalangan kupu- kupu itu. Nyatanya betul. Anak- anak itu mengejar mereka.

Korry semakin pilu. Mereka nampak asik bersenang- senang.
Kala Korry akan terbang semakin jauh, seketika…

” Tolong! Tolong!” terdengar suara jeritan.

Tiba- tiba, Korry langsung berputar serta mencari asal suara.

Nyatanya yang berteriak yaitu kalangan kupu- kupu.

” Loh, bukannya mereka lagi main dengan kanak- kanak?” gumam Korry, bingung.

Korry menatap Lili sang kupu- kupu terperangkap oleh jaring salah satu anak. Ah, Lili bahkan akan dimasukkan ke dalam stoples kaca! Menatap perihal itu, Korry jadi tegang.

Korry langsung terbang mendatangi anak itu, serta menunjukan sengatnya. Dengan sekali tusukan, sengat Korry menusuk di lengan anak itu, Anak itu meringik kesakitan. Seketika…

Prang!

Stoples di tangan anak itu jatuh serta pecah- pecah. Dengan cekatan, Lili terbang meninggalkan anak yang kesakitan itu.

Lili serta kalangan kupu- kupu lain saling berpelukan. Sedangkan Korry, dia cuma menatap dari kejauhan.
dia mau mendekat, dan bertanya apakah Lili baik- baik saja. Namun, urung dia lakukan.

dia khawatir bakal kembali diperlakukan dengan tidak bagus oleh kelompok kupu- kupu itu.
Akhirnya, Korry mengambil keputusan terbang menjauh. Namun, seketika, dia mendengar namanya dipanggil.

” Korry!” Korry langsung mencari suara yang memanggil namanya. Nyatanya Lili serta sahabatnya. Korry pun menyudahi.

” Maafkan kita, Korry. Kita telah melakukan tidak baik kepadamu, namun kalian malah sudah membantu kita,” cakap Lili.

” Tidak apa- apa,” jawab Korry dengan halus.

” Sesungguhnya, kami cemburu kepadamu. Kalian memiliki sengat, serta selalu dijauhi oleh kanak- kanak. Sedangkan kanak- kanak selalu membahayakan kita,” nyata Lili sembari tertunduk diam.

” Maukah kalian jadi sahabat kita?” pinta Lili.

Betapa senangnya Korry. dia tersenyurn sembari mengangguk. Lili serta sahabatnya pun merangkul Korry.

Dikala itulah, Korry baru sadar, bahwa Tuhan menciptakan makhluk dengan kekurangan serta kelebihan masing- masing.

Tidak ada insan sempurna di dunia ini. Lebih bagus mernanfaatkan kelebihan diri sendiri, ketimbang cemburu dengan kelebihan orang lain.

Catatan moral dari Ilustrasi Cerita Dongeng Hewan ini yakni Tuhan menciptakan kita dengan kelemahan serta kelebihan masing- masing. Jadi, janganlah iri dengan kelebihan yang orang lain punya. Malah, manfaatkan lah kelebihan yang kita punya buat hal- hal yang positif.


Cerita Fabel – Si Burung Pipit

cerita fabel

Burung Pipit beserta keluarganya tinggal di suatu hutan yang indah. Hidup di atas tumbuhan cemara beserta ke 3 anaknya yang belum bisa terbang.

Tiap pagi burung Pipit mencari santapan. Kewajiban untuk induk burung mencarikan santapan buat ke 3 anaknya. Dikala itu burung Pipit pamit kepada ke 3 anaknya. Ia berpesan biar senantiasa di sangkar itu. Bagaikan bunda tentu kuatir kepada anak- anaknya. Khawatir dimakan binatang buas.

” Anak- anakku bunda mencari santapan dahulu ya, senantiasa di mari jangan kemana- mana” pesan bunda burung Pipit.

Burung Pipit berangkat ke hutan seberang mencari santapan. Sebagian menit setelah itu burung Pipit memandang manusia yang lagi bawa senapan.

Burung Pipit kemudian menjauh tetapi dikenal oleh manusia pemburu itu. Sontak kaget burung Pipit terdengar suara letupan dor… dor… dor. menuju ke burung.” Tidak…!” Teriak burung Pipit. Ia tertembak oleh senapan pemburuh. Burung Pipit terjatuh ke tanah kemudian di membawa oleh pemburu itu.

Sebagian dikala setelah itu. Pas di malam hari. Burung Pipit telah di dalam sangkar emas. Serta sayap burung pipit telah diatasi oleh pemburu.

Burung Pipit menangis sebab ia diburuh oleh manusia yang rakus. Serta menangisi gimana kondisi ke 3 anaknya yang lagi lapar.

Burung Pipit memandang kalau dirinya terletak di sangkar emas. Serta ia pula memandang banyak sahabatnya yang sama keadaannya semacam burung Pipit. Terletak di sangkar yang tidak dapat leluasa terbang kesana kemari.


Cerita Fabel – Ulat Yang Sombong

cerita fabel

Di suatu hutan yang rimbun, hiduplah 2 ekor ulat. Yang satu bernama Fintu yang bersifat ramah, rendah hati serta bagus. Sebaliknya yang satunya bernama Tuvi yang bersifat sombong serta gemar menyepelehkan hewan lain.

Pada suatu hari, dikala Fintu lagi mencari makanan, dia berjumpa Tuvi.

“ Hai Tuvi, bolehkah saya meminta sedikit makananmu?” pinta Fintu.

“ Hey, Fintu! Ini makananku dan senantiasa makananku. Sana cari makanan yang lain!” dorong Tuvi.

“ B- baiklah…” Fintu menunduk dan berlalu.

Lain hari, bakal ada acara hutan. Seluruh hewan diundang. Putha sang burung hantu dengan gesitnya memberikan undangan berbentuk daun itu dimalam hari serta menaruhnya di depan pintu rumah para hewan.

Besok harinya, terdengar sorakan dari para hewan.

“ Asik! Tentu di situ terdapat banyak makanan! Saya dapat makan sepuasnya!” teriak Cattya sang anak kucing.

“ Saya juga sanggup makan biji- bijian, kan? Oh betul, untuk para ulat kamu hening saja, saya tidak bakal memakan kalian, kenapa!” teriakan Chacky sang ayam jago.

Fintu cuma mesem mendengar pernyataan sahabatnya itu Akan tetapi tiba- tiba…

“ Ah, ini cuma acara kecil! Amati saja, suatu saat kelak, saya bakal membuat acara yang lebih besar!” Dengan angkuh Tuvi berbicara.

“ Tuvi! Anda tidak bisa sedemikian itu!” asyik Piku sang beruang madu.

“ Huh! Biarkan saja!” menanggapi Tuvi sembari pergi.

Beberapa hari setelah itu, Tuvi serta Fintu telah jadi pupa. Mereka menempuh hidup bagaikan pupa lazim. Beberapa minggu setelah itu, mereka telah keluar dari kepompongnya. Tidak diduga, sayap Tuvi nyatanya bercorak gelap! Sebaliknya Fintu malah beraneka warna.

Tuvi tahu, ini dampak keangkuhannya. dia amat menyesal.


Cerita Fabel – Kisah Seorang Singa dan Tikus

cerita fabel

Seekor raja hutan lagi tidur- tiduran di suatu padang rumput di hutan. Perutnya lapar, karna sejak pagi mulanya ia belum melahap sesuap makanan juga. Tiba- tiba penciumannya serasa mendapatkan ada makanan di dekatnya. Ia mulai mencari- cari apa kiranya yang dapat dimakannya itu. Nyatanya, seekor tikus lagi bersenda gurau di balik rerumputan.

“ Hai, tikus, mengerti kah kalian jika anda sudah menggangguku” tutur raja hutan sambul mengaum, menampilkan taringnya yang tajam“ Aaauuuummmmmmm……..!!”“ Awas engkau akan kujadikan hidangan pertamaku hari ini”. Dengan cekatan ia meloncat, serta dalam sekejap, tikus kecil yang apes itu telah berada dalam genggamannya.

“ Oh, singa yang bagus, janganlah anda makan diriku,” ujar tikus itu kekhawatiran setengah mati.“ Di rumahku 7 ekor anakku lagi menungguku dan makanan yang lagi kubawa ini”, tikus menghiba. Air matanya mulai menetes dari matanya. Ia menangis… cit…cit.. cit…cit.

“ Ho…ho…ho.. aummmmm, saya tidak bakal melepaskanmu tikus kecil. Perutku telah lapaaaar sekali. Bisa pingsan saya jika tidak makan sekarang,” raja hutan sudah bersiap akan memasukkan tikus malang itu ke dalam mulutnya.

“ Hai, raja hutan, gimana jika kita bikin perjanjian. Hari ini biarkan saya pergi. Saya bertekad hendak membantu kamu nanti jika anda dalam kesusahan,” kata tikus mulai berani.

“ Gimana bisa jadi makhluk kecil sepertimu membantu saya yang kuat dan besar ini. ho.. ho.. ho.. aummmmm…!” Akan tetapi si Raja hutan kasihan juga akhirnya menatap Tikus kecil itu menangis.“ Baiklah, kali ini anda kulepaskan. Lagian dagingmu tentu tidak dapat mengenyangkan perutku. Sana! segera pergi…!!”

Tikus dengan senang hati berlari meninggalkan raja hutan sembari jerit,“ Terima kasih singa…”.

Suatu hari tikus lagi berjalan- jalan di dekat rumahnya. Seketika ia mendengar suara seekor raja hutan lagi mengaum, nampaknya kesakitan.“ Auummmmm…. aduuuuhhh… tolooong…tolooong.”“ Saya terkena jebakan pemburu nakal… tolooong, auuummmm.”

Tikus segera mendatangi asal suara itu. Rupanya raja hutan masuk jebakan yang dibuat pemburu.“ Janganlah kawatir raja hutan, saya tiba menolongmu…!” teriakan tikus pada raja hutan.“

Cepatt! saya telah tidak tahan lagi…. auuummmm.” tutur raja hutan. Tikus segera melompat masuk kedalam lubang jebakan. Satu demi satu ikatan jebakan yang mengikat raja hutan ia gigit sampai putus.

Dan akhirnya… raja hutan terbebas. Segara ia melompat pergi dari lubang jebakan.“ Terima kasih Tikus, jika tidak ada kamu, tentu saya telah ditangkap pemburu nakal itu. Akhirnya sejak itu Raja hutan dan Tikus berteman serta selalu main bersama.


Cerita Fabel – Raja Hutan/Singa Mengira Dirinya Kambing

Cerita, di suatu hutan luas terdapat seekor induk raja hutan yang mati sehabis melahirkan buah hatinya. Anak raja hutan yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa saat kemudian serombongan kambing tiba melewati tempat itu. Anak raja hutan itu menggerak- gerakkan tubuhnya yang Iemah.

Seekor induk kambing tergerak hatinya. dia merasa belas kasih memandang anak raja hutan yang lemas serta hidup satu batang kara. Serta terbitlah nalurinya buat merawat serta melindungi anak raja hutan itu. Si induk kambing kemudian mendatangi anak raja hutan itu serta membelai dengan penuh kehangatan serta kasih cinta. Merasakan hangatnya kasih cinta semacam itu, sang anak raja hutan tidak mau berakhir dengan si induk kambing. dia lalu mengikuti ke mana saja induk kambing pergi. Jadilah dia bagian dari keluarga besar kumpulan kambing itu.

Hari berganti hari, dan anak raja hutan berkembang dan besar dalam didikan induk kambing serta hidup dalam komunitas kambing. dia menyusu, makan, minum, bermain bersama kanak- kanak kambing yang lain.

Tingkah lakunya pula seperti kambing. Apalagi anak raja hutan yang mulai berani dan besar itu pun mengeluarkan suara seperti kambing ialah mengembik bukan mengaum! dia merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing- kambing yang lain. dia cocok sekali tidak sempat merasa kalau dirinya merupakan seekor raja hutan.

Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala liar masuk berburu kambing buat dimangsa. Kambing- kambing berhamburan tegang. Seluruhnya ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan memohon anak raja hutan itu untuk menghadapi serigala.

” Kamu raja hutan, segera hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras serta serigala itu tentu kabur ketakutan!” Tutur induk kambing pada anak raja hutan yang telah nampak besar serta perkasa.

Akan tetapi anak raja hutan yang semenjak kecil hidup di tengah- tengah komunitas kambing itu malah turut ketakutan dan bahkan bersembunyi di balik badan induk kambing. dia berteriak sekeras- kerasnya dan yang keluar dari mulutnya yakni suara embikan. Sama semacam kambing yang lain bukan auman. Anak raja hutan itu tidak dapat melakukan apa- apa kala salah satu anak kambing yang tidak lain merupakan kerabat sesusuannya diterkam dan dibawa kabur serigala.

Induk kambing sedih karna salah satu buah hatinya tewas disantap serigala. dia menatap anak raja hutan dengan perasaan nanar serta marah.

” Sepatutnya kalian dapat membela kami! Sepatutnya kalian dapat menyelamatkan saudaramu! Seharusnya sanggup mengusir serigala yang kejam itu!”

Anak raja hutan itu cuma dapat menunduk. dia tidak mengerti dengan arti percakapan induk kambing. dia sendiri merasa khawatir pada serigala sebagaimana kambing- kambing lain. Anak raja hutan itu merasa amat sedih karna dia tidak mampu melakukan apa- apa.

Hari berikutnya serigala buas itu tiba lagi. Kembali berburu kambing- kambing buat dimakan. Kali ini induk kambing terjebak dan telah dicengkeram oleh serigala. Seluruh kambing tidak ada yang berani membantu. Anak raja hutan itu tidak kuasa melihat induk kambing yang telah dia anggap selaku ibunya dicengkeram serigala. Dengan berani dia kabur serta menyeruduk serigala itu. Serigala terkejut bukan kepalang menatap terdapat seekor raja hutan di hadapannya dia membebaskan cengkeramannya. Serigala itu bergetar kekhawatiran! Nyalinya habis! dia pasrah, dia merasa hari itu merupakan akhir hidupnya!

Dengan amarah yang luar biasa anak raja hutan itu berteriak keras,” Emmbiiik!”

Terus dia mundur ke belakang. Mengutip ancang ancang buat menyeruduk lagi.

Menatap tingkah anak raja hutan itu, serigala yang buas dan licik itu langsung tahu kalau yang ada di hadapannya yakni raja hutan yang bermental kambing. Tidak ada kelainannya dengan kambing. Seketika itu pula ketakutannya hilang. dia menggeram marah dan sedia memangsa kambing berbadan raja hutan itu! Maupun raja hutan bermental kambing itu!

Dikala anak raja hutan itu menerpa dengan menyerudukkan kepalanya seperti kambing, si serigala sudah siap dengan kuda- kudanya yang kokoh. Dengan sedikit berkelit, serigala itu menyobek wajah anak raja hutan itu dengan cakarnya. Anak raja hutan itu terjerembab serta mengaduh, semacam kambing mengaduh. Sedangkan induk kambing melihat kejadian itu dengan rasa takut yang luar biasa. Induk kambing itu bingung, mengapa raja hutan yang perkasa itu kalah dengan serigala. Bukankah singa adalah raja hutan?

Tanpa memberi maaf sedikitpun serigala itu melanda anak raja hutan yang sedang mengaduh itu. Serigala itu sedia menghabisi nyawa anak raja hutan itu. Di dikala yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerpa si serigala. Sang serigala terpental. Anak raja hutan bangun.

Serta pada saat itu, seekor singa dewasa timbul dengan auman yang sengit. Seluruh kambing ketakutan serta merapat! Anak raja hutan itu pula turut khawatir dan ikut mendekat. Sedangkan si serigala langsung kabur terbirit- birit. Dikala singa dewasa akan menerkam kawanan kambing itu, beliau kaget di tengah- tengah kawanan kambing itu terdapat seekor anak raja hutan.

Beberapa ekor kambing kabur, yang lain langsung kabur. Anak singa itu langsung turut kabur. Raja hutan itu sedang tertegun. dia bingung mengapa anak singa itu turut kabur mengikuti kambing? dia mengejar anak singa itu serta mengatakan,” Hai kalian janganlah kabur! Kalian anak singa, bukan kambing! Saya takkan memangsa anak raja hutan!

Akan tetapi anak raja hutan itu terus lari dan kabur. Singa dewasa itu lalu mengejar. dia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tetapi justru mengejar anak singa. Akhirnya anak raja hutan itu tertangkap. Anak raja hutan itu ketakutan,

” Janganlah bunuh saya, ammpuun!”

” Anda anak raja hutan, bukan anak kambing. Saya tidak membinasakan anak raja hutan!”

Dengan meronta- ronta anak singa itu mengatakan,” Tidak saya anak kambing! Bantu lepaskan saya!”

Anak raja hutan itu meronta serta berteriak keras. Suaranya bukan auman namun suara embikan, benar semacam suara kambing.

Si singa dewasa bingung bukan main. Gimana bisa jadi terdapat anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram dia menarik anak singa itu ke telaga. dia harus membuktikan siapa sesungguhnya anak raja hutan itu. Begitu sampai di telaga yang bening airnya, dia memohon anak singa itu menatap bayangan dirinya sendiri. Kemudian membandingkan dengan singa dewasa.

Sedemikian itu menatap bayangan dirinya, anak raja hutan itu kaget,” Oh, paras dan bentukku serupa dengan kalian. Sama dengan singa, sang raja hutan!”

” benar, karna kalian sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!” Tegas singa dewasa.

” Jadi saya bukan kambing? Saya merupakan seekor raja hutan!”

” benar kalian ialah seekor singa, raja hutan yang berwibawa serta disegani oleh semua isi hutan! Mari saya ajarkan gimana jadi seekor raja hutan!” Tutur si singa dewasa.

Singa dewasa terus mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa serta mengaum dengan keras. Anak raja hutan itu terus menirukan, serta mengaum dengan keras. Betul mengaum, menggetarkan seantero hutan. Tidak jauh dari sana serigala buas itu kabur semakin cepat, dia keresahan mendengar auman anak raja hutan itu.

Anak raja hutan itu kembali berteriak penuh kemenangan,” Saya merupakan seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasarPara singa dewasa tersenyum senang mencermatinya.

————

Catatan akhlak dari dongeng Binatang: Raja hutan Beranggapan Dirinya Kambing merupakan tiap orang mempunyai kelebihan serta kekurangan. Banggalah dengan kelebihanmu, serta gunakan buat kebaikan. Sebaliknya, janganlah selaku tidak percaya diri hanya karna kita mempunyai kekurangan.


Cerita Fabel – Cerita Burung Bangau dan Seekor Ketak

Pada era dulu dikisahkan ada suatu danau yang sangat indah. Airnya sangat jernih serta di dalamnya ditumbuhi oleh pokok- pokok teratai yang berbunga sejauh masa. Suasana di dekat danau tersebut sangat indah. Pokok- pokok yang berkembang di sekitarnya hidup dan subur.

Banyak burung yang tinggal di kawasan dekat tasik tersebut. Salah seekornya merupakan burung bangau. Manakala di dalam tasih hidup beragam ikan serta hawan lain. Terdapat ikan telapia sepat, kelah, keli, haruan serta beragam ikan lagi. Tidak hanya daripada ikan, ada pula ketam serta katak yang ikut menghuni tasih tersebut.

Burung bangau sangat suka tinggal di kawasan danau/ tasik tersebut kerana dia bahagia mencari makan. Ikan- ikan kecil di tasik tersebut sangat jinak serta gampang ditangkap. Tiap hari burung bangau sentiasa menunggu di tepi tasik buat menagkap ikan yang tiba berhampiran dengannya.

Sebagian tahun setelah itu burung bangau terus menjadi tua. Dia tidak lagi sekuat dahulu buat menangkap ikan. Kadang- kadangkala dia tidak memperolehi ikan buat dimakan menimbulkan dia berlapar seharian.

Dia berfikir di dalam hatinya seraya mengatakan“ Jika beginilah keadaanya, saya hendak mati kelaparan kerana tidak lagi berdaya buat menangkap ikan. Saya mesti mencari jalur biar saya bisa memperolehi santapan dengan gampang”.

Burung bangau menemukan idea serta berpura- pura duduk termenung dengan perasan pilu di tebing tasik. Seekor katak yang kebetulan terletak di sana ternampak bangau yang sangat sedih hati serta pilu kemudian bertanya“ Kenapakah saya amati akhir- akhir ini kalian asyik termenung serta bersedih sahaja wahai bangau?”. Bangau menanggapi” Saya lagi memikirkan kondisi nasib kita serta seluruh penunggu tasih ini.”“

Apa yang merunsingkan kalian, sebaliknya kita hidup di mari telah sekian lama tidak mengalami sebarang permasalahan.” Jawab katak.“ Awak manalah ketahui, saya kerap terbang ke situ ke ayo serta mendengar manusia lagi berbincang tentang musibah kemarau yang hendak mengenai kawasan ini dalam sebagian bulan lagi. Kau amati sajalah semenjak akhir- akhir ini hari panas semacam aje, hujan juga telah lama tidak turun”.

Bangau menyambung lagi“ Saya khuatir tasik ini hendak kering serta seluruh penunggu di tasik ini hendak mati.” Katak mengangguk- ngangukkan kepalanya bagaikan ciri bersetuju dengan hujah bangau tadi. Tanpa membuang masa katak terus melompat ke dalam tasik buat memaklumkan kepada kawan- kawan yang lain.

Kabar musibah kemarau sudah tersebar ke segala tasikh begitu kilat serta seluruh penunggu tasik berkumpul ditebing sungai dimana bangau terletak. Tiap- tiap riuh rendah menanyakan bangau hendak kabar tersebut. Seekor ikan haruan bertanya kepada bangau“ Apakah cadangan engkau buat menolong kami seluruh?”

Burung bangau mengatakan“ Saya terdapat satu cadangan, namun saya khuatir kalian seluruh tidak bersetuju.”“ Apakah cadangan tersebut” kata haruan seolah- olah tidak tabah lagi mencermatinya. Bangau mengatakan” Tidak jauh dari mari terdapat suatu tasik yang besar serta airnya dalam, saya yakin tasik tersebut tidak hendak kering meski berlaku kemarau yang panjang.”“

Bolehkah engkau bawa kami ke situ” sampuk ketam yang terletak di sana.“ Saya boleh bawa kalian seekor demi seekor kerana saya telah tua serta tidak berdaya bawa kalian lebih daripada itu” kata burung bangau lagi.. Mereka juga bersetuju dengan cadangan burung bangau.

Burung bangau mula mengangkat seekor demi seekor ikan daripada tasik tersebut, namun ikan- ikan tersebut tidak dipindahkan ke tasik yang dikatakannya.

Malahan dia bawa ikan- ikan tersebut ke batu besar yang berhampiran dengan tasik serta dimakannya dengan lahap sekali kerana dia telah tidak makan sepanjang sebagian hari. Sehabis ikan yang dibawanya dimakan habis, dia terbang lagi buat mengangkat ikan yang lain. Begitulah perbuatanya sehingga hingga kepada giliran ketam.

Oleh kerana ketam memiliki sepit dia cuma tergantung pada leher burung bangau dengan memakai sepitnya. Apabila nyaris hingga ke kawasan batu besar tersebut, ketam memandang ke dasar serta memandang tulang- tulang ikan bersepah di atas batu besar.

Memandang kondisi tersebut ketam berasa takut serta berfikir di dalam hatinya“ Matilah saya kali ini dimakan oleh burung bangau.” Kemudian dia memikirkan suatu buat menyelamatkan dirinya dari bangau yang rakus. Sehabis datang di atas batu besar ketam masih lagi berpegang pada leher bangau sembari mengatakan“

Dimanakah tasik yang engkau katakan itu serta mengapa engakau bawa saya di mari?” Bangau juga tergelak dengan terbahak- bahak kemudian mengatakan“ Kali ini sudah datang masanya engkau jadi rezeki saya.”

Dengan perasaan marah ketam menyepit leher bangau dengan lebih kokoh lagi menimbulkan bangau sukar buat bernafas, sembari merayu memohon di lepaskan, dia berjanji hendak menghantar ketam kembali ke tasik tersebut. Ketam tidak mempedulikan rayuan bangau malah dia menyepit lebih kokoh lagi sehingga leher bangau terputus 2 serta bangau juga almarhum.

Dengan perasaan gembira kerana terselamat daripada jadi santapan bangau dia bergerak lambat- laun mengarah ke tasik sembari bawa kepala bangau.

Apabila datang di tasik, kawan- kawannya masih lagi setia menunggu giliran tiap- tiap. Sehabis memandang ketam telah kembali dengan bawa kepala bangau mereka kehairanan serta ketam menggambarkan cerita yang berlaku.

Seluruh fauna di tasik tersebut berasa gembira kerana mereka terselamat daripada jadi santapan burung bangau yang tamak serta mementingkan diri sendiri. Mereka mengucakpan terima kasih kepada ketam kerana sudah menyelamatkan mereka seluruhnya


Cerita Fabel – Kisah Buaya Yang Serakah

cerita fabel

Di pinggiran sungai terdapat seekor buaya yang lagi kelaparan, telah 3 hari Buaya itu belum makan perutnya terasa la sekali ingin tidak ingin hari ini ia wajib makan karena jika tidak bisa- bisa dia hendak mati kelaparan. Buaya itu lekas masuk ke dalam Sungai dia berenang lambat- laun menyusuri sungai mencari mangsa.

Buaya memandang seekor bebek yang pula lagi berenang di sungai, Bebek ketahui ia lagi diawasi oleh Buaya, ia lekas menepi. Memandang mangsanya hendak kabur Buaya lekas mengejar serta akhirnya Bebekpun tertangkap.

Ampun Buaya, tolong jangan mangsa saya, dagingku sedikit, mengapa kalian tidak memanglah sa kambing saja di dalam hutan,” ucapnya seraya menagis ketakutan

“ Baik, saat ini kau antar saya ke tempat persembunyian Kambing itu,” perintah buaya dengan menampilkan taring yang sangat tajam.

Terletak tidak jauh dari tempat itu terdapat lapangan hijau tempat Kambing mencari makan, serta benar saja di situ terdapat banyak Kambing yang lagi lahap memakan rumput.

“ Berangkat sana, saya ingin memangsa Kambing saja,” Bebek yang merasa bahagia, setelah itu berlari dengan kecepatan penuh.

Sehabis mengintai beberapa lama, pada akhirnya Buaya memperoleh satu ekor anak Kambing yang siap ia santap.“ Tolong, jangan makan saya, dagingku tidak banyak, saya masih kecil, kenpa kalian tidak makan gajah saja yang dagingnya lebih banyak, saya dapat membawakan kalian ke situ”.

“ Baik, segera antarkan saya ke situ!” Anak Kambing itu mengajak buaya ke tepi danau yang luas, di situ terdapat anak Gajah yang besar. Buaya langsung mengejar serta menggigit kaki anak Gajah itu. Walaupun besar, tetapi kulit Gajah itu sangat tebal, jadi tidak dapat melukainya.

Anak Gajah itu berteriak memohon tolong kepada bundanya. Buaya terus saja berupaya menjatuhkan anak Gajah itu, tetapi sayang senantiasa tidak dapat. Mendengar teriakan anaknya, sekumpulan Gajah mendatangi serta memijak Buaya itu hingga tidak dapat bernafas. Buaya itu tidak dapat melawan, sebab dimensi bunda Gajah itu sangat besar, ditambah ia pula lemas sebab belum makan. Buaya itu kehilangan tenaga serta mati.

Pesan moral Buaya Yang Serakah

Pesan moral serta pelajaran yang dapat kita ambil merupakan jika kita telah menerima apapun walaupun kecil ataupun walaupun sedikit berterimakasihlah serta bersyukurlah dengan apa yang telah kita dapat.

Ya cukup sekian pembahasan mengenai cerita fabel, semoga dengan adanya artikel ini bisa menambah wawasan bagi sahabat-sahabatku semuanya, Terimakasih.

Tinggalkan komentar